Sampit (Antara Kalteng) - Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, khususnya yang sering beraktivitas di sungai Mentaya diminta tetap waspada karena saat ini masih masuk masa rawan sambaran buaya.

"Evaluasi kami sejak tahun 2012, sambaran buaya sering terjadi antara Januari hingga April setiap tahunnya. Ada yang menyebut karena ini musim kawin sehingga buaya lebih agresif, tapi kami tetap melihatnya karena faktor makin berkurangnya makanan bagi buaya," kata Komandan Pos Jaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah di Sampit, Rabu.

Sejauh ini, insiden buaya menyambar manusia sering terjadi di kawasan muara yang mencakup perairan Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara. Dalam beberapa tahun terakhir, sudah banyak korban jiwa akibat keganasan buaya muara, bahkan ada yang jenazahnya hingga kini tidak bisa ditemukan.

Buaya yang banyak menyerang manusia adalah jenis buaya kodok atau buaya muara, bukan buaya capit. Belum diketahui jumlah populasi buaya di kawasan muara sungai Mentaya, namun survei populasi buaya rencananya akan dilakukan tahun ini dengan melibatkan tim ahli.

Muriansyah menduga, rusaknya habitat buaya yang diperkirakan di kawasan Pulau Lepeh dan sekitarnya, membuat buaya berkeliaran hingga perairan sekitar permukiman. Mereka mencari mangsa untuk bertahan hidup karena di habitat merteka mulai sulit mendapatkan makanan.

"Buaya menyambar manusia karena memang makanan semakin sulit didapat. Walaupun kejadian banyak di muara, tapi kami ingatkan warga di Kecamatan Ketapang dan Baamang juga waspada karena buaya ini hidup dan bisa saja menyasar hingga ke kawasan lain. Makanya harus berhati-hati saat beraktivitas di sungai," ucap Muriansyah.

Untuk mencegah korban jiwa, BKSDA sudah memasang rambu peringatan di sejumlah lokasi terkait populasi buaya yang bisa mengancam keselamatan. Masyarakat yang beraktivitas di sungai diminta selalu waspada karena buaya pemangsa bisa muncul kapan saja.