
DNA Manchester United

Jakarta (ANTARA) - Butuh 13 tahun setelah Sir Alex Ferguson pensiun, butuh 10 kali ganti pelatih dan enam yang dipecat, untuk Manchester United kembali mempertontonkan permainan seperti Setan Merah di era 1990-an dan 2000-an.
Liga Inggris musim 2024/2025 adalah yang terburuk bagi United sejak tahun 1974 dengan finis di peringkat 15, tiga posisi di atas zona degradasi. Kini, di pertengahan musim yang menyisakan 15 pertandingan terakhir, Manchester United berada di zona Liga Champions, peringkat empat dengan 38 poin.
Hal yang lebih manis lagi, posisi itu diraih setelah mengalahkan dua tim terbaik Liga Inggris yang menjadi kandidat kuat juara, runner up dan pemuncak klasemen: Manchester City dan Arsenal.
Tahan sebentar. Man City dan Arsenal musim ini lebih besar dari sekadar peringkat dua dan pertama. Sebelum diberi hadiah kekalahan 2-0 oleh United, Manchester City tidak terkalahkan dalam 13 laga terakhir pada semua kompetisi.
Sebelum takluk 3-2 oleh United, Arsenal belum pernah kalah di Emirates Stadium sepanjang musim 2025/2026. Bahkan, tim asuhan Mikel Arteta itu adalah pemuncak klasemen Liga Champions dengan catatan tujuh kali menang dari tujuh pertandingan.
Arsenal musim 2025/2026 yang disebut-sebut sebagai The Gunners dengan skuad paling dalam yang pernah ada, tidak pernah menderita kekalahan ketika mencetak dua gol ke gawang lawan selama dilatih oleh Arteta, kecuali pada dua pertandingan, yaitu saat melawan Manchester United dengan kalah 2-3 pada Desember 2021, dan takluk dengan skor 2-3 pula pada Januari 2026, saat Michael Carrick menjadi manajer tim di sisi lapangan MU.
"Pertandingan seperti ini adalah laga yang kami impikan. Saat saya datang ke United, pertandingan seperti inilah yang saya tonton di televisi," kata Matheus Cunha
Pencetak gol penentu kemenangan laga United kontra Arsenal, Matheus Cunha, adalah fan Man United sejak kecil. Manchester United yang ia tonton di tv adalah MU-nya Sir Alex Ferguson.
"Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, menonton Manchester United bermain sungguh menyenangkan. Terima kasih Carrick," kata legenda penjaga gawang MU Peter Schmeicel.
"Itulah gambaran singkat Manchester United dalam 10 sampai 12 tahun lalu. Itu adalah penampilan terbaik mereka dalam bertahun-tahun, bertahun-tahun, bertahun-tahun. Mereka bermain seperti Manchester United-nya Sir Alex Ferguson," kata Michael Owen, mantan penyerang United.
Saat kemenangan melawan Man City pertengahan Januari lalu, Fergie yang selalu menonton Man United di Old Trafford tersenyum sangat lebar. Dia semringah bukan main.
Untuk mereka yang melihat Manchester United bertanding di era Paul Scholes, Ryan Giggs, Eric Cantona, Carlos Tevez, Dimitar Berbatov, Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, Cristiano Ronaldo muda, dan Wayne Rooney, maka dua pertandingan terakhir Manchester United di 2026 adalah sebuah lemparan ke masa lalu.
Bertahan super rapat, agresif merebut bola, operan satu dua singkat, umpan ke depan, lari, tembak, dan gol. Sepak bola klasik yang sederhana, jauh dari taktik sepak bola modern nan njlimet. Tidak perlu formasi rumit, atau membangun serangan dari garis belakang. Tidak.
DNA Manchester United, kata para legenda MU, yang dirasa tidak ada pada pelatih dan skuad United beberapa tahun silam, yakni sesederhana hal wajib yang biasa ada di Old Trafford: berlari sekencang-kencangnya ke kotak penalti, berlari mundur secepat mereka menyerang, crossing sederhana yang dikejar dengan niat.
Pola yang nyaris kuno seperti bertahan, mencuri momen, lalu menyerang dengan cepat. Tidak indah di papan taktik, tapi mematikan di lapangan. Ini yang lama hilang, dan inilah yang tiba-tiba kembali.
Energi itu menular dari satu pemain ke pemain lain. Sesuatu yang, seperti kata Wayne Rooney, sudah lama dirindukan suporter.
Michael Carrick
Melawan Manchester City, skor 2-0 bahkan terasa menipu. Serangan United dua kali menghantam mistar. Tiga gol dianulir. Kiper City dipaksa melakukan penyelamatan-penyelamatan yang tak masuk akal.
Yang lebih mencengangkan adalah nol. Ya, nol. Nol tembakan tepat sasaran dari tim yang diperkuat Erling Haaland, Phil Foden, Jeremy Doku. Setelah 23 pertandingan dengan hanya satu catatan nirbobol, United tiba-tiba tampil dengan organisasi defensif terbaik.
Lalu Arsenal. Itu adalah kemenangan liga pertama United di Emirates sejak 2017. Kekalahan kandang pertama Arsenal musim ini. Pertama kalinya dalam 121 pertandingan mereka kebobolan tiga gol. Dua gol Arsenal pun berasal dari gol bunuh diri Lisandro Martinez, dan tendangan sudut dengan cara menumpuk pemain di bawah mistar gawang.
Dan lihat keputusan Michael Carrick di sisi lapangan setelah unggul 2-1. Dia tidak mengubah permainan menjadi bertahan, tapi menambah serangan. Itulah perbedaan mendasar. Manchester United tidak dibesarkan untuk menjaga keunggulan satu gol. Klub ini dibentuk untuk mencari gol berikutnya.
Rekam jejak Carrick sebenarnya sudah lama memberi petunjuk. Sebagai caretaker pada 2021, ia menumbangkan Arsenal-nya Arteta, menahan Chelsea-nya Thomas Tuchel 1-1, dan mengalahkan Villarreal-nya Unai Emery di Eropa. Kini, sebagai interim di 2026, skalanya lebih besar. Pep Guardiola, dan lagi-lagi Arteta ditaklukkan.
Namun, narasi ini pernah muncul di era Ole Gunnar Solskjaer, yang kemudian diberi kontrak panjang dan pada akhirnya dipecat juga sebelum MU kembali berjaya. Masalahnya bukan semata siapa pelatihnya, tapi lebih dalam pada struktur klub, yang tak pernah benar-benar dibangun, serta skuad yang terus dipaksa beradaptasi.
Bukan berarti Carrick akan gagal. Juga bukan berarti euforia ini harus dimatikan. Merasa senang itu wajar. Tapi Manchester United sudah terlalu sering berada di titik ini.
Pada akhirnya, mentalitaslah yang membedakan apakah momen ini akan bertahan atau hanya menjadi kilatan singkat. Di situlah warisan Sir Alex Ferguson selalu kembali relevan.
Sir Alex Ferguson pernah kalah di sembilan final, dan setiap kekalahan, katanya, membuatnya menjadi manajer yang lebih baik keesokan harinya.
Kalah adalah bagian dari olahraga. Kalah juga bagian hidupnya. Bagian yang tidak mudah. Tapi, bagian yang membentuk seorang pemenang. Yang membuat Sir Alex Ferguson mengangkat trofi untuk 32 final sisanya.
Baca juga: Manchester United menang telak atas Arsenal
Baca juga: Liga Inggris: MU melesat ke peringkat empat, Arsenal di puncak
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor:
Admin 1
COPYRIGHT © ANTARA 2026
