Kuala Kurun (ANTARA) - Ketua DPRD Kabupaten Gunung Mas, Binartha, meminta Pertamina memaksimalkan keberadaan Pertashop untuk membantu memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), terutama bagi warga di wilayah yang jauh dari SPBU.

“Keberadaan Pertashop sangat strategis untuk memperluas akses distribusi BBM, mengingat saat ini jumlah SPBU di Gumas terbilang minim,” sambungnya usai mengikuti rapat terkait BBM secara hybrid, Senin.

Diketahui, Gumas hanya memiliki tiga SPBU yang mendapat pasokan dari Pertamina. Tiga SPBU tersebut tersebar di dua kecamatan, yakni dua unit di Kecamatan Kurun dan satu unit di Kecamatan Sepang.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat di wilayah lain harus menempuh jarak cukup jauh untuk memperoleh BBM. Akibatnya di Gumas keberadaan pedagang eceran BBM masih diperlukan.

Hanya saja dalam beberapa waktu terakhir kuota BBM untuk Gumas tidak stabil sehingga membuat harga di tingkat eceran melambung tinggi. Oleh sebab itu, ia meminta Pertamina untuk memaksimalkan keberadaan belasan Pertashop yang ada di wilayah setempat.

Ia menilai optimalisasi Pertashop dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengecer, sekaligus membantu menekan lonjakan harga di tingkat eceran.

Selain itu, pria kelahiran Kelurahan Tumbang Talaken, Kecamatan Manuhing ini juga mendorong pemerintah daerah untuk menata penjualan Pertalite di tingkat pengecer, agar distribusi lebih tertib.

Namun, kebijakan tersebut diharapkan tetap mempertimbangkan kondisi geografis Gumas, khususnya daerah terpencil yang masih bergantung pada penjualan eceran.

Baca juga: Empat calon Paskibraka asal Gumas lolos seleksi tingkat provinsi

Ia juga mendorong pemerintah daerah segera mengambil langkah strategis untuk mengendalikan harga BBM di tingkat eceran. Menurutnya, jika lonjakan harga saat ini tidak segera dibatasi, dikhawatirkan harga akan sulit kembali normal meski pasokan nantinya telah stabil.

“DPRD Gunung Mas berharap sinergi pemerintah daerah, Pertamina, dan seluruh pihak terkait dapat mempercepat normalisasi distribusi BBM, sehingga kebutuhan warga terpenuhi dan harga kembali wajar,” kata Binartha.

Sebelumnya, Pemkab Gumas meminta Pertamina menambah kuota BBM guna menormalkan distribusi serta harga di tingkat eceran di wilayah setempat.

Sekretaris Daerah Gumas Richard usai memimpin rapat di Kuala Kurun, Senin (11/5), mengatakan stok BBM untuk kabupaten setempat mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga memicu antrean panjang masyarakat di SPBU.

“Berdasarkan pantauan perangkat daerah terkait, harga BBM di tingkat eceran dinilai sudah tidak wajar. Bahkan kabar yang kami dapat Pertamax tembus Rp35 ribu per liter,” ungkapnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemkab Gumas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar rapat bersama perwakilan Pertamina dan pengelola SPBU di Kuala Kurun secara hybrid.

Dari hasil rapat, perwakilan Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas kondisi yang terjadi, sekaligus memastikan akan memberi perhatian serius bagi Gumas.

Menurut perwakilan Pertamina, kuota Pertalite sehari untuk tiga SPBU yang ada di Gumas sebanyak 15 kiloliter, Bio Solar 1 kl. Sedangkan produk bahan bakar khusus yakni Pertamax dan Dexlite menyesuaikan permintaan dari SPBU.

Stok Pertamax secara nasional terpengaruh kondisi geopolitik, sehingga perlu ada penyesuaian. Namun perwakilan Pertamina Kalteng tidak patah semangat dan tetap meminta pusat agar memberi perhatian khusus kepada daerah setempat.

Pertamina juga akan memaksimalkan keberadaan belasan Pertashop yang tersebar di sejumlah desa/kelurahan wilayah Gumas, yang selama ini ada penyesuaian terkait penyaluran Pertamax.

Baca juga: Perkemahan Tamu Ambalan wadah strategis pembentukan karakter remaja

Baca juga: TP PKK Gumas perkuat pemenuhan gizi anak di Rungan Barat

Baca juga: Banjir di Kampuri sempat hambat arus lalu lintas Gumas-Palangka