Psikiater dan psikolog tawarkan terapi kognitif dalam pengobatan pasien COVID

id Psikiater ,psikolog,pasien covid,terapi kognitif dalam pengobatan pasien COVID

Psikiater dan psikolog tawarkan terapi kognitif dalam pengobatan pasien COVID

Ilustrasi - Pasien COVID-19 (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Psikiater dari Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr. Era Catur Prasetya menawarkan terapi kognitif perilaku atau CBT (cognitive behavioral therapy) berbasis spiritual dalam pengobatan pasien COVID-19 yang bisa berperan membantu memulihkan depresi mereka.

"(Terapi) CBT yang dilakukan berorientasi meningkatkan faktor protektif kita. Salah satu cara untuk membantunya pulih dari depresinya meningkatkan faktor protektifnya, salah satunya spiritualnya," ujar dia dalam webinar "Pendekatan Kesehatan Spiritual Dalam Penanganan Pasien COVID-19" pada Jumat (12/2) malam.

Menurut Era, seseorang bisa mengalami depresi tidak hanya karena sebuah peristiwa sangat bermakna tetapi juga ada beberapa faktor genetik dan kerentanan psikologis yang berperan.

Atas dasar itu, melalui CBT, tenaga kesehatan bisa mengubah pemikiran pasien. Harapannya, ketika pemikiran berubah maka perasaan dan perilaku pasien juga ikut berubah, menjadi lebih tenang.

Era menyebut, CBT yang dilakukan mirip sekali seperti pemberian obat-obatan untuk menenangkan. Ada 10 sesi dalam tatalaksana terapi. Pertama, membina raport. Pasien melaporkan merasa terbebani dengan motivasi, kata-kata "semangat", "ayo bisa" di saat mereka sedang lelah. Hal yang paling dibutuhkan pasien rasa percaya kondisinya tidak mudah.

Kedua, aktivasi perilaku. Tenaga kesehatan bisa menunjukkan perilaku pasien bisa mempengaruhi kognitifnya terhadap masalah.

Sesi ketiga hingga keenam yakni mengidentifikasi pikiran yang tidak membantu, lalu menantang pikiran yang tidak bermanfaat, diikuti menghadapi kehilangan, koping dengan ketahanan spiritual dan emosi negatif.

Sesi ketujuh hingga kesembilan yakni, bersyukur dan mengembangkan interaksi sosial dan spiritual, kemudian altruisme dan kemurahan hati seperti refleksi diri dan perilaku yang baik serta bahasan terkait stres dan pertumbuhan spiritual.

Terakhir, harapan dan pencegahan kekambuhan dengan mengembangkan tujuan, memahami arti cobaan kehidupan dan menemukan makna hidup.

"Kunci dalam CBT adalah journaling atau menulis jurnal menggunakan kertas dan pulpen untuk mengembalikan seseorang pada kesadarannya. Kami berikan pengalaman baru, ingatan baru bahwa cara menghadapi trauma akan berbeda, melupakan trauma," tutur Era.


Rekomendasi psikolog

Psikolog yang aktif dalam kegiatan Lembaga Perlindungan Korban dan Saksi (LPSK), Dinuriza Lauzi merekomendasikan penyembuhan diri sendiri melalui pendekatan psikospiritual.

Menurut dia, pengalaman atas peristiwa negatif misalnya dengan didiagnosais COVID-19 bisa dijadikan sumber kekuatan, lebih positif saat seseorang merasa kondisinya sedang tidak berdaya.

Ada empat hal yang bisa dilakukan untuk pasien. Pertama, memberi dorongan doa yakni bagaimana memberikan program pada pasien atau sebaliknya, pasien membuat program untuk dirinya sendiri.

"Tenaga kesehatan di rumah sakit bisa memberikan semacam motivasi pada pasien agar melakukan program pada dirinya sendiri agar dia merasa memiliki ketenangan. (Bisa dengan ayat-ayat suci al-qur'an atau kitab suci lainnya)," tutur Niza.

Kedua, afirmasi yakni bagaimana menyampaikan berulang-ulang setiap bangun tidur misalnya hadist apabila pasien muslim untuk meningkatkan ketenangan dan harapannya.

Ketiga, self talk yakni berdialog antara pasien dan Tuhan-nya misalnya permohonan agar disembuhkan Sang Pencipta. Niza mengatakan, sesi ini difokuskan pada bagaimana perasaan secara psikologis seorang pasien menumbuhkan pengalaman spiritualnya.

Terakhir, meditasi yang biasanya dimaknai dengan duduk bersila, memejamkan mata, menenangkan diri misalnya dengan mendengarkan suara burung berkicau dan sebagainya. Tetapi dalam konteks pasien COVID-19, mereka bisa diajak berdzikir bila muslim sebagai bentuk praktek meditasinya atau memanjatkan doa Rosario bagi pasien beragama Katolik.

Niza menuturkan, saat seseorang didiagnosis COVID-19, maka muncul turbulensi psikologis. Saat itu muncul keterkaitan antara kesendirian dengan hubungan vertikal kepada Tuhan-nya misalnya melalui pertanyaan, "mengapa bisa saya yang kena"?.

"Ketika seseorang terdiagnosis COVID-19, maka pendekatan psikospiritual yang perlu dilakukan, memaknai pemikiran pasien terhadap bagaimana dia menyikapi kondisi medisnya. Kondisi pasien dalam kesendirian menumbuhkan kontak batin, connecting banget sama Tuhan-nya. Dia butuh pegangan yang kuat agar masih memiliki harapan untuk hidup," demikian kata dia.