Kuala Kurun (ANTARA) - Tradisi ziarah makam pada malam Paskah di Desa Dahian Tambuk, Kecamatan Mihing Raya, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, tak sekadar menjadi momen spiritual bagi umat Kristiani.
Lebih dari itu, kegiatan ini telah berkembang menjadi wadah silaturahmi yang hangat antarumat beragama, kata Kepala Desa Dahian Tambuk Pendi saat dihubungi dari Kuala Kurun, Senin.
“Ratusan warga memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dahian sejak Sabtu (4/4) sore hingga dini hari Minggu (5/4). Mereka datang dengan tujuan yang sama, mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang telah berpulang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir ziarah makam di malam Paskah di Dahian Tambuk sudah berkembang menjadi ajang silaturahmi lintas agama. Tidak hanya umat Kristiani, warga dari agama lain juga ikut datang dan berbaur.
Dahian Tambuk sendiri dihuni oleh 394 kepala keluarga, dengan mayoritas beragama Kristen Protestan. Meski demikian, kehidupan toleransi di desa ini terjalin erat dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Hal tersebut tercermin dari kondisi TPU desa yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi puluhan makam dari berbagai latar belakang agama, mulai dari Kristen, Muslim, hingga Hindu Kaharingan. Semuanya berada dalam satu kawasan yang sama.
Baca juga: 135 pelajar daftar seleksi Paskibraka Gunung Mas 2026
Dalam pelaksanaan ziarah, umat Kristiani melakukan berbagai kegiatan seperti membersihkan makam, menabur bunga, menyalakan lilin, hingga memanjatkan doa. Aktivitas ini berlangsung khidmat sejak sore hari hingga larut malam.
Namun yang membuat suasana semakin istimewa, kehadiran warga dari agama lain yang turut merawat makam keluarga mereka. Di sela-sela kegiatan, warga saling menyapa, berbincang, dan menukar kabar, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.
“Toleransi di sini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Momentum seperti ini semakin mempererat hubungan antarwarga,” tambah Pendi.
Ziarah makam di malam Paskah di Dahian Tambuk menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat, melainkan jembatan yang mempererat hubungan antarumat beragama.
Lebih lanjut, pada perayaan tahun ini, ziarah makam juga diisi dengan ibadah malam Paskah yang dilaksanakan oleh Gereja Kalimantan Evangelis (GKE).
Ke depan, Pemerintah Desa Dahian Tambuk berencana menggelar ibadah malam Paskah secara oikumene yang melibatkan berbagai denominasi gereja, seperti GKE, Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT), Gereja Bethel Indonesia (GBI), dan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI).
Ia berharap tradisi yang telah terjaga selama bertahun-tahun ini dapat terus dilestarikan, sebagai simbol kerukunan dan persaudaraan di tengah keberagaman.
“Ini bukan hanya tentang mengenang yang telah tiada, tapi juga tentang merawat persaudaraan di antara kita yang masih hidup,” demikian Pendi.
Baca juga: Polres Gumas siagakan 77 personel amankan rangkaian Paskah
Baca juga: Ketua Forum Genre Gumas nilai PP Tunas lindungi anak di ruang digital
Baca juga: Polres Gumas tingkatkan patroli di objek wisata cegah gangguan kamtibmas