
Penjualan kembang api di Sampit merosot jelang Tahun Baru 2026

Palangka Raya (ANTARA) - Menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026, penjualan kembang api di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengalami penurunan drastis dibanding tahun sebelumnya pada momentum yang sama.
“Tahun ini omzetnya turun, modal pun belum balik, cuma cukup untuk makan dan bayar sewa tempat saja,” kata salah seorang pedagang kembang api musiman Rizky Alvan di Sampit, Selasa.
Momentum pergantian tahun biasanya menjadi kesempatan bagi pedagang kembang api meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, namun tidak kali ini. Rizky Alvan menyebut omzet penjualannya tahun ini merosot tajam, sekitar 50-70 persen dibanding tahun lalu.
Menurutnya, penurunan ini merupakan imbas dari adanya imbauan dari pemerintah untuk tidak menggelar kegiatan pisah sambut tahun baru secara berlebihan, termasuk konvoi kendaraan dan penggunaan kembang api.
Langkah ini diambil sebagai bentuk empati terhadap korban bencana alam di berbagai wilayah Indonesia, seperti Aceh dan Sumatera yang dilanda banjir yang cukup parah belum lama ini, serta menjaga toleransi antarumat beragama.
Selain itu, momentum ini juga bertepatan dengan Haul Guru Sekumpul di Martapura, Kalimantan Selatan, sehingga banyak masyarakat khususnya umat Islam dari Kotim yang bepergian untuk menghadiri kegiatan tersebut.
“Penurunannya itu mulai terlihat sekitar dua hari setelah ada surat edaran bupati dan kebetulan ini bertepatan dengan Haul Guru Sekumpul, makanya menurun,” ujarnya.
Baca juga: KSOP Sampit ingatkan nakhoda tidak memaksakan berlayar saat cuaca buruk
Ia mengaku tidak sempat melakukan persiapan atau antisipasi, sehingga ia tetap menyediakan stok kembang api seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia mulai berjualan di sekitar Taman Kota Sampit pada 21 Desember, sebelum surat edaran dari pemerintah diterbitkan.
Meskipun kondisi ini tidak menguntungkan baginya sebagai pedagang, namun ia tetap menghormati kebijakan dari pemerintah sekaligus sebagai bentuk empati terhadap korban bencana alam.
Berjualan kembang api hanya menjadi pekerjaan musiman bagi Rizky Alvan yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online. Ia biasanya mulai berjualan dari pukul 10 pagi sampai 10 malam.
Jenis kembang api yang ia jual hanya skala kecil yang biasa dimainkan anak-anak, seperti sparklers atau percikan tangan. Dengan harga mulai dari Rp3000 hingga R180.000.
Tahun-tahun sebelumnya, kembang api jualannya ramai diburu masyarakat dari berbagai penjuru Kotim, tapi tidak tahun ini.
“Kalau dulu yang dari perkebunan sawit juga banyak yang beli, tapi tahun ini sepi, yang beli hanya anak-anak sekitaran sini saja,” imbuhnya.
Walau begitu, pedagang tersebut berencana tetap berjualan hingga sekitar 7 Januari 2026 mendatang. Jika kembang api tidak habis terjual akan disimpan untuk kembali dijual pada Ramadhan atau momentum pergantian tahun selanjutnya.
“Sisa barangnya masih bisa disimpan untuk berikutnya, asal jangan sampai basah saja,” demikian Rizky.
Baca juga: Program Kencana perkuat kesiapsiagaan kecamatan di Kotim menghadapi bencana
Baca juga: Polres Kotim ungkap 772 kasus kejahatan sepanjang 2025
Baca juga: Bandara Haji Asan Sampit catat peningkatan penumpang pada libur Nataru
Pewarta : Devita Maulina
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
