Logo Header Antaranews Kalteng

BMKG Kotim peringatkan risiko karhutla akibat curah hujan rendah

Minggu, 25 Januari 2026 05:47 WIB
Image Print
Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo. (ANTARA/Devita Maulina)

Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit memprakirakan curah hujan berada di bawah batas normal hingga akhir Januari yang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Secara potensi, uap air di wilayah Indonesia sebenarnya cukup banyak. Namun karena adanya bibit siklon, uap air tertarik ke pusat siklon sehingga pembentukan awan hujan di Kotim tidak optimal,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo di Sampit, Sabtu.

Mulyono menjelaskan, rendahnya curah hujan di Kotim pada Januari 2026, dipengaruhi oleh adanya bibit siklon di wilayah utara dan selatan Indonesia yang menarik uap air menjauh dari Kalimantan Tengah

Berdasarkan prakiraan BMKG Kotim, curah hujan dasarian III Januari 2026 di wilayah setempat berada pada kategori rendah hingga menengah berkisar antara 20 - 50 mm dan 50 – 75 mm.. Sementara prakiraan sifat hujan pada kategori bawah normal yang berpotensi terjadi karhutla.

Data BMKG menunjukkan curah hujan pada akhir Januari hanya berkisar 20 hingga 75 milimeter. Angka ini jauh dari catatan historis yang biasanya melampaui 100 milimeter, bahkan beberapa titik di Kotim dilaporkan tidak mengalami hujan sama sekali.

“Padahal secara klimatologis, Januari biasanya memiliki curah hujan di atas 100 milimeter. Namun tahun ini berbeda, bahkan di beberapa titik tidak terjadi hujan sama sekali,” ujarnya.

Kondisi tersebut berdampak meningkatnya kerawanan terjadinya karhutla, terlebih sebagian besar wilayah Kotim merupakan lahan gambut yang mudah mengering. Sepanjang periode 1 hingga 20 Januari 2026, tercatat ada 61 titik panas atau hotspot di wilayah Kotim.

Baca juga: Disdik Kotim usulkan revitalisasi puluhan sekolah pada 2026

“Ketika curah hujan rendah dan tidak merata, lahan gambut bisa terlihat basah di permukaan setelah hujan ringan, namun bagian dalamnya tetap kering dan sangat mudah terbakar,” tambah Mulyono.

Meski diprediksi akan ada hujan pada minggu keempat Januari, yakni pada 26 hingga 31 Januari 2026, namun intensitasnya diperkirakan belum cukup kuat untuk memadamkan risiko kebakaran secara total.

Hujan yang turun diprakirakan hanya bersifat ringan hingga sedang dan tidak merata, sehingga seluruh elemen masyarakat diimbau tetap waspada dan menghindari tindakan-tindakan yang bisa memicu terjadinya kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar.

Sementara itu, pada Februari hingga Maret 2026, kondisi cuaca diprediksi mulai membaik secara bertahap dengan curah hujan di level menengah, berkisar antara 150 hingga 300 mm.

“Perubahan cuaca akan membaik secara bertahap. Namun selama sifat hujan masih berada di bawah normal, potensi kebakaran tetap ada, terutama di wilayah gambut,” demikian Mulyono.

Baca juga: Dinkes Kotim ingatkan risiko diare dan ISPA saat kemarau

Baca juga: Realisasi 143 persen PBG jadi andalan baru PAD Kotim

Baca juga: Pemkab Kotim buktikan tetap tingkatkan infrastruktur meski efisiensi anggaran



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026