Perang Dagang Sawit Hadapi Eropa, Pemerintah RI Siap!

id perang dagang sawit, sawit, kampanye negatif sawit

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kanan). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Nusa Dua, Bali (Antara Kalteng) - Pemerintah Indonesia siap menghadapi perang dagang yang dilancarkan negara-negara Eropa, antara lain dalam bentuk kampanye negatif terhadap sawit nasional.
       
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam Konferensi Sawit Internasional atau Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2017 di Nusa Dua, Bali, Jumat, mengatakan, selama ini isu-isu  negatif terhadap minyak sawit (CPO) semata-mata merupakan persaingan tidak sehat antara minyak nabati.
        
"Eropa selalu membantah kalau (kampanye negatif pada sawit) dikatakan sebagai 'trade war' (perang dagang). Kita akan proaktif hadapi mereka. Kita akan mulai 'trade war'," kata Mendag.
        
Menurut Enggartiasto, Indonesia tidak keberatan dengan berbagai ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan Uni Eropa terhadap produk minyak sawit Indonesia yang masuk ke pasar mereka.
         
Namun demikian pemerintah Indonesia menilai ketentuan-ketentuan yang diterapkan tersebut bersifat diskriminatif hanya dikenakan terhadap produk sawit sedangkan minyak nabati lain dari negara-negara Eropa tidak dikenai.
         
Padahal, lanjutnya, minyak sawit merupakan komoditas perkebunan yang paling sedikit menggunakan lahan serta paling  hijau dibandingkan minyak nabati lain seperti bunga matahari ataupun rape seed yang dibudidayakan di Eropa.
        
Bahkan, dari sisi kesehatan, menurut Menteri, tuduhan mereka bahwa minyak sawit memiliki dampak negatif selama ini juga tidak terbukti secara ilmiah, berbeda dengan minyak dari produk hewan.
        
Begitu juga tuduhan penggunaan tenaga kerja anak serta kesejahteraan petani, penyebab kebakaran lahan dan hutan tambahnya, tidak terbukti karena industri sawit sangat taat memenuhi aturan yang ditetapkan.
        
"Jadi isu yang terus menerus dihembuskan pada industri sawit itu bagian dari perang dagang dan persaingan," ujarnya.
         
Mendag mengakui, selama ini seluruh pemangku kepentingan industri sawit di Tanah Air, baik pemerintah maupun pelaku usaha lebih menempuh cara-cara bertahan atau defensif enghadapi serangan dagang yang dilancarkan Eropa melalui kampanye negatif pada sawit.
        
Oleh karena itu, dia meminta seluruh pemangku kepentingan industri sawit di Tanah Air untuk bersatu menghadapi isu-isu negatif yang selalu dilancarkan mereka. "Kita harus offensif jangan defensif menghadapi mereka," katanya.
         
Terkait langkah nyata yang akan dilakukan pemerintah dalam menghadapi serangan terhadap industri sawit nasional oleh Eropa, Mendag mengungkapkan, pihaknya siap menghentikan impor bubuk susu dari Eropa yang dinilai juga mengganggu produksi peternak sapi perah dalam negeri.
        
"Kita wajib melindungi peternak susu dalam negeri. Kita akan lakukan itu (stop impor bubuk susu)," katanya.
         
Selain itu, tambahnya, bisa saja Indonesia menghentikan ekspor minyak sawit ke Eropa dalam satu bulan yang pasti akan berdampak terhadap seluruh kehidupan mereka terutama saat musim dingin.
        
Menyinggung pembukaan pasar baru di luar Eropa terhadap ekspor minyak sawit Indonesia, Mendag menyatakan, pemerintah siap melakukan hal itu.
        
Kegiatan IPOC yang tahun ini memasuki tahun ke-13 diikuti sebanyak 1.500 peserta dari 23 negara, dibuka Menko Perekonomian Darmin Nasution mewakili Presiden Joko Widodo serta dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Jalil.
        
IPOC 2017 yang mengangkat tema "Growth through Productivity: Partnership with Smallholders" tersebut berlangsung 1-4 November 2017.

Pewarta :
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar