Logo Header Antaranews Kalteng

Pemkab Pulpis Waspada KLB Penyakit Difteri

Jumat, 22 April 2016 03:21 WIB
Image Print
Bupati Pulang Pisau, H Edy Pratowo (dua kiri) didampingi Kepala Dinas Kesehatan dr Muliyanto Budihardjo merasa prihatin dan melihat dari dekat kondisi Rahmah penderita Difteri yang dirawat di RSUD Pulang Pisau. (Foto Humas Pulang Pisau)

Pulang Pisau (Antara Kalteng) - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, dr Muliyanto Budihardjo mengatakan tidak menutup kemungkinan di daerah itu ditetapkan menjadi kejadian luar biasa penyakit Difteri, karena penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri yang sangat rawan menular kepada individu lainnya.

"Penyakit ini baru pertama kali ditemukan di daerah setempat setelah RSUD Pulang Pisau merawat satu korban bernama Rahmah berusia 4 tahun. Untuk saat ini penderita Difteri tersebut sudah dirujuk di RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya," kata Muliyanto di Pulang Pisau, Kamis.
Menurut Muliyanto, penyakit Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang sangat rawan menular kepada individu lainnya.

Dari pasien tersebut, kata dia, ada dua penderita lagi yang terindikasi menderita penyakit ini yang masih dalam satu keluarga.

Penyakit ini terang dia, menyerang tenggorokan dan membuat penderita tidak bisa makan dan minum, apabila kronis bisa menyebabkan meninggal dunia.
Gejala penyakit ini, kata Muliyanto, diantaranya terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam, sakit tenggorokan dan suara serak, dan pembengkakan. Penularan bakteri dari penyakit ini cukup cepat, karena bisa menular melalui udara ketika penderita bersin atau batuk. Selain itu, penularan lain terjadi melalui barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri yang digunakan oleh penderita.
Meski penyakit ini mudah menular, terang Muliyanto, tetapi bisa diobati. Penyakit ini terjadi karena penderita sebelumnya tidak mendapatkan vaksin atau imunisasi sehingga tidak mendapatkan kekebalan tubuh dan perlindungan dari bakteri maupun virus.
Muliyanto menjelaskan, dua penderita Difteri lainnya berusia 10 tahun dan 7 tahun. Keduanya masih mendapatkan pengawasan yang ketat, agar penyakit ini tidak menular dalam skala yang lebih besar.

Untuk menghindari penularan, adalah dengan menghindari penderita secara langsung karena resiko penularan dengan cepat melalui udara.
"Ini kejadian pertama kali yang kita temukan dan penderita merupakan penduduk pendatang dan kita memperketat pengawasan agar penyakit ini tidak menular lebih luas," ucap Muliyanto.
Sebelumnya, Bupati H Edy Pratowo menyempatkan diri untuk melihat langsung penderita Difteri di RSUD Pulang Pisau.

Orang nomor satu di Bumi Handep Hapakat ini mengaku merasa prihatin dengan kondisi yang dialami Rahmah. Ia meminta agar instansi terkait bisa melakukan penanganan secara cepat kepada penderita yang masih balita tersebut, selain itu meminimalisir penyebaran penyakit yang rawan menular ini.



Pewarta :
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026