
Lion Air jajaki potensi kembali mengudara di Sampit

Sampit (ANTARA) - Maskapai penerbangan Lion Air Group mulai menjajaki potensi untuk kembali melayani rute penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang disambut antusias oleh pemerintah daerah setempat.
“Saya berterima kasih dengan Lion Air Group, karena Ini memang sudah ditunggu-tunggu. Saya senang sekali, karena sudah jauh tahapan-tahapan yang dilakukan hingga sampai disini,” kata Bupati Kotim Halikinnor di Sampit, Kamis.
Hal ini ia sampaikan saat audiensi bersama perwakilan Lion Air Group, yakni Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro dan Area Manager Wings Air Widi Wiyanti di rumah jabatan (rujab) Bupati Kotim.
Audiensi ini turut dihadiri Kepala Bandara Haji Asan Sampit, Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Kepala BMKG Kotim, Ketua DPRD Kotim, Pj Sekda Kotim, Asisten II Setda Kotim, Kepala Imigrasi Sampit hingga Ketua GPPI Kotim.
Halikinnor menyambut antusias rencana ini, apalagi maskapai dari Lion Air Group sudah melalui tahapan koordinasi yang panjang. Langkah ini menjadi angin segar bagi konektivitas udara di Kotim yang selama ini sangat dinantikan oleh pemerintah daerah dan masyarakat.
Terlebih, menurutnya kesiapan bandara saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, baik dari sisi fasilitas gedung maupun teknis operasional.
“Sekarang ada semacam kompetisi antara kepala bandara dan kepala KSOP dalam meningkatkan sarana prasarana masing-masing. Bisa dilihat dari ruang VVIP bandara yang dulu biasa saja, sekarang didesain sedemikian rupa sehingga kami pun percaya diri bahwa Lion Air Group layak masuk Kotim,” tuturnya.
Ia menjelaskan, potensi penumpang di Kotim memang sangat menggiurkan bagi maskapai. Berdasarkan data, Kotim merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di Kalimantan Tengah.
Disamping itu, sektor perkebunan kelapa sawit di wilayah ini merupakan yang terluas di tingkat kabupaten se-Indonesia dengan luas mencapai hampir 1 juta hektare, baik itu lahan yang dimiliki perkebunan maupun masyarakat melalui koperasi.
"Ada 85 perusahaan sawit di sini. Selama ini, para pemilik modal jarang datang langsung ke Sampit karena harus menempuh 4 jam perjalanan darat dari Palangka Raya. Bagi mereka time is money, jadi keberadaan pesawat yang andal sangat krusial untuk investasi," lanjutnya.
Baca juga: Kompetensi aparatur Kotim ditingkatkan demi penghitungan pajak dan retribusi akurat
Selain sawit, sektor pertambangan di Kotim diprediksi akan beroperasi penuh pada 2026-2027. Pertumbuhan industri ini diyakini akan meningkatkan kebutuhan mobilitas orang maupun barang secara signifikan, yang hanya bisa diakomodasi melalui penerbangan rutin yang stabil.
Kondisi penerbangan saat ini di Sampit dinilai masih kurang maksimal. Halikinnor bahkan menceritakan pengalamannya saat akan melakukan penerbangan melalui Bandara Haji Asan Sampit baru-baru yang mengalami pembatalan (cancel) dua kali berturut-turut.
Situasi seperti ini membuat kepercayaan publik dan pelaku usaha menurun, sehingga mereka lebih memilih terbang melalui Pangkalan Bun atau bandara lain..
“Pesawat yang ada saat ini terkadang terkendala teknis karena usia pesawat. Saya sendiri pernah dua kali batal berangkat berobat karena cancel. Dengan Lion Air Group, kita berharap ada kepastian jadwal dan konektivitas yang lebih luas ke berbagai kota di Indonesia,” tambahnya.
Halikinnor menyatakan, pihaknya siap melakukan apapun agar rencana ini terwujud selama itu masih di dalam ranah pemerintah daerah.
