Palangka Raya (ANTARA) - Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran langsung merespons kritik masyarakat terkait pengecatan sejumlah ruas jalan protokol di Kota Palangka Raya, karena dianggap hasil pengerjaannya belum optimal.
Orang nomor satu di lingkup pemerintah provinsi ini bahkan menyampaikan permintaan maaf atas kurang optimalnya pengerjaan cat jalan tersebut, saat bertemu dengan para wartawan di Istana Isen Mulang, Kota Palangka Raya, Selasa.
"Saya melihat kritikan itu bentuk kecintaan masyarakat terhadap pembangunan di Kalteng," ujar Agustiar.
Dia pun menegaskan pengecatan jalan protokol dilakukan, sebagai upaya memberikan kenyamanan bagi warga yang bersepeda, mempercantik kota, sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah.
Hal itu terlihat dari selain melakukan pengecatan, pemprov juga merapikan pepohonan rimbun di pinggir jalan serta memasang lampu penerangan. Namun, ia jujur mengakui ada masalah pada pelaksanaan pengecatan.
"Harus diakui, catnya cepat hilang, sehingga tidak sesuai harapan," katanya.
Gubernur pun menyoroti dugaan adanya pola kerja 'ABS' (Asal Bapak Senang) di beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pekerjaan kerap hanya dipercayakan kepada anak buah tanpa pengawasan dan pengecekan langsung di lapangan.
"Saya akui ada yang kurang. Saya minta maaf untuk kekurangan itu. Saya tidak mau menyalahkan OPD saya, saya yang salah. Tapi OPD itu juga harus tahu konsekuensinya," tegas Agustiar.
Ia telah memerintahkan Inspektorat Provinsi Kalteng untuk segera memeriksa pelaksanaan proyek pengecatan tersebut, termasuk menentukan apakah pekerjaan akan dilanjutkan atau dihentikan.
Baca juga: Kalteng Expo 2026 ruang promosi ragam potensi dan produk unggulan daerah
Meski demikian, Agustiar tetap membela kinerja OPD secara keseluruhan, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalteng. Sebab, apa yang dikerjakan OPD selama ini pada dasarnya bagus semua. Hanya pengecatan jalan protokol ini saja yang kurang optimal.
"Apakah ini kekeliruan OPD atau pelaksana proyek, nanti Inspektorat yang akan memeriksanya," demikian Agustiar.
Respons terbuka Gubernur Agustiar ini mendapat perhatian publik, karena jarang seorang kepala daerah langsung mengakui kesalahan dan bersedia dievaluasi. Masyarakat kini menunggu hasil pemeriksaan Inspektorat apakah proyek ini akan diperbaiki atau dievaluasi lebih lanjut.
Baca juga: Gegap gempita Karnaval Budaya Kalimantan Tengah berpadu dalam harmoni
Baca juga: FBIM sarana pelestarian dan panggung atraksi kebudayaan di Kalimantan Tengah
Baca juga: Semarak Kejurnas Adventure Offroad Putaran II Piala Gubernur dan Tangkiling Offroad Extreme 4