Logo Header Antaranews Kalteng

Beras dan cabai rawit jadi penyumbang inflasi di Kalteng selama Desember 2025

Senin, 5 Januari 2026 14:46 WIB
Image Print
Kepala BPS Kalteng Agnes Widiastuti. ANTARA/HO-BPS Kalteng.

Palangka Raya (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat perkembangan harga berbagai komoditas pada Desember 2025 di provinsi setempat, secara umum menunjukkan adanya peningkatan dibanding bulan yang sama tahun 2024.

Kepala BPS Kalteng Agnes Widiastuti di Palangka Raya, Senin, mengatakan dari hasil pemantauan di empat kabupaten/kota di provinsi ini selama Desember 2025, terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,13 persen, atau meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,64 pada Desember 2024 menjadi 109,98 pada Desember 2025.

"Sementara secara m-to-m mengalami inflasi sebesar 1,04 persen dan secara y-to-d inflasi sebesar 3,13 persen," tambahnya.

Berdasarkan data BPS Kalteng, inflasi y-on-y di provinsi ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau 4,09 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 1,84 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,76 persen.

Kemudian kelompok kesehatan naik 1,24 persen, kelompok transportasi 1,78 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya
1,00 persen, kelompok pendidikan 2,35 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,29 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 12,60 persen.

"Sementara kelompok yang mengalami penurunan indeks harga selama Desember 2025 yakni, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,09 persen, dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,10 persen," beber Agnes.

Baca juga: Pertumbuhan ekonomi Kapuas triwulan III 2025 tumbuh 5,54 persen

Adapun komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y Desember 2025 yakni, beras 0,22 persen, cabai rawit 0,18 persen, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 0,16 persen, bawang merah 0,14 persen, kopi bubuk 0,10 persen, ikan gabus dan telur ayam ras masing-masing 0,08 persen, minyak goreng dan mie kering instan masing-masing 0,07 persen, dan udang basah 0,06 persen.

Kemudian kangkung dan cabai merah masing-masing 0,05 persen, Sigaret Kretek Tangan (SKT) 0,04 persen, ikan tongkol, ikan saluang, makanan ringan/ snack, ikan peda masing masing 0,03 persen, ikan layang, ikan papuyu dan daun katuk masing-masing 0,02 persen.

"Tetapi ada juga komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, yaitu ikan nila 0,10 persen, tomat 0,06 persen, putih 0,04 persen, daging ayam ras dan bayam masing-masing 0,02 persen, dan susu bubuk untuk balita 0,01 persen," demikian Agnes.

Baca juga: Inflasi Kapuas tertinggi di Kalteng

Baca juga: Pemkot Palangka Raya perkuat akurasi data penduduk miskin

Baca juga: OJK-BPS Kalteng gelar survei, sejalan dengan RPJPN 2025-2045



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026