Temuan akar Bajakah dinilai untuk melawan kanker tahap awal
Kamis, 15 Agustus 2019 14:41 WIB
Ilustrasi (Shutterstock)
Jakarta (ANTARA) - Pakar medis dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Provinsi DKI Jakarta Venita berpendapat hasil temuan para siswa asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tentang akar tanaman Bajakah untuk melawan kanker payudara masih tahap awal untuk menjadi obat yang tersertifikasi.
"Yang saya tahu, proses untuk menjadi obat kanker tersertifikasi itu panjang sekali dan mahal. Mungkin Bajakah masih pada tahap yang sangat awal dan untuk dinyatakan efektif bagi (melawan) kanker (dan) masih banyak tahapan ilmiah yang perlu dilewati," kata Venita dalam pesan elektroniknya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Temuan akar tanaman Bajakah yang dipresentasikan dalam Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan, pada Juli, itu berupa bubuk teh sebagai obat penyembuh kanker payudara.
Tapi, Venita tidak menampik potensi akar itu sebagai obat kanker, karena telah banyak obat pelawan kanker berasal dari tumbuhan.
Baca juga: Gubernur patenkan temuan siswa SMA tentang obat kanker
"Tapi, tidak lantas karena penelitian kecil atau percobaan pada hewan, ataupun percobaan pada satu-dua orang, lantas langsung diputuskan tumbuhan tersebut pasti efektif untuk kanker," tuturnya.
Venita menyarankan pasien kanker tetap harus mengikuti standar pengobatan dan terapi sesuai bukti medis, antara lain pembedahan, kemoterapi dan radioterapi.
Sementara pengobatan yang bersifat suplemen atau herbal sebaiknya hanya menjadi komplemen.
"Kalaupun (Bajakah) mau dipakai pasien, pasien harus tetap mengikuti protokol pengobatan yang ada sesuai bukti medis dan yang bersifat suplemen atau herbal menjadi komplemen," katanya.
Venita berharap penemuan obat kanker akan semakin berkembang merujuk pada temuan awal tentang akar Bajakah itu.
Baca juga: 10 manfaat manggis untuk kesehatan, dari jantung hingga kanker
Baca juga: Perokok pasif 25 persen lebih berisiko kena kanker paru
Baca juga: Penyebab, jenis dan pengobatan kanker paru-paru
"Yang saya tahu, proses untuk menjadi obat kanker tersertifikasi itu panjang sekali dan mahal. Mungkin Bajakah masih pada tahap yang sangat awal dan untuk dinyatakan efektif bagi (melawan) kanker (dan) masih banyak tahapan ilmiah yang perlu dilewati," kata Venita dalam pesan elektroniknya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Temuan akar tanaman Bajakah yang dipresentasikan dalam Invention Creativity (WICO) di Seoul, Korea Selatan, pada Juli, itu berupa bubuk teh sebagai obat penyembuh kanker payudara.
Tapi, Venita tidak menampik potensi akar itu sebagai obat kanker, karena telah banyak obat pelawan kanker berasal dari tumbuhan.
Baca juga: Gubernur patenkan temuan siswa SMA tentang obat kanker
"Tapi, tidak lantas karena penelitian kecil atau percobaan pada hewan, ataupun percobaan pada satu-dua orang, lantas langsung diputuskan tumbuhan tersebut pasti efektif untuk kanker," tuturnya.
Venita menyarankan pasien kanker tetap harus mengikuti standar pengobatan dan terapi sesuai bukti medis, antara lain pembedahan, kemoterapi dan radioterapi.
Sementara pengobatan yang bersifat suplemen atau herbal sebaiknya hanya menjadi komplemen.
"Kalaupun (Bajakah) mau dipakai pasien, pasien harus tetap mengikuti protokol pengobatan yang ada sesuai bukti medis dan yang bersifat suplemen atau herbal menjadi komplemen," katanya.
Venita berharap penemuan obat kanker akan semakin berkembang merujuk pada temuan awal tentang akar Bajakah itu.
Baca juga: 10 manfaat manggis untuk kesehatan, dari jantung hingga kanker
Baca juga: Perokok pasif 25 persen lebih berisiko kena kanker paru
Baca juga: Penyebab, jenis dan pengobatan kanker paru-paru
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Riset potensi bajakah, Pelajar Kalteng harap beri manfaat bagi masyarakat
30 November 2025 23:46 WIB
Gubernur Kalteng raih Penghargaan Kepala Daerah Inovatif sektor pendidikan
07 November 2021 5:37 WIB, 2021
Dosen Farmasi UMP lakukan pendampingan pengolahan obat khas Kalteng
20 September 2019 15:25 WIB, 2019
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Kasus kekerasan seksual santriwati di Pati berlanjut, polisi layangkan panggilan kedua
06 May 2026 21:55 WIB
Siswa bobol sistem keamanan NASA asal Pinrang pilih lanjut pendidikan di Unhas
06 May 2026 15:08 WIB