Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah memprediksikan awal musim kemarau di wilayah setempat terjadi pada Februari atau Maret 2026 seiring dengan menurunnya curah hujan.

“Karena bulan-bulan sebelumnya kita sudah mengalami musim hujan yang cukup panjang, sehingga mungkin untuk beberapa minggu ke depan curah hujan berangsur-angsur menurun dan kita akan mulai memasuki musim kemarau sekitar Februari hingga Maret,” kata Prakirawan BMKG Kotim Rizaldo Raditya Pratama di Sampit, Senin.

Ia menjelaskan, saat ini Kotim sedang berada pada fase peralihan atau transisi dari musim hujan ke musim kemarau yang ditandai dengan menurunnya curah hujan. Setelah itu, Kotim diproyeksikan memasuki musim kemarau yang dimulai pada Februari atau Maret mendatang. 

Namun terkait dengan durasi musim kemarau tahun ini, Rizaldo menyebutkan, jika BMKG akan menyampaikannya secara bertahap melalui kanal resmi, seiring dengan pembaruan data cuaca.

“Untuk lama masa musim kemarau belum bisa kami rilis sekarang, nanti akan disampaikan melalui situs resmi BMKG secara berkala. Jika ada pembaruan atau update, akan kami rilis di situs resmi BMKG,” sebutnya.

Baca juga: Pemerintah desa di Kotim diimbau lebih bijak sikapi penurunan Dana Desa

Ia melanjutkan, durasi atau lama waktu musim kemarau dipengaruhi oleh banyak faktor. Seperti 2025, musim kemarau tergolong cukup singkat akibat ada beberapa fenomena alam, salah satunya La Nina yang membuat suplai uap air untuk pembentukan awan sangat tinggi.

Seiring dengan menurunnya curah hujan dan kondisi wilayah yang mulai mengering, BMKG Kotim mendeteksi adanya peningkatan jumlah titik panas atau hotspot. 

Contohnya, pada Minggu (18/1), terdeteksi ada 10 hotspot di wilayah Kotim yang tersebar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Antang Kalang sembilan hotspot dan Mentaya Hilir Utara satu hotspot.

Hal ini diharapkan menjadi perhatian masyarakat agar dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi terjadinya kebakaran, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kendati, ia menegaskan munculnya hotspot bukan menjadi penanda jika di titik itu telah terjadi karhutla. Hotspot muncul karena lokasi di permukaan bumi yang terdeteksi oleh satelit memiliki suhu lebih tinggi dari sekitarnya, sehingga menjadi indikator awal terjadinya karhutla.

“Munculnya hotspot ini bukan berarti di titik itu ada karhutla, namun sebagai indikator awal,” ujar Rizaldo.

Ia menambahkan, dengan menurunnya intensitas hujan, lahan-lahan di Kotim yang didominasi gambut, menjadi semakin kering hingga ke bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat lahan sangat rawan terbakar ketika ada pemicu sekecil apa pun.

Kerawanan terjadinya karhutla ini dipengaruhi kondisi daerah resapan, ketebalan tanah, serta struktur bebatuan di suatu wilayah. untuk itu masyarakat diimbau, untuk tidak melakukan aktivitas yang memicu terjadinya karhutla.

“Karena curah hujan mulai menurun, pemicu sekecil apa pun bisa menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati,” demikian Rizaldo.

Baca juga: Rute DAMRI arah utara Kotim diperpanjang hingga Telaga Antang

Baca juga: Pengadilan Negeri Sampit tangani 1.142 perkara sepanjang 2025

Baca juga: DPRD minta Pemkot Palangka Raya kembangkan bahan baku lokal