Sampit (ANTARA) - Suasana haru dan gembira mewarnai penyambutan jamaah haji asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang akhirnya tiba di tanah air setelah melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci, Mekkah, selama kurang lebih 40 hari.
“Selamat datang dan selamat berkumpul berkumpul bersama keluarga kepada para jamaah haji. Semoga menjadi haji yang mabrur dan mabruroh,” ucap Bupati Kotim Halikinnor yang memimpin penyambutan jamaah haji di Bandara Haji Asan Sampit, Rabu.
Penyambutan jamaah haji Kotim ini turut dihadiri oleh Ketua DPRD Kotim Rimbun, Kapolres Kotim Resky Maulana Zulkarnain, Kepala Kantor Kemenag Kotim Nur Widiantoro, dan perwakilan forum koordinasi pimpinan daerah (FKPD) lainnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kotim Irawati dan Wakil Ketua II DPRD Kotim Rudianur yang menjemput para jamaah dari embarkasi Banjarmasin tampak di antara rombongan yang turun dari pesawat.
Halikinnor mengungkapkan rasa syukur dan bangga karena seluruh rangkaian ibadah haji tahun ini dapat dilalui dengan lancar oleh para jamaah asal Kotim. Selain itu, berdasarkan laporan panitia, secara umum kesehatan jamaah dalam kondisi yang baik.
Namun, ia juga menyampaikan bela sungkawa atas meninggalkan seorang jamaah lanjut usia (lansia) karena sakit dan berdoa agar almarhum mendapat tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Hanya satu orang yang meninggal dunia dan kita doakan yang terbaik untuk almarhum, selain itu secara umum kondisi para jamaah cukup baik, walaupun ada yang mengeluhkan sakit mata dan flu tapi itu penyakit ringan saja mungkin karena kelelahan,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Halikinnor berpesan kepada para jamaah haji agar menjadi contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat, khususnya di lingkungan masing-masing.
Baca juga: Pemprov Kalteng tindak lanjuti aduan terkait dugaan pencemaran lingkungan
Ia menyebut, ibadah haji sebagai perjalanan rohani yang sangat sakral bagi umat Islam. Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Mekah, tetapi juga sebuah pengalaman spiritual yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperdalam keimanan, dan mencari pengampunan dosa.
Selain itu, menurutnya tidak sembarang orang bisa melaksanakan ibadah haji, melainkan orang-orang yang memang mendapat panggilan dan keridhaan dari Allah saja yang bisa.
“Walau orang itu sehat, punya uang dan waktu tetapi belum tentu dia bisa melaksanakan ibadah haji. Makanya, jamaah haji ini bisa dibilang orang-orang pilihan dan kami berharap mereka bisa menjadi teladan yang baik bagi masyarakat,” demikian Halikinnor.
Salah seorang jamaah haji, Sutoyo mengaku terharu bisa kembali ke kampung halaman dan berkumpul lagi bersama keluarga. Terlebih, ia merasa senang telah menunaikan ibadah haji setelah berada di daftar tunggu haji selama kurang lebih 12 tahun.
“Ini tentu menjadi motivasi kami untuk lebih memperbaiki akhlak dan perilaku dibanding sebelumnya. Kami juga ingin memotivasi keluarga, terutama yang muda agar bisa mendaftar haji lebih awal karena ibadah haji ini mengutamakan fisik dan kalau sudah sepuh sangat melelahkan,” ucapnya.
Disamping itu, Sutoyo mengapresiasi pemerintah daerah dan Kemenag selaku pihak penyelenggara ibadah haji. Menurutnya, penyelenggaraan ibadah haji tahun ini secara umum sudah cukup baik dan para jamaah dapat melalui rangkaian ibadah dengan lancar.
Kendati demikian, ia memberikan masukan agar penyelenggaraan ibadah haji berikutnya bisa lebih baik, yakni dengan menambah atau memisahkan fasilitas toilet maupun kamar mandi wanita dan laki-laki.
“Karena jamaah wanita itu umumnya dalam menggunakan kamar mandi lebih lama dibanding laki-laki, sehingga perlu ada peningkatan dari segi fasilitas tersebut, tetapi secara umum sudah cukup bagus,” pungkasnya.
Baca juga: KONI Kotim segera pilih ketua baru melalui Musorkablub
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Daerah, Rihel menyampaikan sebelum tiba di Sampit, jamaah haji Kotim yang masuk pada Kloter 06 BDJ terlebih dahulu transit di Embarkasi Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada Selasa (24/5) malam.
“Kemudian, pagi ini para jamaah diberangkatkan dari Embarkasi Banjarmasin ke Bandara Haji Asan Sampit yang dibagi menjadi dua kali penerbangan karena pesawat yang kita sewa tidak mampu untuk mengangkut semuanya sekaligus,” ujarnya.
Ia melanjutkan, sama halnya ketika pemberangkatan, dalam pemulangan jamaah haji ini Pemkab Kotim juga menyewa pesawat untuk membawa para jamaah dari Embarkasi Banjarmasin yang dibagi dalam dua kali penerbangan.
Penerbangan pertama tiba di Bandara Haji Asan Sampit pada pukul 10:25 WIB, sedangkan untuk penerbangan kedua tiba pukul 13:00 WIB.
Jumlah jamaah haji Kotim yang kembali ke tanah air berkurang satu orang dari yang diberangkatkan, yakni dari 216 menjadi 215 jamaah, lantaran ada satu jamaah yang meninggal dunia di Mekkah.
Jamaah yang meninggal dunia tersebut bernama Ramlah, berusia 72 tahun. Almarhum dikabarkan meninggal dunia di penginapan di Mekkah, akibat serangan jantung. Almarhum meninggal setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.
“Adapun untuk jenazah almarhum langsung dimakamkan di Mekkah, karena kalau dipulangkan ke Indonesia tentu membutuhkan biaya yang besar dan prosesnya juga panjang,” sebutnya.
Rihel menambahkan, secara umum kondisi kesehatan para jamaah setibanya di tanah air cukup baik. Walaupun, beberapa mengaku mengalami flu, batuk dan bibir pecah-pecah namun hal itu murni disebabkan pengaruh cuaca, bukan infeksi virus tertentu.
“Sama seperti ketika pemberangkatan, ada tujuh jamaah yang menggunakan kursi roda dan rata-rata merupakan lansia, tapi secara umum mereka sehat cuma ketika perjalanan pulang mengalami batuk dan pilek akibat perbedaan cuaca di negara kita dengan di Mekkah,” demikian Rihel.
Baca juga: Pemkab Kotim kaji penerapan fleksibilitas kerja ASN
Baca juga: Pemkab Kotim kaji penerapan fleksibilitas kerja ASN
Baca juga: Pemkab Kotim tunggu keputusan pemilik untuk pembebasan lahan bandara