Mengupas Tren Implan Payudara di Kalangan Perempuan

id Tren, Implan Payudara, Perempuan

Mengupas Tren Implan Payudara di Kalangan Perempuan

Salah satu bentuk implan payudara. (novini.bg)

Jakarta (Antara Kalteng) - Di antara berbagai prosedur mempercantik diri, menggunakan implan payudara saat ini cenderung digemari kaum hawa terutama di Asia, ungkap spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik, dr Aditya Sastrasupena SpBP-RE. 

"Implan payudara (urutan) nomor satu. Mungkin karena rata-rata (payudara) orang Asia kecil-kecil," ujar dia, di Jakarta, Rabu. 

Sekalipun prosedur ini aman, namun dia mengatakan, tetap ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan pasien dan dokter, salah satunya bila tubuh menolak implan. 

"Komplikasi lebih tinggi, karena memasukkan benda asing dalam tubuh. Mekanisme tubuh bisa saja menolak implan, sehingga berusaha mengeluarkan implan. Ini tergantung grade-nya, kalau grade 1 tidak terasa apa-apa, kalau grade 4 bisa timbulkan nyeri," tutur dia. 

Bila hal ini terjadi, dokter akan mengeluarkan implan agar tubuh bisa beristirahat beberapa saat lalu memasukkan implan baru. 

Dia mengatakan, implan payudara biasanya masa kadaluwarsa 10-15 tahun. Kala sudah melebihi masa pakai maka warna dan teksturnya akan berubah sehingga perlu diganti. 

Selain implan payudara, saat ini terdapat beragam cara untuk membantu memperbaiki bentuk tubuh atau body countouring. Prosedur ini terbagi atas dua metode utama yakni invasif dan non-invasif yang masing-masing memiliki persyaratan. 

Metode invasif antara lain berupa liposuction dan pembedahan, di antaranya body liftbreast liftarm lift dan thigh lift. Sementara modalitas non-invasif berupa cryolipolysisradiofrequency, suction massage, dan high-frequency focused ultrasound. 

"Syarat menjalani body countouring, sangat ditentukan pilihan prosedur yang akan dilakukan. Secara garis besar adalah pasien dalam kondisi sehat, fisik maupun psikis," kata Sastrasupena.

Prosedur ini bisa dilakukan oleh dewasa berusia 20 tahun-an. Kemudian, mengingat setiap orang memiliki kondisi kesehatan dan kebutuhan terapi yang berbeda, pasien perlu melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dulu.  

Aditya mengingatkan, setelah pasien menjalani prosedur body countouringmisalnya pembedahan, biasanya ada sejumlah efek yang dia rasakan pada tubuhnya, biasanya bengkak dan memar. 

"Jangka waktu bengkak lebih pankang, karena daya operasi lebih luas, ketebalan lebih dalam. Tiap orang memang berbeda. Lalu gaya hidup setelah operasi, misalnya meminum alkohol, bisa memicu bengkak lebih panjang," kata dia.