Logo Header Antaranews Kalteng

Merajut asa bersama pejuang pembela negeri

Rabu, 24 Oktober 2018 16:54 WIB
Image Print
Anggota Kodim 1015/Sampit bekerjasama dengan warga di Desa Halimaung Jaya, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, Kabupaten Seruyan, saat mengerjakan pembangunan jalan penghubung desa beberapa waktu yang lalu. (Foto Antara Kalteng / Muhammad Arif Hidayat)
dahaga pembangunan tersebut segera berakhir, Beringin 13 tak akan menyakitkan lagi

Kuala Pembuang (Antaranews Kalteng) - Kala itu sang surya dengan gagahnya menampakkan diri dan menyapa masyarakat Desa Halimaung Jaya, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Di tengah hangatnya sinar mentari, tampak sekelompok orang sibuk beradu dengan pasir serta bebatuan yang berada di ujung desa.

Mereka adalah Tentara Nasional Indonesia atau yang kita kenal dengan sebutan TNI. Penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu terlihat bekerjasama dengan penduduk desa. Mereka bahu-membahu membangun jalan penghubung antara permukiman dengan lahan perkebunan milik masyarakat.

Meski keringat bercucuran, namun canda tawa menghiasi wajah-wajah para pejuang pembela negeri itu. Semangat gotong royong mereka bekerja dan secara perlahan menyelesaikan pembangunan jalan yang memang penting keberadaannya.

Jalan penghubung yang sedang dikerjakan itu bernama Beringin 13. Jalan sepanjang 2 kilometer tersebut merupakan satu-satunya penghubung antara permukiman dengan ratusan hektar lahan perkebunan milik warga.

Menurut pengakuan penduduk setempat, sudah puluhan tahun lamanya jalan ini tidak tersentuh pembangunan, alur tanah yang tak sempurna setia menemani dan mengantarkan mereka menuju lahan perkebunan.

Meski setia namun seringkali berulah, apalagi di saat musim penghujan tiba. Tanah yang becek membuat sulit warga yang biasa melaluinya dengan kendaraan roda dua, bahkan sialnya tak sedikit yang harus terjatuh karenanya.

Wagiran salah seorang penduduk desa, merupakan satu dari sekian banyak korban kejamnya Beringin 13. Jatuh saat melaluinya terlebih di musim penghujan bukanlah hal yang mengejutkan.

Walaupun kadang menyakitkan tetapi tidak ada pilihan lain bagi warga, selain melewatinya dengan hati-hati agar tidak terjatuh. Apalagi di saat musim panen tiba dan mengharuskan mereka berkendara mengangkut hasil kebun.

"Saat musim penghujan jalan menjadi becek dan licin, jika kami tidak berhati- hati maka rawan terjatuh. Untuk mengangkut hasil panen dari kebun biasanya menggunakan sepeda motor dan dibuatkan tempat khusus untuk membawa buahnya," kata ayah sepuluh anak itu.

Jalan penghubung yang dibangun. (Foto Antara Kalteng / Muhammad Arif Hidayat)

Namun tampaknya dahaga pembangunan tersebut segera berakhir, Beringin 13 tak akan menyakitkan lagi. Berkat TNI yang datang bersama program Tentara Manunggal Membangun Desa atau TMMD.

Layaknya super hero yang akan menumpas penjahat dalam cerita fiksi, kedatangan TNI disambut penuh suka cita oleh warga desa.

"Mereka datang di saat yang tepat, karena mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang selama ini kami hadapi," terang pria paruh baya ini.

TNI dan masyarakat kompak bekerjasama memperbaiki jalan dengan melakukan semenisasi. Tanpa adanya batasan usia, tua ataupun muda turun ke jalan membantu menyelesaikan pekerjaan bersama tersebut.

Tak hanya berhenti memperbaiki satu jalan saja, beberapa jalan poros yang ada di desa pun tak luput dari sentuhan tangan ajaib pasukan terdepan pembela tanah air.

