Sampit (Antara Kalteng)  - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sedang mempersiapkan pencetakan rekor Museum Rekor Indonesia atau Muri untuk kategori terbanyak peserta makan ikan jelawat.

"Rencananya dilaksanakan pada 21 Februari 2014 nanti dengan peserta ditargetkan sebanyak 3.500 orang. Semua sedang dipersiapkan, khususnya pasokan ikan jelawatnya," kata Asisten I Setda Kotim Sugian Noor di Sampit, Senin.

Pemecahan rekor Muri untuk peserta terbanyak makan ikan jelawat ini sebagai bagian dari promosi wisata daerah ini. Sebelumnya, Kotim juga telah mendapatkan tiga penghargaan Muri yaitu kategori peserta terbanyak tari giring-giring, makan pentol bakso dan makan nanas.

Kegiatan ini merupakan rangkaian peresmian ikon Kota Sampit yang mengusung patung ikan jelawat sebagai maskot daerah ini. Pemerintahan Bupati Supian Hadi dan Wakil Bupati HM Taufiq Mukri ingin kembali mempopulerkan ikan jelawat sebagai maskot daerah ini karena sudah lama tidak terdengar gaungnya sejak diusung pada puluhan tahun silam.

Ikon Kota Sampit dibangun di bantaran Sungai Mentaya dengan patung jelawat sebagai objek utama. Patung ikan berukuran besar itu nantinya menyeburkan air dari mulut mengarah ke sungai, sedangkan di sekitarnya terdapat berbagai fasilitas rekreasi keluarga. Di kawasan itu juga disediakan pusat kuliner khas sawit, sedangkan di kolong bangunan ikon tersebut dijadikan dermaga penyeberangan.

Saat ini persiapan pencetakan rekor Muri makan ikan jelawat dengan peserta terbanyak tersebut terus dilakukan. Panitia memastikan ikan yang rasanya enak itu akan tersedia pasokannya untuk keperluan acara tersebut.

"Kami terus melakukan berbagai persiapan, baik itu persiapan ikan jelawat maupun peserta yang akan dilibatkan dalam acara ini. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat berjalan dengan baik," harap Sugian Noor.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kotim, Jakatan, mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membantu kelancaran acara tersebut. Dia meyakinkan pasokan ikan jelawat untuk acara itu akan terpenuhi.

"Saat ini sudah banyak masyarakat yang membudidayakan ikan jelawat. Kami yakin kebutuhan ikan jelawat untuk acara itu akan terpenuhi. Kita harus mendukung karena ini juga bagian dari promosi daerah," ujar Jakatan.

Sementara itu, Bupati H Supian Hadi mengatakan, keputusannya untuk mempopulerkan jelawat sebagai ikon daerah karena yakin langkah ini akan membawa dampak positif, terlebih bagi program menjadikan Sampit sebagai kota tujuan wisata. Dia mengetahui bahwa ikan jelawat sebagai maskot daerah ini setelah menemukan lukisan tua yang dibuat tahun 1972 di rumah jabatan yang ternyata merupakan juara lomba lukis ikon Kotim yang mengusung ikan jelawat sebagai maskot daerah.



(T.KR-NJI/B/N005/N005)