Logo Header Antaranews Kalteng

Tim Akdemisi UMPR berdayakan Komunitas Bunda Sehati lewat pengelolaan kain perca

Selasa, 5 Agustus 2025 16:24 WIB
Image Print
UMPR berdayakan Komunitas Bunda Sehati lewat pengelolaan kain perca di Palangka Raya. (ANTARA/HO-Humas UMPR)

Palangka Raya (ANTARA) - Tim Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) menjalankan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Komunitas Bunda Sehati melalui Inovasi Pengelolaan Limbah Kain Perca Menjadi Boneka Maskot Kalimantan Tengah”.

"Program ini berlangsung sejak Juli hingga Desember 2025, dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat," kata ketua Tim Pengmas UMPR Ahmad Syarif MPd di Palangka Raya, Selasa.

Pada program itu, Dosen Pendidikan Agama Islam UMPR ini juga didukung tim pelaksana terdiri dari Mohamad Nor Aufa MPd selaku akademisi Pendidikan Biologi, Arna Purtina MPd dosen Pendidikan Ekonomi.

Selain itu, kegitan pengabdian masyarakat ini juga didukung mahasiswa atas Riski Candra Ramadhani dari prodi Pendidikan Ekonomi, Melan Yutiva dan Banjir yang merupakan mahasiswa Pendidikan Biologi.

"Program ini menyasar Komunitas Bunda Sehati, kelompok perempuan kepala keluarga (PEKKA) di Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, yang mayoritas hidup dengan keterbatasan ekonomi dan belum memiliki keterampilan produktif yang memadai," kata Ahmad.

Melalui kegiatan itu, pihaknya ingin membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan kepala keluarga di Palangka Raya dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai budaya dan ekonomi.

"Program ini mencakup pelatihan menjahit dasar, pengolahan limbah tekstil menjadi boneka maskot, pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB), edukasi keuangan keluarga, serta strategi pemasaran digital melalui Shopee, Instagram dan TikTok," katanya.

UMPR berdayakan Komunitas Bunda Sehati lewat pengelolaan kain perca di Palangka Raya. (ANTARA/HO-Humas UMPR)



Baca juga: Dosen FISIPOL UMPR laksanakan FGD bersama tokoh adat se-Kalteng

Anggota tim lainnya, Arna menerangkan, produk boneka ini tidak hanya bernilai ekonomi, namun juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal, karena mengangkat ikon Kalimantan Tengah seperti burung tingang, orangutan, dan ornamen khas Dayak. Produk ini akan dipasarkan melalui bazar UMKM, galeri, media sosial, dan e-commerce.

“Boneka ini bukan sekadar kerajinan tangan, tapi simbol semangat perempuan Kalimantan dan wujud pelestarian budaya lokal,” ujar Arna.

Selanjutnya anggota lainnya, Mohamad Nor Aufa, menambahkan bahwa aspek lingkungan menjadi fondasi penting dari program ini.

“Limbah kain perca yang biasanya dibuang sembarangan kini kami edukasikan sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Selain mengurangi pencemaran, ibu-ibu juga belajar sains dasar seperti daur ulang dan keberlanjutan. Inilah bentuk nyata dari ekonomi sirkular berbasis komunitas,” terang Mohamad Nor Aufa.

Sementara itu, Riski Candra Ramadhani, salah satu mahasiswa yang terlibat, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari program ini.

“Selama mendampingi ibu-ibu dalam pelatihan dan perencanaan usaha, saya belajar banyak tentang tantangan nyata UMKM. Kegiatan ini masih berjalan, dan saya merasa ikut tumbuh bersama mereka, bukan hanya sebagai fasilitator, tapi juga sebagai pembelajar,” ungkap Riski.

Program ini sejalan dengan SDGs 8 berupa pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDGs 10 tentang berkurangnya kesenjangan, IKU 2 dan 5 tentang perguruan tinggi asta cita pemerintah dalam mendorong industri kreatif dan kewirausahaan perempuan.

Melalui pelatihan berkelanjutan dan pendampingan usaha, program ini diharapkan menjadi cikal bakal sentra produksi oleh-oleh khas Kalimantan Tengah berbasis komunitas perempuan.

Ke depannya, UMPR menargetkan model ini dapat direplikasi di komunitas rentan lainnya di wilayah Kalimantan dan nasional, sekaligus menjadi contoh praktik ekonomi sirkular berbasis budaya lokal.

Dengan dukungan kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat, produk boneka maskot hasil daur ulang ini diharapkan mampu menjadi ikon lokal yang bukan hanya mencerminkan kreativitas, tetapi juga dampak sosial yang nyata bagi pemberdayaan perempuan.

Ketua Komunitas Bunda Sehati Norma Rasidah mengatakan, dulu anggotanya tidak tahu cara menjahit.

"Sekarang kami bisa buat boneka sendiri dan menjualnya. Ini sangat membantu keluarga,” ungkap Norma.

Baca juga: Dosen Farmasi UMPR gelar pengmas di RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya

Baca juga: Tim UMPR jadi akademisi pertama teliti potensi di SMKN 1 Kumai

Baca juga: Mahasiswi Bisnis Digital UMPR juara 2 kompetisi TIK penyandang disabilitas



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026