Mahasiswa di perantauan merasa tenang berkat perlindungan JKN

id Bpjs kesehatan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kalteng

Mahasiswa di perantauan merasa tenang berkat perlindungan JKN

Seorang mahasiswa peserta JKN. ANTARA/BPJS Kesehatan

Palangka Raya (ANTARA) - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kembali dirasakan manfaatnya oleh peserta muda, salah satunya Nurvina (22), mahasiswi Universitas Palangka Raya (UPR) yang berasal dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah yang merasa tenang beraktifitas berkat adanya jaminan kesehatan BPJS Kesehatan.

"Saya terdaftar sebagai peserta JKN Kelas satu melalui tanggungan orang tua yang bekerja sebagai guru," kata Nurvina di Palangka Raya, Sabtu.

Dia mengaku sangat terbantu dengan berbagai layanan kesehatan yang ia peroleh selama menjalani studi jauh dari keluarga.

Sebagai mahasiswa perantau, Nurvina menyadari bahwa kesehatan menjadi kebutuhan penting agar dapat menjalani perkuliahan dengan baik. Ia mengatakan bahwa iuran JKN yang rutin dibayarkan oleh orang tuanya harus dimanfaatkan seoptimal mungkin, terutama ketika ia membutuhkan layanan kesehatan tertentu.

“Sayang kalau tidak digunakan. Iuran sudah dibayarkan rutin dengan gaji orang tua, jadi menurut saya JKN harus dimanfaatkan saat kita benar-benar butuh,” ujar Nurvina.

Nurvina menuturkan beberapa pengalaman dirinya menggunakan layanan JKN, salah satunya ketika mengakses pengobatan telinga di dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT).

Saat itu, ia mengalami nyeri di dalam telinga yang membuatnya kesulitan beraktivitas di kampus. Berkat rujukan dan layanan yang ditanggung penuh oleh program JKN, ia dapat menjalani pemeriksaan hingga pengobatan tanpa kendala biaya.

“Setelah diperiksa, ternyata rasa nyeri itu disebabkan oleh kotoran telinga yang sudah menumpuk dan mengeras. Saya mendapatkan pengobatan dari Puskesmas hingga dirujuk ke rumah sakit secara gratis,” ungkap Nurvina.

Tidak hanya itu, saat menjalani program pertukaran mahasiswa, Nurvina juga pernah memanfaatkan JKN untuk kebutuhan pemeriksaan mata serta pembuatan kacamata di luar kota. Baginya, layanan tersebut sangat meringankan beban finansial, mengingat biaya alat bantu penglihatan cukup tinggi bagi seorang mahasiswa.

“Sebelumnya saya berinisiatif untuk bertanya lebih dahulu lewat Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp (PANDAWA) dari BPJS Kesehatan, apakah saya bisa menggunakan JKN saya untuk berobat di kota lain dan ternyata bisa," katanya.

Selanjutnya dia disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata di salah satu Puskesmas wilayah Ternate, dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dan diarahkan ke optik yang bekerja sama dengan BPJS kesehatan untuk pembuatan kacamata dengan resep terbaru dari rumah sakit.

Nurvina turut menyampaikan harapan agar Program JKN dapat terus hadir sebagai perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat, terutama mahasiswa perantau yang tinggal jauh dari keluarga. Menurutnya, keberadaan JKN bukan hanya membantu dari sisi biaya, tetapi juga memberi rasa aman saat menghadapi kondisi kesehatan yang tidak menentu.

“Semoga Program JKN selalu berlanjut dan semakin baik, karena sangat membantu kami mahasiswa yang hidup merantau. Saat sakit, program ini benar-benar meringankan,” kata Nurvina.


Pewarta :
Uploader : Admin 1
COPYRIGHT © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.