Benarkah hipertensi sebabkan kerusakan ginjal?
Rabu, 13 Maret 2019 13:19 WIB
Ilustrasi - Pengukuran tekanan darah. (pixabay.com)
Jakarta (ANTARA) - Di antara sederet faktor risiko seseorang terkena penyakit ginjal, hipertensi adalah salah satunya, menurut Dokter spesialis ginjal dari PERNEFRI, dr. Aida Lydia, PhD., SpPD-KGH.
Menurut Aida, hipertensi mengganggu pembuluh darah ginjal (nefron) sehingga menyebabkan kerusakan filtrasi ginjal dan berakhir dengan terganggunya fungsi ginjal.
"Hipertensi menganggu pembuluh darah, terjadi kerusakan filtrasi dan lama-lama menganggu fungsi ginjal," ujar dia dalam konferensi pers "World Kidney Day 2019" di Jakarta, Rabu.
Baca juga: Cara aman menikmati kopi dan teh bagi penderita batu ginjal
Selain hipertensi, masalah ginjal juga disebabkan faktor lain seperti diabetes melitus, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang melakukan aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat.
Riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, usia tua juga menjadi faktor risiko seseorang terkena penyakit ginjal.
Penyakit ginjal pada awalnya tidak menunjukkan gejala khas sehingga sering terlambat diketahui. Untuk itu, penting untuk mengenali faktor risiko penyakit ini.
Baca juga: Apakah batu ginjal bisa dipecahkan dengan obat?
Saat ini diperkirakan sekitar 10 persen penduduk dunia menderita penyakit ginjal kronik dan prevalensi penyakit ini cenderung lebih tinggi di negara berkembang.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi PGK mencapai 3,8 persen atau naik 1,8 persen dari tahun 2013. Sementara survei PERNEFRI 2009 di empat area urban dan suburban memperlihatkan angka 12,5 persen.
"Lebih dari 20 ribu pasien belum mendapatkan akses pelayanan ginjal. Masih banyak yang datang terlambat, saat fungsi ginjal sangat menurun, sudah gagal ginjal," kata Aida.
Baca juga: Benarkah kumis kucing ampuh atasi batu ginjal?
Menurut Aida, hipertensi mengganggu pembuluh darah ginjal (nefron) sehingga menyebabkan kerusakan filtrasi ginjal dan berakhir dengan terganggunya fungsi ginjal.
"Hipertensi menganggu pembuluh darah, terjadi kerusakan filtrasi dan lama-lama menganggu fungsi ginjal," ujar dia dalam konferensi pers "World Kidney Day 2019" di Jakarta, Rabu.
Baca juga: Cara aman menikmati kopi dan teh bagi penderita batu ginjal
Selain hipertensi, masalah ginjal juga disebabkan faktor lain seperti diabetes melitus, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang melakukan aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat.
Riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, usia tua juga menjadi faktor risiko seseorang terkena penyakit ginjal.
Penyakit ginjal pada awalnya tidak menunjukkan gejala khas sehingga sering terlambat diketahui. Untuk itu, penting untuk mengenali faktor risiko penyakit ini.
Baca juga: Apakah batu ginjal bisa dipecahkan dengan obat?
Saat ini diperkirakan sekitar 10 persen penduduk dunia menderita penyakit ginjal kronik dan prevalensi penyakit ini cenderung lebih tinggi di negara berkembang.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi PGK mencapai 3,8 persen atau naik 1,8 persen dari tahun 2013. Sementara survei PERNEFRI 2009 di empat area urban dan suburban memperlihatkan angka 12,5 persen.
"Lebih dari 20 ribu pasien belum mendapatkan akses pelayanan ginjal. Masih banyak yang datang terlambat, saat fungsi ginjal sangat menurun, sudah gagal ginjal," kata Aida.
Baca juga: Benarkah kumis kucing ampuh atasi batu ginjal?
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Aspal rusak di Parenggean diuji laboratorium meski kerusakan jalan diperbaiki
26 January 2026 10:46 WIB
Kelebihan beban hingga pelat besi dicuri perparah kerusakan Jembatan Patah Sampit
21 January 2026 21:46 WIB
Legislator Kapuas minta PBS ikut bertanggung jawab perbaiki kerusakan jalan
10 January 2026 0:09 WIB
Terpopuler - Hiburan
Lihat Juga
Reza Rahadian ungkap ketertarikan perankan film bertema sosial dan kemanusiaan
07 May 2026 19:14 WIB