Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah Halikinnor melakukan peluncuran (launching) kelotok (perahu motor) susur sungai Pulau Hanibung sebagai langkah strategis memajukan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
“Hari ini, kami melaksanakan launching kelotok susur sungai Pulau Hanibung. Ini bukan sekadar peluncuran sarana transportasi air, tetapi merupakan langkah strategis dalam mendukung konektivitas wilayah, pengembangan potensi wisata lokal,” kata Halikinnor di Kota Besi, Minggu.
Peluncuran ini menjadi puncak rangkaian acara yang memadukan semangat hidup sehat dan kepedulian sosial, mencakup jalan sehat, sunatan massal, hingga pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat yang berlokasi di Kecamatan Kota Besi.
Halikinnor menjelaskan, kehadiran sarana transportasi air ini bukan sekadar alat angkut, melainkan upaya menghidupkan kembali identitas sungai yang menjadi urat nadi sejarah Kotawaringin Timur.
Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mendukung konektivitas wilayah, pengembangan potensi wisata lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal.
Ia menyebut, sungai adalah bagian dari identitas dan sejarah Kotawaringin Timur. Melalui program susur sungai ini, pihaknya ingin menghidupkan kembali fungsi sungai sebagai jalur transportasi, sarana wisata edukatif, serta ruang interaksi sosial dan ekonomi masyarakat.
“Saya berharap, kehadiran kelotok susur sungai Pulau Hanibung ini dapat dikelola secara berkelanjutan, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, sekaligus menjadi daya tarik wisata baru yang membanggakan daerah kita,” tuturnya.
Selain sektor wisata, Halikinnor menekankan pentingnya pelayanan kesehatan yang inklusif. Baginya, sunatan massal dan pengobatan gratis adalah bukti nyata kehadiran pemerintah daerah di tengah kesulitan warga.
Ia berharap seluruh fasilitas kesehatan dan transportasi yang disediakan dapat dikelola secara berkelanjutan agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat luas.
“Sungai adalah bagian dari identitas dan sejarah kita. Melalui program susur sungai ini, kita ingin menghidupkan kembali fungsi sungai sebagai jalur transportasi dan sarana wisata edukatif,” tambahnya.
Orang nomor satu di Kotim ini pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kebersamaan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap potensi daerah.
Pemkab Kotim juga akan terus berkomitmen menghadirkan program-program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
“Mari jadikan kegiatan hari ini sebagai momentum untuk terus memperkuat kebersamaan, meningkatkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan semangat hidup sehat dan cinta terhadap potensi daerah,” demikian Halikinnor.
Baca juga: Penjabat Sekda Kotim dorong OPD manfaatkan potensi kerja sama dengan PBS
Sementara itu, rencana pengembangan Pulau Hanibung sebagai objek wisata ini sudah masuk dalam 14 Program Prioritas Bupati dan Wakil Bupati Kotim dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029.
Pengembangan Pulau Hanibung sebagai objek wisata ini ditargetkan selesai pada 2029 mendatang. Tahapan saat ini baru sampai pada pembentukan tim khusus melibatkan sejumlah OPD, untuk pembagian tugas sesuai kewenangan masing-masing.
Pengembangan Pulau Hanibung tidak akan sepenuhnya bergantung pada anggaran daerah. Pemerintah kabupaten telah menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak, termasuk Bapperida Provinsi Kalimantan Tengah, Universitas Palangka Raya, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk mendukung rencana tersebut melalui riset dan pendanaan alternatif.
Pulau Hanibung masuk wilayah hulu Desa Camba, Kecamatan Kota Besi. Pulau seluas 260 hektare yang masih alami ini terdapat banyak flora dan fauna.
Berdasarkan survei tersebut potensi flora yang ditemukan di Pulau Hanibung antara lain, papuri, jambu burung, ubar, ubar putih, gentalang atau manggis hutan, pempaning, ficus, jambu, pelawi, rungun, kakapas, banitan, rengas,jangkit, kumpang, gelam, gelam tikus, halaba, tabulus, tababuluh, pelawan, sepakau, seraka, rawa, katari, bengkirai dan ulin.
Kemudian potensi fauna mulai dari primata ada orang utan, bekantan, lutung hitam, monyet ekor panjang. Aneka burung seperti rangkong, elang brontok, elang bondol, kengkareng dada putih, jalak kerbau, burak, burung hantu, bubut, pempulu, kacer, cucak ijo, murai atau tinjau, tiung mas dan punai.
Lalu, berbagai jenis ikan di antaranya hiu kalimantan, parang-parang, lais bamban, lawang, baung, pari air tawar, baga-baga, papuntin, patin, pipih atau belida, gabus, kelabau, sanggang, papuyu atau betok, kapar, seluang, kaloi atau gurame, udang galah, keringau, mangki, masau, sidat dan tapah.
Selain itu, ada pula berbagai jenis reptil seperti buaya muara, biawak, ular piton, king kobra, labi-labi, biuku dan ular welang.
Baca juga: Legislator Kotim dukung penambahan puskesmas di Ketapang
Baca juga: Tim BPK audit 152 kendaraan dinas Pemkab Kotim
Baca juga: Tumpukan sampah di PPM Sampit akhirnya dibersihkan