Palangka Raya (ANTARA) - Sekretaris Kedutaan Vatikan untuk Indonesia, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Superior Jendral MSF dan Uskup atau petinggi umat Katolik dari berbagai provinsi di Indonesia, turut menghadiri puncak Pesta Perak Pentahbisan Episcopal Uskup Keuskupan Palangka Raya Mgr Aloysius Sutrisnaatmaka MSF di Gereja Katedral Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu.
Mgr Aloysius pun mengaku grogi serta tak menyangka pesta perak Pentahbisan dirinya bukan hanya megah, tetapi juga dihadiri banyak petinggi gereja serta umat Katolik dari berbagai provinsi di Indonesia.
"Saya mencoba tetap tenang, agar tidak terlihat grogi," ucapnya disambut tawa para imam serta umat Katolik yang hadir dalam misa syukur pesta perak.
Petinggi umat Katolik Kalteng itu pun membenarkan pakaian yang dipakai dirinya saat ini, sama persis 25 tahun silam ketika Pentahbisan sebagai Uskup Keuskupan Palangka Raya.
"Kalau ditelisik lebih jauh, sepatu yang saya pakai saat ini, sama persis 25 tahun silam. Kalau tidak percaya, silahkan lihat di video Pentahbisan yang diputar tadi," beber Mgr Aloysius.
Sebelumnya, Ketua Panitia Pesta Perak sekaligus Vikjen Keuskupan Palangka Raya Pastor Silvanus Subandi mengenang awal kedatangan Mgr Aloysius ke Kalimantan Tengah pada Mei 2001. Di mana ketika itu, provinsi ini masih berada dalam suasana pasca-krisis yang penuh tantangan.
Baca juga: Uskup Palangka Raya minta pelajar Katolik tak sekadar mengejar nilai tinggi
"Rasanya baru kemarin, karena saya pun terlibat dalam kepanitiaan 25 tahun yang lalu. Saat itu kita masih diliputi suasana tegang pasca-krisis. Kehadiran beliau membawa pesan damai dan semangat kebersamaan," beber Pastor Subandi.
Semangat perdamaian itu, lanjutnya, tercermin melalui berdirinya Seminari Menengah Raja Damai di belakang Gereja Katedral Palangka Raya. Nama 'Raja Damai' dipilih sebagai simbol harapan, agar masyarakat terus bertumbuh dalam persaudaraan dan melupakan luka masa lalu.
Dalam 25 tahun kepemimpinannya, Mgr. Aloysius juga dinilai berhasil membawa Gereja Katolik semakin dekat dengan masyarakat, terutama melalui pelayanan sosial dan kesehatan. Salah satunya ditandai dengan hadirnya Rumah Sakit Primaya Betang Pambelum.
"Kehadiran rumah sakit ini bukan semata dimensi bisnis kesehatan, tetapi bentuk pelayanan gereja kepada masyarakat demi peningkatan kualitas hidup," demikian Pastor Subandi.
Baca juga: Pemimpin umat Katolik Kalteng dikenal tenang dan tak mudah terprovokasi
Baca juga: Keuskupan Palangka Raya bangun 'Rumah Marilah Kita Berdoa' di Katolik Center
Baca juga: Gubernur Kalteng dan Uskup Palangka Raya saling sanjung di Episcopal