Logo Header Antaranews Kalteng

APJATELtetap perluas fiber optik meski biaya naik

Jumat, 10 April 2026 17:09 WIB
Image Print
Ketua APJATEL Jerry Mangansas Swandy (kiri) bersama Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Kemkomdigi Mulyadi (kanan) di dalam acara FGD APJATEL di Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026) (ANTARA/Livia Kristianti)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Jaringan Penyelenggara Telekomunikasi (APJATEL) Jerry Mangansas Swandy menyampaikan bahwa pelaku industri tetap berkomitmen menggelar jaringan fiber optik meskipun biayanya bisa naik akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di wilayah Timur Tengah.APJATEL) Jerry Mangansas Swandy menyampaikan bahwa pelaku industri tetap berkomitmen menggelar jaringan fiber optik meski biayanya bisa naik akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di wilayah Timur Tengah.

"Kita secara industri akan tetap membangun. Kalau berdasarkan Peraturan Menteri Kominfo nomor 5 tahun 2021 ada komitmen di sana bahwa penyelenggara jaringan itu harus menggelar jaringan," kata Jerry dalam wawancara cegat di Jakarta Selatan, Kamis.Jerry dalam wawancara cegat di Jakarta Selatan, Kamis.

“Cuma sekarang penggelaran jaringan itu tidak dalam kondisi normal lagi karena ada indikator-indikator yang mempengaruhinya,” tambahnya.penggelaran jaringan itu tidak dalam kondisi normal lagi karena ada indikator-indikator yang mempengaruhinya," ia menambahkan.

Jerry mencontohkan, bahan baku penting dalam penggelaran fiber optik seperti corning dan High Density Polyethylene (HDPE) naik akibat perang.Jerry mencontohkan, bahan baku penting dalam penggelaran fiber optik seperti corning dan High Density Polyethylene (HDPE) naik akibat perang.

Menurut dia, corning harganya meningkat karena selain dibutuhkan untuk penggelaran jaringan telekomunikasi juga digunakan dalam pembuatan senjata.corning harganya meningkat karena selain dibutuhkan untuk penggelaran jaringan telekomunikasi juga digunakan dalam pembuatan senjata.

Harga HDPE yang digunakan sebagai pembungkus kabel fiber optik juga meningkat.HDPE, yang digunakan sebagai pembungkus kabel fiber optik, juga meningkat.

"HDPE itu penutup fiber optik. HDPE bisa dilihat di lapangan ada yang warna hijau, warna merah, warna oranye. Itu HDPE. Itu naik harganya," katanya.HDPE itu penutup fiber optik. HDPE bisa dilihat di lapangan ada yang warna hijau, warna merah, warna oranye. Itu HDPE. Itu naik harganya," katanya.

"Artinya secara teknikal saya sampaikan ini pasti akan mempengaruhi juga," kata Jerry Merujuk pada biaya penggelaran fiber optik.Jerry merujuk pada biaya penggelaran fiber optik.

APJATEL memperkirakan biaya penggelaran jaringan fiber optik bisa naik 15 persen sampai 17 persen dari kondisi normal akibat kenaikan harga bahan baku.APJATEL memperkirakan biaya penggelaran jaringan fiber optik bisa naik 15 persen sampai 17 persen dari kondisi normal akibat kenaikan harga bahan baku.


Meski demikian, Jerry menyampaikan, anggota APJATEL tetap berkomitmen menggelar jaringan fiber optik meski mungkin hasilnya lebih rendah dari target.Jerry menyampaikan, anggota APJATEL tetap berkomitmen menggelar jaringan fiber optik walaupun mungkin hasilnya lebih rendah dari target.

“Misalnya target satu tahun dari satu perusahaan dia mau gelar 50 kilometer, nah mungkin nanti jadi hanya 10 kilometer saja,” kata Jerry.Jerry.

Jika kondisinya semakin memburuk, maka APJATEL berencana mengajukan permohonan insentif dari pemerintah agar program fiberisasi dapat tetap berjalan.APJATEL berencana mengajukan permohonan insentif dari pemerintah agar program fiberisasi dapat tetap berjalan.

“Kalau memang misalnya nanti tidak terkendali, bilang menuju pemadaman ekonominya, ya mau enggak mau,” kata Jerry.blackout ekonominya, ya mau enggak mau," kata Jerry.

“Kondisi ini juga pernah kita alami ketika COVID-19, kita minta insentif kala itu ke Kominfo tapi tidak menghilangkan kewajiban,” katanya.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026