Logo Header Antaranews Kalteng

Garam berlebih bisa picu hipertensi, ahli gizi ingatkan batas aman WHO

Rabu, 1 Oktober 2025 13:17 WIB
Image Print
Dokter spesialis gizi dr. Yohan Samudra, Sp.GK saat menghadiri sebuah konferensi pers produk minuman kolagen di Jakarta, Kamis (18/8/2022). (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

Jakarta (ANTARA) - Spesialis gizi klinik RS Premier Bintaro, dr Yohan Samudra, SpGK, AIFO-K, mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap penyakit degeneratif yang kian banyak menyerang usia produktif, salah satunya hipertensi yang kerap tanpa gejala namun berisiko memicu penyakit jantung dan pembuluh darah.

Dalam keterangan Ajinomoto pada Rabu, ia menyoroti konsumsi garam masyarakat Indonesia yang rata-rata dua kali lipat dari batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga diperlukan edukasi dan kebiasaan memasak lebih bijak untuk menekan risiko tersebut.

“Rata-rata orang Indonesia mengonsumsi garam dua kali lipat dari rekomendasi WHO, yakni 5 gram per hari. Bahkan lima dari sepuluh orang melampaui angka tersebut,” kata Yohan dalam Simposium Kesehatan Kerja IDKI 2025 di Jakarta.

Peringatan itu sejalan dengan kampanye “Bijak Garam” yang digaungkan dalam forum tersebut, yakni ajakan untuk mengurangi penggunaan garam tanpa mengorbankan cita rasa makanan.

Pendekatan sederhana ini dinilai sebagai langkah efektif dalam menurunkan risiko penyakit degeneratif di kalangan pekerja, sekaligus mendorong gaya hidup sehat di lingkungan kerja.

Simposium yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Kesehatan Kerja Indonesia (IDKI) menghadirkan dokter perusahaan, praktisi HRD, dan profesional kesehatan serta keselamatan kerja dari berbagai sektor industri. Forum ini membahas tantangan kesehatan kerja modern, termasuk upaya pencegahan penyakit tidak menular yang dapat menurunkan produktivitas pekerja.

Wakil Sekretaris Pengurus Pusat IDKI, dr Rafael Nanda R, MKK, menambahkan edukasi berkelanjutan terbukti efektif meningkatkan kesadaran kesehatan karyawan.

"Kami melihat adanya peningkatan hasil Medical Check-Up (MCU) setelah program edukatif yang terstruktur. Ini menunjukkan perilaku sehat dapat dibentuk secara konsisten di lingkungan kerja,” ujarnya.

Melalui kolaborasi lintas sektor, IDKI mendorong perusahaan membangun budaya kerja sehat sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas hidup karyawan sekaligus keberlanjutan usaha.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026