UMKM Kalteng, tetap bertahan meski terdampak pandemi

id Jelly tree milk palangka raya, umkm palangka raya, kalteng, kalimantan tengah, minuman sehat, robby julianto, covid 19, virus corona, pandemi covid 19

UMKM Kalteng, tetap bertahan meski terdampak pandemi

Pelaku UMKM "Jelly Tree Milk" di Palangka Raya, Robby Julianto. (ANTARA/Muhammad Arif Hidayat)

Palangka Raya (ANTARA) - Tak bisa dipungkiri, salah satu sektor yang paling terdampak akibat pandemi Corona Virus Disease 2019 atau COVID-19 adalah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

UMKM dianggap rentan di masa pandemi sebab memiliki risiko mengalami penurunan pendapatan yang sangat besar.

Pemicu utamanya adalah penurunan kondisi perekonomian masyarakat, sehingga menyebabkan daya beli pun ikut menurun secara drastis.

Kondisi ini tentu dialami oleh hampir semua UMKM yang ada di Indonesia, tak terkecuali di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Untuk tetap bertahan, para pelaku UMKM pun dituntut kreatif dan inovatif, harus mampu memanfaatkan setiap celah ataupun peluang yang tersedia, serta satu hal yang pasti, yakni memiliki mental baja yang tak mudah digoyahkan rasa putus asa.

Salah satu UMKM tangguh di Palangka Raya yang tetap bertahan dan terus berjuang di tengah pandemi adalah milik Robby Julianto. Ia merupakan pemilik usaha "Jelly Tree Milk", yakni minuman sehat berupa minuman susu jelly.

Usaha yang ia jalankan sejak awal 2018 lalu ini, juga merupakan salah satu yang sangat terdampak pandemi COVID-19.

"Pandemi COVID-19 sangat berdampak dan memengaruhi usaha yang saya jalankan bersama istri ini," katanya.

Akibat pandemi, jumlah penjualan produk minuman mereka menurun secara drastis, utamanya saat dua bulan pertama sejak COVID-19 mulai menyebar di Palangka Raya.

Jika sebelum terjadinya pandemi mereka rata-rata mampu menjual produknya hingga 200-250 botol per hari, maka saat awal pandemi jumlah penjualan menurun hingga 70 persen, yakni hanya sekitar 70-80 botol perhari.

Adapun sistem pemasaran produknya dilakukan pada sejumlah 'outlet' atau toko, seperti mini market, hingga resto maupun warung makan. Di masa normal, ada sekitar 21 outlet yang menjadi tempat mereka memasarkan "Jelly Tree Milk", namun saat pandemi jumlahnya berkurang dan hanya tersisa sekitar tujuh hingga delapan outlet.

"Sebagian outlet atau tempat kami biasa memasarkan produk, ada yang tidak mau diisi kembali karena sepinya pengunjung," ungkapnya.

Kondisi ini tentu cukup memberatkan bagi Robby yang sudah memiliki sejumlah pegawai, yakni pada bagian produksi dan juga pengantaran produk ke berbagai outlet mereka yang ada di "Kota Cantik" sebutan Palangka Raya. Hingga akhirnya ia pun terpaksa memutuskan mengurangi jumlah pegawai.

Pihaknya juga memiliki pinjaman di bank, beruntung beban tersebut sedikit terbantu dengan disetujuinya relaksasi atau penundaan angsuran dan bunga selama satu tahun. Menurutnya relaksasi tersebut sangat membantu, agar modal usaha yang dimiliki tak tergerus di saat omzet menurun.

Meski dalam kondisi sulit dan tak tahu sampai kapan pandemi ini akan berlangsung, tak pernah sekalipun terlintas di benaknya untuk beristirahat sementara waktu dan tidak melakukan produksi.

"Kami berupaya tetap ada penjualan meski di tengah pandemi. Tak pernah terpikir istirahat produksi, karena kami berkeyakinan "Jelly Tree Milk" ini selalu ditunggu konsumen," tegasnya.

Walaupun ada pengurangan produksi, pihaknya tetap berupaya secara maksimal memasarkan produknya. Baginya pandemi adalah sebuah ujian, namun juga sekaligus sebagai peluang.

Pada masa awal pandemi, melihat kondisi di tengah masyarakat, mereka pun berinovasi dengan memproduksi varian baru yang bekerja sama dengan produsen jamu. Hal itu dilatarbelakangi meningkatnya tren konsumsi jamu di masyarakat.

Kemudian seiring berjalannya waktu dan menyesuaikan perkembangan di masyarakat, kini mereka kembali menambah varian baru, yakni minuman sehat lainnya yakni jus buah dalam kemasan.

Terus melangkah dan berinovasi dengan berbagai varian minuman yang mereka produksi, nyatanya membuat "Jelly Tree Milk" tetap bertahan meski di tengah pandemi.

"Berlangsung hampir dua bulan yakni Maret-Mei 2020 penjualan rata-rata perahari yakni 70-80 botol. Mei-Juni dan hingga saat ini, perlahan mulai merangkak lagi. Mengoptimalkan berbagai sarana dan peluang, meski belum sama seperti waktu normal, sekarang rata-rata penjualannya yakni 150-175 botol perhari," ungkapnya.

Sama seperti yang diharapkan semua orang, ia pun ingin pandemi ini segera berakhir dan aktivitas perekonomian bisa pulih dan normal kembali.

Robby menyebut, UMKM memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi daerah dan nasional. Untuk itu pihaknya berharap, agar pemerintah sebagai stimulator, terus berjuang untuk membangkitkan UMKM terdampak.

"Pemerintah harus mendengarkan ragam permasalahan para pelaku UMKM. Permasalahan yang UMKM hadapi sangat kompleks, tak hanya masalah penjualan saja, namun juga berbagai hal lainnya. Kami berharap konsumen dapat terus bertumbuh, kami mencoba terus berinovasi dan beradaptasi," ucapnya.

Pewarta :
Uploader : Admin 4
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar