Kartini Bukan Soal Sanggul Dan Kebaya
Selasa, 21 April 2015 9:32 WIB
Ilustrasi. Sejumlah siswa Taman Kanak-Kanak (TK) berpakaian adat tradisional merayakan Hari Kartini di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jateng, Kamis (16/4). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Jakarta (ANTARA News) - Pemerhati perempuan dan anak Linda Amalia Sari
Gumelar mengatakan peringatan Hari Kartini yang jatuh pada 21 April
bukan hanya soal sanggul dan kebaya.
"Peringatan Hari Kartini jangan hanya mengenai sanggul dan kebaya. Tapi bagaimana meningkatkan peran bersama, agar perempuan Indonesia berkualitas, cerdas, melahirkan anak yang sehat, dan menjadikan keluarga sejahtera," ujar Linda usai acara peringatan HUT ke-88 Anindyati Sulasikin Murpratomo di Kantor Kowani, Jakarta, Senin.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak era Kabinet Indonesia Bersatu II itu, menjelaskan masih banyak pekerjaan rumah masalah perempuan yang harus diselesaikan.
Mulai dari tingginya angka kematian ibu melahirkan, perdagangan manusia, tingkat kesehatan perempuan, hingga pelecehan seksual.
"Pada 2009, jumlah pejabat eselon 1 perempuan hanya sembilan persen, kemudian pada 2014 meningkat menjadi 14 persen. Saya kira ini kemajuan. Ke depan, peran serta perempuan harus semakin ditingkatkan," jelas dia.
Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan perempuan harus maju dan bermartabat.
"Semua itu bisa dicapai melalui keluarga," ujar Giwo.
Giwo menambahkan perlu adanya upaya pemberdayaan perempuan di daerah-daerah tertinggal. Para perempuan di Tanah Air harus diberi kesempatan untuk ikut serta pada semua bidang.
"Sayangnya, banyak perempuan yang masih malu padahal mereka cerdas," tukas Giwo.
"Peringatan Hari Kartini jangan hanya mengenai sanggul dan kebaya. Tapi bagaimana meningkatkan peran bersama, agar perempuan Indonesia berkualitas, cerdas, melahirkan anak yang sehat, dan menjadikan keluarga sejahtera," ujar Linda usai acara peringatan HUT ke-88 Anindyati Sulasikin Murpratomo di Kantor Kowani, Jakarta, Senin.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak era Kabinet Indonesia Bersatu II itu, menjelaskan masih banyak pekerjaan rumah masalah perempuan yang harus diselesaikan.
Mulai dari tingginya angka kematian ibu melahirkan, perdagangan manusia, tingkat kesehatan perempuan, hingga pelecehan seksual.
"Pada 2009, jumlah pejabat eselon 1 perempuan hanya sembilan persen, kemudian pada 2014 meningkat menjadi 14 persen. Saya kira ini kemajuan. Ke depan, peran serta perempuan harus semakin ditingkatkan," jelas dia.
Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan perempuan harus maju dan bermartabat.
"Semua itu bisa dicapai melalui keluarga," ujar Giwo.
Giwo menambahkan perlu adanya upaya pemberdayaan perempuan di daerah-daerah tertinggal. Para perempuan di Tanah Air harus diberi kesempatan untuk ikut serta pada semua bidang.
"Sayangnya, banyak perempuan yang masih malu padahal mereka cerdas," tukas Giwo.
Pewarta :
Editor : Ronny
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pegiat perlindungan anak sebut pelajar Kotim terpapar radikalisme jadi peringatan keras
06 January 2026 16:13 WIB
IWPG dan Lentera Kartini gelorakan semangat perempuan Kotim wujudkan perdamaian berkelanjutan
30 October 2025 15:53 WIB
Ketua Lentera Kartini turut wakili Indonesia di Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional
25 September 2025 17:03 WIB
Ribuan pelajar dan santri di Kotim diedukasi pencegahan kenakalan remaja
12 September 2025 10:35 WIB
Ibu-ibu PKK di Kotim didorong aktif mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak
11 September 2025 18:02 WIB
Lentera Kartini pantang surut perjuangkan keadilan untuk perempuan dan anak
22 August 2025 12:33 WIB
Lintas sektoral di Kotim sepakat tingkatkan upaya perlindungan perempuan dan anak
21 August 2025 14:18 WIB
Srikandi PLN UIP Kalbagbar terus bekerja sepenuh hati, perjuangan Kartini masa kini
23 April 2025 13:18 WIB
Terpopuler - Nasional
Lihat Juga
Kejagung tunjuk Plh. isi kekosongan posisi kajari yang diamankan, termasuk Fadilah Helmi
29 January 2026 21:10 WIB