Selain itu sejumlah rumah ibadah berupa mushola dan jembatan penghubung turut diperbaiki dan tak lupa dibangun sebuah pos kamling agar warga secara rutin berjaga di malam hari.

Muhammad Sawal yang menjadi Penjabat Kepala Desa Halimaung Jaya mengungkapkan, rasa senang dan haru dialami warga ketika mendengar TMMD akan dilaksanakan di tempat mereka.

"Wajar jika kami bahagia karena dibandingkan desa lainnya yang ada di kecamatan ini, pembangunan disini memang lebih tertinggal," tuturnya.

Pembangunan yang dapat dilakukan pemerintah desa sangatlah terbatas, karena alokasi dana yang didapat setiap tahunnya harus dibagi ke sejumlah sektor.

Tidak hanya membangun ataupun meningkatkan sarana dan prasarana fisik semata, pemberdayaan masyarakat juga tak kalah penting dan harus diprioritaskan.

TMMD pun menjadi angin segar yang dianggap sebagai bala bantuan yang selama ini dinantikan. Apalagi setelah penentuan sasaran kegiatan yang akan dilaksanakan, begitu banyak sumbangan pembangunan yang bakal diwariskan kepada warga.

Mungkin tanpa adanya TMMD semua sasaran kegiatan tetap mampu direalisasikan secara mandiri. Namun tentu tidak akan terwujud dalam waktu dekat, bisa saja setelah bertahun-tahun berlalu barulah kemudian dapat tercapai atau bahkan kapanpun itu dengan sebuah ketidakpastian.

Warga sangat antusias membantu membangun Jalan penghubung tersebut. (Foto Antara Kalteng / Muhammad Arif Hidayat)

Semua alasan inilah yang melatarbelakangi semangat warga membantu TNI dalam menyelesaikan pekerjaan mereka, hingga akhirnya bermuara pada senyuman bahagia saat menyaksikan berbagai kegiatan pembangunan berhasil dilakukan dalam waktu singkat.

Inilah bukti nyata betapa besarnya kekuatan yang didapat dari semangat gotong royong. Seperti semut yang tidak akan mampu mengangkat beban berat jika sendirian, namun sangat mudah ia lakukan saat bersama dengan semut lainnya.

Semangat gotong royong merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia yang menjadi tradisi secara turun-temurun dari leluhur yang sudah seharusnya dijaga.

Komandan Kodim 1015/Sampit Letkol Inf Sumarlin Marzuki mengatakan, melalui TMMD diharapkan kesejahteraan warga desa dapat meningkat, sehingga mampu mengejar ketertinggalan dan berdiri sejajar dengan mereka yang bermukim di kota yang serba ada.

Hakikatnya semua warga di negara ini memiliki hak yang sama dalam pembangunan, untuk itu upaya ini diharapkan mampu mengentaskan ragam permasalahan yang dialami warga desa.

Pada TMMD XI tahun anggaran 2018 di Desa Halimaung Jaya, kegiatan pembangunan terbagi menjadi dua, yaitu sasaran fisik dan non fisik.

Sasaran fisik terdiri dari pembangunan jalan penguhubung, jalan poros desa, sejumlah jembatan, rumah ibadah dan mushola.

Sementara untuk non fisik meliputi pengobatan gratis, pasar murah, pelayanan dan penyuluhan keluarga berencana, penyuluhan narkoba, kebakaran hutan dan lahan, bela negara serta wawasan kebangsaan.

"Kami ingin desa beserta warganya maju dan berkembang. Peningkatan sarana dan prasarana yang dimiliki harus seimbang dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya," tegasnya.

Hingga pada akhirnya mereka mencapai kesejahteraan serta memiliki kesadaran dan kemauan yang kuat untuk membela tanah air maupun mewujudkan Indonesia yang berdaulat.



Pewarta :
Editor: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026