Usaha Kuliner Tradisional Makin Diminati di Sampit

id rumah makan Dapoer Bahari, Fauzan Aprilianor, Usaha Kuliner Tradisional

Pengelola rumah makin Dapoer Bahari menampilkan nuansa tradisional berkonsep dakwah, Jumat (12/1/2018). (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Usaha kuliner dengan konsep tradisional cukup diminati masyarakat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sehingga menjadi ide bermunculan rumah makan yang mengusung konsep tradisional.

"Pengamatan kami, konsep tradisional cukup diminati masyarakat. Sejauh ini Alhamdulillah respons masyarakat cukup bagus," kata Koordinator pengelola rumah makan Dapoer Bahari Fauzan Aprilianor, di Sampit, Jumat.

Saat ini cukup banyak rumah makan di Sampit yang mengusung konsep tradisional. Nuansa tradisional ditampilkan melalui bentuk bangunan terbuat dari kayu beratap daun, dipadu dengan berbagai pernak-pernik yang makin menguatkan nuansa tradisional.

Pada bantaran Sungai Mentaya, Kecamatan Baamang setidaknya ada empat rumah makan berkonsep tradisional, yakni Rumah Makan Kampung Ulin, D`layar, Batu Mandi, dan Jelodong. Pada lokasi lainnya, ada Rumah Makan Bambu Kuning, Mentaya, dan lainnya.

Dapoer Bahari adalah rumah makan berkonsep tradisional yang baru dibuka. Rumah makan yang terletak di Jalan Pemuda itu dikelola bersama oleh sembilan pemuda yang tertarik berbisnis kuliner, sekaligus memberikan peluang kepada pelaku usaha kecil lainnya yang ingin membuka usaha kuliner.

Ada 14 los kedai yang mereka siapkan. Sebanyak sembilan los kedai digunakan para pengelola dengan jenis usaha kuliner masing-masing, sedangkan sisanya disewakan kepada pelaku usaha lainnya.

Desain rumah makan ini cukup unik. Selain menguatkan kesan tradisional, pengelola juga membawa pesan moral dan dakwah melalui tulisan kalimat-kalimat nasihat dan motivasi yang ditulis di dinding balai-balai tempat makan.

Pembeli yang datang tidak hanya kalangan remaja, tetapi rombongan keluarga dan komunitas. Mereka mengaku cukup terhibur dengan kalimat-kalimat positif yang terpampang di dinding balai-balai tempat mereka menyantap makanan.

"Pengamatan kami, konsumen di Kotawaringin Timur selain mengutamakan rasa, juga memperhatikan masalah harga. Makanya makanan di tempat kami ini harganya lebih murah dibanding tempat lain. Untung kami akhirnya memang tidak terlalu banyak, tapi berkelanjutan," kata Fauzan.

Bermunculan rumah makan di Sampit disambut positif masyarakat dan pemerintah daerah, sejalan dengan tekad pemerintah daerah menjadikan Sampit sebagai kota tujuan wisata di Kalimantan Tengah.

Pewarta :
Editor: Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar