Logo Header Antaranews Kalteng

Suhu AC ideal saat musim panas untuk cegah gangguan kesehatan

Senin, 18 Mei 2026 19:03 WIB
Image Print
Ilustrasi penggunaan AC rata-rata 8 jam - 12 jam per hari berdasarkan hasil survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Antara/ Suriani Mappong

Jakarta (ANTARA) - Pendingin ruangan (AC) kerap menjadi andalan untuk mendapatkan udara sejuk saat musim panas. Namun, penggunaan AC yang berlebihan berisiko memicu masalah kesehatan.

Sebagaimana dilansir laporan Hindustan Times, Minggu, Direktur Bidang Penyakit Dalam di Sir H. N. Reliance Foundation Hospital, Dr. Divya Gopal menyampaikan bahwa udara dingin dari AC dapat memicu gejala mirip flu musim panas.

Menurut dia, perubahan suhu mendadak dapat memengaruhi sistem pernapasan. Ia mencontohkan masalah muncul ketika tubuh terus-menerus berpindah antara dua suhu ekstrem, misalnya suhu luar ruangan mendekati 40 derajat celsius sementara suhu dalam ruangan sekitar 20 derajat celsius.

Serangkaian perubahan terjadi saat tubuh terus berpindah antara suhu ekstrem, seperti keluar dari ruangan ber-AC menuju udara panas di luar atau bahkan masuk ke area rumah yang lebih hangat seperti dapur tanpa AC.

“Lapisan halus pada hidung dan saluran pernapasan sebenarnya terbiasa dengan perubahan suhu yang terjadi perlahan, bukan secara tiba-tiba. Ketika tubuh mendingin terlalu cepat, pembuluh darah di hidung menyempit lalu melebar dengan cepat, yang dapat menyebabkan vasomotor rhinitis,” kata Dr. Gopal.

Kondisi ini, lanjut dia, membuat hidung membengkak, menghasilkan lendir, dan menimbulkan gejala seperti pilek atau hidung tersumbat meskipun tidak ada infeksi.

Menurut dia, tubuh membutuhkan penyesuaian secara bertahap, sehingga sangat kesulitan menghadapi perubahan suhu yang terlalu sering atau “guncangan suhu” bisa berisiko muncul gejala yang menyerupai flu biasa.

Aspek lain yang perlu diperhatikan terkait kelembapan udara. AC menciptakan udara yang sangat kering karena menghilangkan banyak kelembapan dari ruangan.

Dr. Gopal menyampaikan kelembapan udara di dalam ruangan sebaiknya berada di kisaran 40 hingga 60 persen. Jika AC digunakan terlalu lama, kelembapan bisa turun menjadi 20 hingga 30 persen.

“Udara kering membuat lapisan lendir di hidung mengering sehingga lebih lemah dan kurang mampu menangkap virus maupun polutan,” tutur dia.

Dokter Gopal menyampaikan bahwa udara lembap secara alami membantu mengembalikan kelembapan pada saluran hidung dan tenggorokan yang kering, mengurangi iritasi yang disebabkan oleh udara kering AC.

Oleh karena itu, banyak orang merasa gejala seperti hidung tersumbat, tenggorokan kering, dan “flu musim panas” berkurang setelah pindah ke lingkungan yang lebih lembap.

Kondisi AC juga bisa menjadi penyebab gejala “flu musim panas” yang terus berulang. Dokter Gopal mengingatkan pentingnya membersihkan filter AC secara rutin.

Jika tidak dibersihkan, filter dapat dipenuhi debu, serbuk sari, jamur, dan bakteri yang kemudian beredar di udara yang dihirup.

Partikel-partikel tersebut dapat memicu peradangan mirip alergi, menyebabkan bersin, mudah lelah, dan iritasi hidung yang tak kunjung hilang. Pastikan AC diservis dan dibersihkan secara berkala agar kualitas udara di dalam ruangan tetap baik.

Lebih lanjut, Dokter Gopal menegaskan bahwa saat musim panas, perbedaan suhu antara luar dan dalam ruangan sebaiknya berada dalam rentang 8 hingga 10 derajat celsius.

“Jika suhu di luar mencapai 40°C, Anda bisa mengatur AC di 28 atau 30°C terlebih dahulu. Setelah itu, turunkan perlahan ke 24 atau 26°C agar tubuh dapat menyesuaikan diri tanpa memberi tekanan pada sistem pernapasan,” jelas Dr. Gopal mengenai pengaturan suhu yang lebih aman bagi tubuh.

Adapun jika gejala “flu musim panas” berlangsung lebih dari seminggu, terutama disertai demam atau nyeri tubuh, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026