Latar belakang stafsus Presiden Jokowi

id staf khusus jokowi,stafsus jokowi,Deretan stafsus Presiden Jokowi

Latar belakang stafsus Presiden Jokowi

Staf khusus Presiden Joko Widodo yang baru dari kalangan milenial (kiri ke kanan) CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, Perumus Gerakan Sabang Merauke Ayu Kartika Dewi, Pendiri Ruang Guru Adamas Belva Syah Devara, CEO dan Founder Creativepreneur Putri Indahsari Tanjung, Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Ma'ruf, Peraih beasiswa kuliah di Oxford Billy Gracia Yosaphat Mambrasar dan Pendiri Thisable Enterprise Angkie Yudistia menjawab pertanyaan wartawan saat diperkenalkan di halaman tengah Istana Merdeka Jakarta, Kamis (21/11/2019). Ketujuh stafsus milenial tersebut mendapat tugas untuk memberi gagasan serta mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/nz

Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo baru saja memperkenalkan 7 orang staf khusus baru dari kalangan milenial sehingga menjadikan total stafsus dan asisten pribadi (aspri) yang mendampinginya berjumlah total 14 orang.

"Tambahannya ada Pak Ari Budimanta, yang lama masih, ada Pak Sukardi, Pak Ari Dwipayana, Pak Diaz. Totalnya waduh gak 'ngitung' saya, tapi ada 14," kata Presiden Joko Widodo di veranda Istana Merdeka Jakarta, Kamis petang.

Presiden Jokowi dengan mengenakan kemeja putih lengan yang digulung tampil bersama 4 laki-laki dan 3 perempuan muda yang seluruhnya mengenakan kemeja putih. Mereka lalu duduk santai di bean bag yang sudah disiapkan di veranda.

Baca juga: Jokowi nyatakan tata kelola BPJS Kesehatan harus diperbaiki

"Stafsus saya yang baru untuk bidang-bidangnya kerjanya berbarengan, hanya tadi mbak Angkie khusus juru bicara bidang sosial saya tambahi tugas itu," ungkap Presiden.

Ketujuh Staf Khusus Presiden dari kalangan milenial tersebut adalah

1. Adamas Belva Syah Devara. Pria berusia 29 tahun ini meraih gelar master dari Harvard University dan Stanford University. Ia merupakan pendiri sekaligus CEO Ruang Guru.
2. Putri Indahsari Tanjung, Putri merupakan lulusan Academy of Art di San Fransisco, Amerika Serikat. Putri juga merupakan CEO Creativepreneur Event Creator dan CBO Kreavi.
3. Andi Taufan Garuda Putra Andi yang berusia 32 tahun merupakan lulusan Harvard Kennedy School dan merupakan CEO salah satu lembaga keuangan mikro PT Amartha.
4. Ayu Kartika Dewi Wanita berusia 36 tahun ini adalah pendiri sekaligus mentor lembaga SabangMerauke. Ia meraih gelar MBA dari Duke University di Amerika Serikat.
5. Gracia Billy Mambrasar, CEO Kitong Bisa yang berasal dari tanah Papua. Pria berusia 31 tersebut adalah lususan S2 Australian National University (ANU) dan kini tengah menempuh pendidikan master lainnya di Oxford University.
6. Angkie Yudistia Perempuan berusia 32 tahun ini adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sosiopreneur melalui Thisable Enterprise yang didirikannya. Presiden Jokowi meminta Angkie untuk menjadi juru bicara Presiden di bidang sosial.
7. Aminuddin Maruf Aminuddin merupakan santri muda berusia 33 tahun. Ia pernah menjadi Ketua Umum PB Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016.

Baca juga: Presiden Jokowi dikaruniai cucu ketiga dari pasangan Gibran-Selvi

Selain itu, ada 6 Staf Khusus Presiden lain, yaitu:

1. Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, akademisi
2. Sukardi Rinakit, intelektual
3. Arif Budimanta, ekonom Megawati Institute
4. Diaz Hendropriyono, Ketua Umum PKPI.
5. Dini Shanti Purwono, Kader PSI, ahli hukum lulusan Harvard
6. M. Fadjroel Rachman, Juru Bicara Presiden

Ari Dwipayana, Sukardi Rinakit dan Diaz Hendropriyono adalah stafsus lama yang kembali bertugas.

Ari Dwipayana adalah staf khusus bidang politik dan pemerintahan. Tugasnya adalah menyampaikan informasi kepada publik mengenai kegiatan dan berbagai penjelasan presiden.

Sunardi Rinakit menjadi staf khusus bidang politik dan pers yang berugasnya adalah membuat pidato terkait politik dan pers. Diaz Hendropriyono sebagai staf khusus bidang sosial.

Pewarta :
Uploader : Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar