Jangan asal memadupadankan kain batik sebelum paham arti motifnya
Selasa, 2 Oktober 2018 15:32 WIB
Sejumlah perajin membuat batik di Jotangan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Jakarta (Antaranews Kalteng) - Motif pada sehelai kain batik menyimpan makna tersendiri. Ada doa dan harapan yang terkandung di dalamnya sehingga untuk jenis tertentu dianggap sakral.
Batik kini tak lagi dipandang sebagai busana formal. Banyak yang mengenakannya untuk pakaian sehari-hari.
Motif batik pun ada beragam, bahkan jumlahnya mencapai ribuan. Sayangnya, tidak semua orang paham dengan makna yang terkandung pada motif batik.
Era Soekamto, desainer dan juga creative director dari Iwan Tirta Private Collection mengatakan bahwa sebaiknya pahami dulu motif pada kain batik sebelum berusaha untuk memadupadankannya dengan busana lain.
"Pertama kita harus mengerti dulu motifnya. Karena kita kebiasaan ngelihat hanya dari luar saja, enggak tahu kapan menggunakannya, misalnya Parang enggak boleh dipakai di Keraton karena yang boleh pakai itu cuma raja saja," ungkap Era saat berbincang usai peluncuran Barbie Batik Kirana di Jakarta hari ini.
"Kita harus ngerti artinya juga, biar bisa diceritakan juga kan ke yang lain," lanjut dia.
Masih menurut Era, tabrak warna pada batik boleh dilakukan. Asalkan, saat Anda ingin membuat busana dari kain batik, jangan pernah sembarangan memotong motif karena akan merusak makna.
"Kalau padupadan bebas saja. Tapi kayak Parang, ada motif lereng-lerengnya, itu jangan dipotong horizontal. Batik itu ada doanya. Karena batik itu seni sakral. Tabrak warna sih sah-sah saja," tutup Era.
Batik kini tak lagi dipandang sebagai busana formal. Banyak yang mengenakannya untuk pakaian sehari-hari.
Motif batik pun ada beragam, bahkan jumlahnya mencapai ribuan. Sayangnya, tidak semua orang paham dengan makna yang terkandung pada motif batik.
Era Soekamto, desainer dan juga creative director dari Iwan Tirta Private Collection mengatakan bahwa sebaiknya pahami dulu motif pada kain batik sebelum berusaha untuk memadupadankannya dengan busana lain.
"Pertama kita harus mengerti dulu motifnya. Karena kita kebiasaan ngelihat hanya dari luar saja, enggak tahu kapan menggunakannya, misalnya Parang enggak boleh dipakai di Keraton karena yang boleh pakai itu cuma raja saja," ungkap Era saat berbincang usai peluncuran Barbie Batik Kirana di Jakarta hari ini.
"Kita harus ngerti artinya juga, biar bisa diceritakan juga kan ke yang lain," lanjut dia.
Masih menurut Era, tabrak warna pada batik boleh dilakukan. Asalkan, saat Anda ingin membuat busana dari kain batik, jangan pernah sembarangan memotong motif karena akan merusak makna.
"Kalau padupadan bebas saja. Tapi kayak Parang, ada motif lereng-lerengnya, itu jangan dipotong horizontal. Batik itu ada doanya. Karena batik itu seni sakral. Tabrak warna sih sah-sah saja," tutup Era.
Pewarta : Maria Cicilia
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dendam lama dan konflik keluarga jadi motif pembunuhan nenek di Pulang Pisau
13 September 2025 16:46 WIB
Tingkatkan daya saing, Pemkab serahkan sertifikat HAKI 10 motif batik khas Kobar
17 April 2025 16:20 WIB, 2025
Motif oknum prajurit TNI AL bunuh Jurnalis Kalsel karena tak mau nikahi korban
08 April 2025 20:01 WIB, 2025