Logo Header Antaranews Kalteng

Kader NU Diminta Bantu Umat Islam Tolikara

Senin, 20 Juli 2015 14:40 WIB
Image Print
Nahdhlatul Ulama (Istimewa)

Jakarta (Antara Kalteng) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengatakan telah meminta para kader NU di Kabupaten Tolikara, Papua, untuk membantu umat Islam di daerah itu.

"Bantuan tersebut bertujuan untuk memulihkan perasaan masyarakat muslim setempat, terutama dari trauma dan takut, serta membantu dalam proses pemulihan situasi dan kondisi," kata Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf ketika dihubungi Antara di Jakarta, Senin pagi.

Pihaknya tidak akan mengerahkan simpatisan ke lokasi insiden kekerasan massa yang terjadi di Kabupaten Tolikara itu.

"Kami tidak menggerakkan orang untuk ke sana karena di Tolikara sudah ada kader NU yang berasal dari pondok pesantren di Tolikara," katanya.

Terkait dengan upaya mediasi untuk dialog yang akan dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pada Senin (20/7) dan Selasa (21/7), Slamet Effendy meminta pemerintah melalui Kemendagri untuk menegur Bupati Tolikara atas insiden yang terjadi.

Dia berpendapat bahwa seorang bupati seharusnya memiliki tanggung jawab memelihara kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi kesatuan bangsa dan negara.

Pada Jumat (17/7) pukul 07.00 WIT, bertepatan dengan Idul Fitri 1 Syawal 1436 Hijriah, sekelompok massa yang diduga berasal dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) ditengarai menyerang sekelompok umat muslim yang sedang shalat Idul Fitri di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua.

Menurut Slamet Effendy yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, tindakan tersebut merupakan aksi nyata dari kelompok tertentu yang disesalkan karena merusak iklim kerukunan yang selama ini dibina, khususnya umat Islam dan Kristen.

Dia juga berpendapat bahwa tindakan itu bukan spontanitas, melainkan terencana dari kelompok tertentu yang melarang kegiatan shalat Id, padahal tidak ada otoritas apapun yang melarang penyelenggaraannya.

"Sudah jelas dan berdasarkan Pancasila bahwa tidak ada satu daerah pun di Indonesia yang melarang melaksanakan ibadah suatu umat agama," kata Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor 1985-1995 itu.

Slamet Effendy juga mengimbau kepada umat muslim di seluruh Indonesia untuk menahan diri dan memberi kepercayaan penuh terhadap aparat keamanan dalam menangani masalah tersebut.

"Ini memang sangat menyakitkan umat Islam, tapi jangan sampai terpancing, apalagi melakukan pembalasan. Jangan sampai kebrutalan dibalas kebrutalan karena agama manapun melarangnya," ucapnya.



Pewarta :
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026