Jakarta (ANTARA) - Perusahaan biofarmasi, AstraZeneca, membeberkan tiga perkembangan pengobatan kanker dengan fokus pada kanker paru, gastrointestinal, dan payudara yang menjadi jenis kanker yang paling banyak terjadi di kawasan Asia.
“Kami bekerja sama dengan para tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan komunitas pasien untuk menerjemahkan bukti klinis menjadi akses yang lebih merata, sehingga lebih banyak pasien dapat menerima terapi yang tepat pada waktu yang tepat," kata Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Eskomay dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Dalam ESMO Asia 2025 yang diselenggarakan pada Senin (15/12) di Singapura, AstraZeneca menyampaikan bahwa kanker paru masih menjadi beban kesehatan yang signifikan di Asia, dengan mutasi EGFR pada pasien NSCLC ditemukan lebih sering dibandingkan dengan populasi di negara-negara Barat.
Dalam data yang dipaparkan dari beberapa studi, diketahui pada tahap neoadjuvan, penggunaan EGFR TKI baik sebagai monoterapi maupun dikombinasikan dengan kemoterapi—terbukti meningkatkan respons patologis sambil tetap menjaga kualitas hidup pasien.
Pada pasien dengan penyakit stadium III yang tidak dapat dioperasi, penggunaan EGFR-TKI dalam rangkaian peri-kemoradiasi menunjukkan tingkat respons yang tinggi dengan profil keamanan yang dapat ditoleransi.
Sementara pada pasien yang mengalami progresi akibat amplifikasi atau overekspresi MET, yang lebih sering ditemukan pada populasi Asia, penambahan inhibitor MET pada EGFR-TKI ternyata memberikan respons yang signifikan serta lebih tahan lama.
Kemudian pada kanker gastrointestinal, lebih dari separuh kasus ditemukan di Asia. Studi yang dilakukan oleh AstraZeneca Indonesia menunjukkan bahwa pemberian imunoterapi sejak tahap awal dan secara berkesinambungan dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup pada kelompok pasien tertentu.
Pada kanker lambung dan kanker gastroesophageal junction stadium awal hingga stadium lanjut lokal, kombinasi imunoterapi dan kemoterapi terbukti memberikan peningkatan signifikan pada kelangsungan hidup secara keseluruhan (overall survival) dan waktu kejadian kekambuhan (event-free survival).
Peningkatan hasil ini juga terlihat pada pasien Asia yang umumnya memiliki kondisi penyakit lebih kompleks. Adapun kanker hati stadium lanjut, terutama di negara-negara dengan prevalensi hepatitis B yang tinggi, regimen kombinasi imunoterapi menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup yang bertahan hingga lima tahun.
Temuan lainnya yakni kanker payudara di banyak negara Asia, sering terdiagnosis pada usia 40–50 tahun atau lebih muda dibandingkan negara Barat yang umumnya pada usia 60–70 tahun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa profil penyakit di Asia cenderung lebih kompleks.
Pada pasien kanker payudara metastatik triple-negative yang tidak memenuhi syarat untuk imunoterapi, penggunaan terapi ADC meningkatkan harapan hidup dan mengendalikan perkembangan penyakit dengan efek samping yang dapat ditoleransi.
Dalam penanganan penyakit metastatik HER2-positif, kombinasi ADC dengan terapi target antibodi monoklonal menunjukkan manfaat besar dalam memperlambat progresi penyakit, termasuk pada populasi pasien Asia.Sedangkan pada kanker payudara HER2-positif stadium awal berisiko tinggi, penggunaan ADC praoperatif sebelum rejimen standar kombinasi terapi target dan kemoterapi meningkatkan proporsi pasien yang mencapai pathologic complete response, sekaligus tetap mempertahankan kelayakan untuk menjalani tindakan pembedahan.
