Logo Header Antaranews Kalteng

Minat Membudidayakan Ikan Kotawaringin Timur Terkendala Benih

Rabu, 13 April 2016 12:39 WIB
Image Print
Ilustrasi (FOTO ANTARA/Musyawir)
...Di balai benih sebenarnya ada, tapi kadang jumlahnya terbatas sehingga masyarakat akhirnya harus membeli dari penjual benih,"

Sampit (Antara Kalteng) - Minat masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, untuk membudidayakan ikan makin meningkat, namun sayangnya terkendala mahal dan sulitnya mendapatkan benih ikan.

"Kalau dibandingkan di Banjarmasin (Kalimantan Selatan), harga benih ikan di daerah kita ini jauh lebih mahal karena sebagian besar didatangkan dari Jawa. Di balai benih sebenarnya ada, tapi kadang jumlahnya terbatas sehingga masyarakat akhirnya harus membeli dari penjual benih," kata Heru, salah seorang pembudidaya ikan di Sampit, Selasa.

Harga benih ikan di kalangan pedagang di Sampit antara Rp250 hingga Rp800 per ekor, tergantung jenis dan ukuran. Untuk membeli dalam jumlah banyak, pembudidaya harus memesan terlebih dulu dan menunggu sekitar satu pekan karena pedagang harus mendatangkan benih tersebut dari Jawa.

Masyarakat mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah mendorong peningkatan produksi ikan melalui budidaya. Seharusnya, pemerintah daerah menyambut tingginya minat masyarakat membudidayakan ikan dengan menyiapkan bantuan seperti benih ikan yang mencukupi, terpal untuk kolam, serta obat-obatan yang dibutuhkan.

"Kalau pemerintah bisa membantu pembudidaya, atau setidaknya menyiapkan benih dan perlengkapan lain dengan harga terjangkau, saya yakin hasilnya akan kelihatan signifikan. Kita tidak perlu lagi mendatangkan ikan dari daerah lain, bahkan nanti bisa saja justru kita yang bisa memasok ke luar daerah," kata Joko, pembudidaya ikan lainnya.

Jenis ikan yang banyak dibudidayakan masyarakat adalah nila, patin, mas dan lele. Ikan nila cukup diminati pembudidaya karena masa panen relatif cepat, sementara harganya cukup tinggi mencapai Rp36.000/kg, sedangkan patin hanya sekitar Rp26.000/kg. Bahkan saat permintaan meningkat, harga bisa melambung tinggi.

Pemerintah daerah memang mendorong masyarakat membudidayakan ikan. Berbagai bantuan diberikan seperti keramba apung, terpal untuk pembuatan kolam dan benih ikan jelawat, namun jumlahnya terbatas.

Hasilnya, masyarakat yang berminat memulai usaha budidaya ikan harus berjuang sendiri dan berusaha mandiri karena minimnya bantuan, ujarnya.




Pewarta :
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026