Sampit (ANTARA) - Ketua Yayasan Lentera Kartini, Forisni Aprilista menjadi salah satu tokoh yang turut menjadi delegasi Indonesia dalam International Women’s Peace Conference 2025 atau Konferensi Perdamaian Perempuan Internasional yang digelar di Cheongju, Provinsi Chungcheongbuk-do, Korea Selatan pada 18-20 September 2025.
"Tentunya saya sangat bangga dan terharu bisa menjadi bagian dari kegiatan di tingkat internasional. Saya juga berterima kasih kepada Ketua IWPG Indonesia, Ibu Ana Milana Puspitasari yang sudah mengajak saya bergabung di IWPG dan akhirnya mendapatkan undangan untuk hadir dan ambil bagian dalam kegiatan ini," kata Forisni di Sampit, Kamis.
Lentera Kartini berkantor di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Saat didirikan pada 12 April 2012 lalu Lentera Kartini merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat, kemudian pada Agustus 2024 menjadi yayasan.
Dilibatkannya Lentera Kartini pada Women’s Peace Conference 2025 tentu menjadi sebuah kebanggaan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh International Women’s Peace Group (IWPG) yang diketuai Na Yeong Jeon.
Konferensi dihadiri utusan negara anggota IWPG region 1 yakni dari Filipina, Indonesia, DC -USA dan LA-USA. Delegasi Indonesia dipimpin Ketua IWPG Indonesia, Ana Milana Puspitasari.
Kegiatan ini juga menjadi momentum bagi Forisni bersama Lentera Kartini untuk mengembangkan diri, sekaligus meningkatkan kontribusinya dalam upaya perlindungan perempuan dan anak.
Menurut Forisni, salah satu alasan dirinya diundang ke acara tersebut adalah latar belakang dirinya berkiprah di Sampit yang merupakan daerah yang pernah dilanda konflik, yakni konflik etnis pada 2001 silam.
Untuk itu keterlibatan dirinya bersama Lentera Kartini selaku anggota IWPG diharapkan bisa menjadi duta perdamaian yang bisa menularkan atau membawa perdamaian dan mencegah konflik di manapun berada.
Dalam pertemuan tersebut, Forisni mendapat kesempatan memaparkan kiprah Lentera Kartini selama ini dalam memperjuangkan perlindungan perempuan dan anak, serta memberikan pendampingan, khususnya di Kotawaringin Timur.
Forisni juga menandatangani nota kesepahaman atau MoU antara Lentera Kartini dengan IWPG Pusat terkait berbagai program yang akan dijalankan bersama.
Baca juga: Pemkab Kotim giatkan Gemarikan lewat lomba masak serba ikan
Menindaklanjuti nota kesepahaman itu, Lentera Kartini akan melakukan langkah awal yakni mengadakan diskusi dengan mengundang mitra kerja serta pemerintah daerah untuk lebih mengenalkan IWPG.
Pihaknya juga akan mengadakan sosialisasi tentang pentingnya menanamkan pola pikir damai dan memupuk perdamaian. Selain itu, mengenalkannya kepada anak-anak, misalnya melalui kegiatan lomba menggambar atau mewarnai dengan tema perdamaian.
"Ada banyak rencana kerja yang mudah-mudahan bisa terlaksana dengan dukungan mitra dan pemerintah daerah," ujar Forisni yang juga Ketua Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Kabupaten Kotawaringin Timur.
Sementara itu, selain Forisni Aprilista, tokoh perempuan lainnya yang turut menandatangani nota kesepahaman tersebut adalah Amrina Habibi, tokoh perempuan Aceh yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak (PHA) di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Aceh. Dia juga merupakan salah satu presidium Balai Syura Ureung Inong Aceh.
International Women’s Peace Conference 2025 mempertemukan perempuan di seluruh dunia yang tak henti-hentinya berkarya dan bersatu demi perdamaian di tengah konflik dan perang. Momen ini menjadi wadah yang bermakna untuk membahas langkah-langkah konkret demi perdamaian berkelanjutan.
Tema konferensi ini adalah "Melampaui Konflik: Kepemimpinan Perdamaian Perempuan Menuju Harapan dan Pemulihan," yang mengeksplorasi metode pembangunan perdamaian berkelanjutan dengan 800 peserta dari Korea dan mancanegara.
International Women's Peace Group (IWPG) adalah sebuah organisasi perdamaian internasional yang memiliki status konsultatif spesial di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (UN ECOSOC). IWPG bekerja secara internasional dengan hati seorang ibu untuk mencapai perdamaian yang melampaui kebangsaan, etnis, dan agama.
Selama lokakarya, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk meninjau tujuan dan pencapaian masing-masing sebagai bagian dari keluarga perdamaian dan membahas tantangan serta peluang masa depan dengan rencana aksi konkret.
Konferensi ini diterjemahkan secara serentak ke dalam enam bahasa yakni Inggris, Korea, Prancis, Spanyol, Arab, dan Mongolia. Kegiatan juga disiarkan langsung dalam dua bahasa lainnya yaitu Jepang dan Ceko.
"Saya berharap anak-anak muda di Kotim khususnya bisa terinspirasi dan punya semangat untuk maju dan terus belajar. Keterbatasan jangan dijadikan sebagai hambatan, tetapi justru dijadikan sebagai pemicu semangat," demikian Forisni Aprilista.
Baca juga: Wabup Kotim ingatkan pegawai BNNK harus bisa jaga kerahasiaan
Baca juga: Bunda PAUD Kotim ajak masyarakat dukung program wajib belajar 13 tahun
Baca juga: DPRD Kotim berharap Bulog konsisten serap gabah petani
