Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyebut fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) menjadi salah satu faktor yang memicu peningkatan curah hujan di wilayah setempat dalam beberapa waktu terakhir.
“Saat ini kita masih dalam fase transisi, dari musim hujan ke musim kemarau, selain itu sekarang juga di Indonesia ini ada aktivitas MJO (Median Julian Oscillation). Jadi kemungkinan besar penyebab curah hujan cukup tinggi kemarin itu salah satunya itu,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo di Sampit, Rabu.
Curah hujan di wilayah Kotim belakangan ini tergolong cukup tinggi, bahkan di beberapa wilayah, terutama di bagian utara dan perkotaan, mengalami banjir dengan kedalaman yang bervariasi.
Mulyono menjelaskan, sebenarnya untuk prediksi musim di wilayah Kotim masih sama seperti sebelumnya, yakni musim kemarau diprakirakan akan mulai terjadi pada Juni dan saat ini Kotim dalam masa peralihan musim atau fase transisi.
Namun, karena adanya gangguan cuaca menyebabkan curah hujan yang cukup tinggi selama beberapa hari berturut-turut hingga tak sedikit warga yang mengira bahwa saat ini Kotim masih diliputi musim hujan.
Gangguan cuaca tersebut berupa fenomena MJO, yakni gelombang atau aktivitas atmosfer skala besar berupa kumpulan awan badai dan kelembapan yang bergerak lambat dari arah barat ke timur. Salah satu dampak dari fenomena ini adalah peningkatan pembentukan awan hujan .
“Di Indonesia saat ini ada aktivitas MJO, siklusnya itu terjadi 30-60 hari. Jadi siklus ini menyebabkan peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah dan kita di Kotim termasuk wilayah tengah,” jelasnya.
Baca juga: Pemkab Kotim dukung penguatan organisasi parpol demi situasi kondusif daerah
Mulyono melanjutkan, fenomena MJO sebenarnya merupakan siklus cuaca yang normal dalam meteorologi dan terus berulang dalam periode tertentu. Ketika fase aktif MJO melintasi wilayah Indonesia, maka dampak yang paling terlihat adalah meningkatnya curah hujan dibanding biasanya.
Ia menerangkan, MJO memiliki delapan kuadran atau fase pergerakan yang terus berputar secara berkala. Indonesia berada pada wilayah kuadran maritim atau sekitar kuadran tiga dan empat sehingga ketika fase aktif memasuki wilayah tersebut, dampaknya dapat dirasakan.
“Jadi MJO ini memang siklus normal yang terus berulang setiap 30 sampai 60 hari. Ketika fase aktifnya berada di wilayah Indonesia, maka dampaknya salah satunya peningkatan curah hujan,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan aktivitas MJO diperkirakan mulai menjauh dari wilayah Indonesia dalam tiga hingga empat hari ke depan. Kondisi cuaca di Kotim pun diprediksi berangsur normal dan secara bertahap memasuki pola musim kemarau.
Meski begitu, BMKG masih memperkirakan adanya peluang hujan ringan hingga sedang dalam beberapa hari mendatang sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di daerah rawan genangan dan banjir.
“Untuk beberapa hari ke depan masih ada peluang hujan ringan sampai sedang. Tetapi secara umum kondisi akan kembali normal dan menuju peralihan musim kemarau,” demikian Mulyono.
Baca juga: Pembina Posyandu Kotim pantau penerapan 6 SPM di Baamang Barat
Baca juga: Kodim 1015/Sampit kerahkan alat berat percepat pembangunan Yonif TP 923/Mentaya
Baca juga: Kodim 1015/Sampit perkuat pelayanan sosial kepada warga Pasir Putih