
Transportasi Terkendala Karena Debit Air Sungai Surut

Air sungai kita sekarang ini merupakan air sisa resapan dari perbukitan di daerah hulu,"
Kuala Pembuang (Antara Kalteng) - Transportasi sungai di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah terkendala karena berkurangnya debit air akibat musim kemarau yang terjadi sejak dua bulan terakhir.
"Dengan menurunnya debit air, maka transportasi sungai menjadi terkendala, terutama menuju daerah ke aliran hulu yang kini menjadi dangkal," kata Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Seruyan Agus Setiyadi di Kuala Pembuabg, Rabu.
Menurunnya debit air sungai di daerah hulu karena sumber-sumber air dari anak sungai serta percabangan sungai mengering, sehingga air yang mengalir ke aliran sungai induk hanya berupa air resapan dari perbukitan yang ada di daerah hulu.
"Air sungai kita sekarang ini merupakan air sisa resapan dari perbukitan di daerah hulu," katanya.
Ia menambahkan, menurutnya debit air sungai juga dimungkinkan terjadi karena ada proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di hulu Sungai Seruyan.
"Bisa saja pembangunan pembangkit listrik tenaga air ini mengurangi suplay air sungai, karena aliran air dari cabang-cabang sungai ini dibendung, akan tetapi yang menjadi faktor utama adalah musim kemarau yang cukup panjang melanda wilayah Seruyan," katanya.
Menurutnya, dengan kondisi alam sekarang tidak ada yang dapat dilakukan selain menunggu hujan turun agar dapat menaikkan debit air sungai sehingga jalur transportasi sungai dapat kembali normal.
"Kita hanya berharap agar hujan segera turun sehingga kondisi sungai kembali normal," katanya.
Sementara Santri (47), salah seorang warga Desa Muara Dua, Kecamatan Seruyan Hilir, mengatakan, saat ini warga setempat tidak bisa menggunakan jasa transportasi sungai naik ke daerah hulu.
"Karena terkendalanya transportasi sungai menuju daerah hulu, terpaksa kami harus lewat darat dengan cara menyewa mobil dengan biaya yang lebih mahal daripada transpoetasi sungai," katanya.
Pewarta : Fahrian Adriannoor
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
