Logo Header Antaranews Kalteng

Paparan polusi udara masa kecil picu risiko kesehatan dewasa

Minggu, 25 Januari 2026 11:16 WIB
Image Print
ilustrasi polusi udara. /ANTARA/Anadolu/py

Jakarta (ANTARA) - Paparan polusi udara terus menerus pada masa anak-anak bisa mempengaruhi kesehatan individu saat dewasa menurut dokter ahli.

Dokter spesialis paru-paru dari Kailash Hospital & Neuro Institute di India Dr. AS Sandhya menyampaikan bahwa anak-anak rentan kena dampak polusi udara karena paru-paru dan sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang.

"Mereka juga bernapas lebih cepat daripada orang dewasa, yang menyebabkan asupan polutan berbahaya yang lebih besar per kilogram berat badan," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times pada Minggu (25/1).

Kualitas udara menjadi buruk karena adanya polutan berupa partikel halus (PM2.5), nitrogen dioksida, dan senyawa beracun dari emisi kendaraan, aktivitas industri, dan pembakaran bahan bakar fosil.

Partikel mikroskopis ini dapat masuk sampai paru-paru dan aliran darah serta memicu peradangan kronis dan stres oksidatif.

Dr. Sandhya menyampaikan bahwa paparan terus-menerus polutan udara dapat menyebabkan kerusakan DNA dan mengganggu pertumbuhan sel normal, yang berpeluang menimbulkan kanker di kemudian hari.

Selain itu, dia mengatakan, hasil penelitian mengindikasikan anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang udaranya sangat tercemar sering menunjukkan tanda penurunan kapasitas paru-paru, infeksi saluran pernapasan, dan masalah imunitas.

"Meskipun efek ini mungkin tampak ringan atau sementara di tahun-tahun awal, dampak kumulatifnya dapat signifikan. Paparan jangka panjang selama fase pertumbuhan kritis meningkatkan kerentanan terhadap penyakit kronis yang dapat muncul beberapa dekade kemudian," ia menjelaskan.

Guna mencegah dampak jangka panjang paparan polusi udara terhadap kesehatan, Dr. Sandhya menyarankan para orang tua dan pengasuh untuk memantau indeks kualitas udara dan membatasi aktivitas anak di luar ruangan pada masa polusi udara tinggi.

Selain itu, menurut dia, penting pula mengupayakan ventilasi di dalam ruangan selalu baik dan memastikan rumah bebas dari asap rokok.

Selama episode polusi puncak, ia melanjutkan, penggunaan masker yang pas dapat memberikan perlindungan tambahan bagi anak-anak.

Ia juga merekomendasikan penerapan pola makan seimbang yang mencakup buah-buahan dan sayuran untuk membantu melawan stres oksidatif akibat polutan serta pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi dini masalah pernapasan.

Upaya untuk melindungi anak dari dampak paparan polusi udara pada tingkat luas, menurut Dr. Sandhya dapat berupa penerapan kebijakan penurunan emisi gas, promosi penggunaan energi bersih, dan peningkatan area terbuka hijau untuk mendukung peningkatan kualitas udara.



Pewarta :
Editor: Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026