Jakarta (ANTARA) - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi Amalia Indah Permata, M.Psi., Psikolog mengatakan anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibanding saudara sulung dan bungsu karena posisi mereka di dalam struktur keluarga.

“Anak tengah berisiko merasa mendapat perlakuan berbeda dari kakak dan adik. Kakak dan adik seolah memiliki peran yang lebih jelas, si sulung dan si bungsu, dibanding dirinya sehingga merasa keduanya lebih diperhatikan oleh orang tua,” katanya saat dihubungi ANTARA, Rabu (11/2).

Menurut psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut, dalam banyak kasus kakak dan adik memiliki peran yang lebih jelas di mata orang tua, sehingga anak tengah kerap merasa kurang terlihat dan kurang diperhatikan.

Ia menjelaskan kondisi psikologis tersebut dapat diterangkan melalui teori urutan kelahiran atau birth order yang dikemukakan Alfred Adler. Dalam teori itu, anak tengah disebut lebih berisiko mengalami perasaan terabaikan dan tidak spesial.

“Adler mengungkapkan bahwa anak tengah berisiko mengalami perasaan terabaikan dan tidak spesial sehingga membuatnya merasa tidak terlihat dan harga diri cenderung rendah. Anak tengah juga sudah terpaksa berbagi dengan lebih dari satu orang sejak kecil, yang berisiko menimbulkan rasa membandingkan, ketidakadilan, dan kecemburuan,” ujarnya.

Pembahasan tentang posisi anak tengah kembali ramai setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, mencuat dan pelaku diketahui merupakan anak tengah yang diduga menyimpan rasa diperlakukan tidak adil di rumah. Di media sosial, banyak warganet kemudian membagikan pengalaman serupa tentang perasaan diabaikan dalam keluarga.

Amalia juga menambahkan sejumlah penelitian menemukan tingkat kebahagiaan dan harga diri anak tengah cenderung lebih rendah dibanding anak sulung dan bungsu. Anak tengah juga disebut lebih sering merasa kurang dekat dengan keluarga sehingga terdorong mencari identitas di luar rumah.

Meski demikian, Amalia menekankan urutan kelahiran bukan faktor penentu tunggal dalam pembentukan kepribadian anak. Persepsi subjektif anak dan pola asuh orang tua tetap memegang peran penting.

“Pengaruh birth order tidak selalu konsisten karena banyak faktor lain yang terlibat seperti pola asuh orang tua, kondisi psikologis orang tua, jenis kelamin, jarak usia, serta latar belakang budaya dan keluarga,” katanya.