Termasuk menggunakan APBD untuk merelokasi Gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) bila diperlukan, dalam rangka membersihkan hambatan (obstacle) di sekitar landasan.
“Saya sudah minta pohon-pohon di ujung landasan ditebang saja. Kalau tidak ada anggarannya, saya tanggung pribadi, ini karena saking inginnya saya agar pesawat badan lebar segera mendarat di sini,” pungkasnya.
Sementara itu, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengungkapkan bahwa pihaknya berupaya mengembalikan ‘kejayaan’ penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit.
“Kami melihat secara historikal Sampit ini kan konektivitas penerbangan sebelum COVID-19 banyak dan luas. Jadi Lion Air Group melalui Wings Air yang pada tahap awal ini menggunakan pesawat ATR-72 berupaya mengembalikan kejayaan tersebut,” ujarnya.
Disebutkan, bahwa Lion Air Group melalui maskapai Wings Air pernah beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit.
Namun, pandemi COVID-19 terbukti menjadi hantaman kuat bagi maskapai itu sehingga mau tak mau harus melakukan efisiensi, salah satunya dengan menghentikan layanan penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit.
Baca juga: BPBD Kotim pasok 22.000 liter air atasi kesulitan air bersih
Kembalinya Lion Air Group di Bandara Haji Asan Sampit ini bertujuan untuk memudahkan mobilisasi masyarakat, perjalanan dinas dan mendukung sektor pariwisata Kalimantan Tengah.
Selain itu, upaya ini diharapkan mampu mempercepat distribusi komoditas unggulan Kotim agar lebih cepat sampai ke berbagai kota tujuan hingga mengakomodir kebutuhan untuk perjalanan ibadah haji dan umrah.
“Walaupun umrah belum ada langsung ke Jeddah, tapi harapan kami rute tersebut saling terkoneksi. Jadi masyarakat yang akan melakukan perjalanan umrah dari Kotim ke Jeddah, memiliki opsi (pilihan) dalam waktu dekat melalui Surabaya,” terangnya.
Untuk tahap awal Wings Air menggunakan pesawat tipe ATR-72 yang memiliki kapasitas 72 kursi kelas ekonomi, karena di tahap ini pihaknya fokus pada menghubungkan kota-kota dengan jarak dan waktu tempuh pendek.
Rencana rute awal adalah Palangka Raya- Sampit dan Sampit-Surabaya. Namun, pihak maskapai juga telah mempersiapkan pesawat Airbus A320 dari Super Air Jet untuk rute dengan permintaan pasar yang lebih besar.
"Tahap pertama kita gunakan ATR untuk penghubung jarak pendek. Sambil berjalan, kami siapkan Airbus 320 dengan kapasitas 180 kursi. Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar Sampit semakin populer sehingga pesawat besar bisa segera masuk," kata Danang.
Terkait desakan dunia usaha mengenai ketepatan waktu, Danang menjelaskan bahwa hal tersebut memang menjadi prioritas utama. Desain rute yang dibuat saat ini mempertimbangkan jadwal penerbangan lanjutan agar penumpang tidak terkendala saat transit.
"Kami mendesain konektivitas ini agar pelaku usaha bisa terhubung luas. Memang ada faktor eksternal seperti cuaca dan lalu lintas udara, namun Lion Air Group sudah memitigasi upaya untuk mempertahankan tingkat ketepatan waktu yang tinggi," tambahnya.
Jika perizinan berjalan lancar, pihak maskapai menargetkan layanan ini sudah bisa dirilis pada bulan Februari mendatang. Saat ini, tim Lion Air Group sedang memfinalisasi rute dan melakukan pemetaan harga tiket agar tetap kompetitif serta memberikan manfaat bagi daerah.
“Kami sangat tidak sabar untuk kembali melayani Sampit. Melalui diskusi intensif dengan Pemkab Kotim dan pihak bandara, kami yakin mobilisasi orang dan barang dari dan menuju Sampit akan semakin cepat dan efisien,” demikian Danang.
Baca juga: Disdik Kotim tegaskan pengangkatan guru tetap mengacu aturan
Baca juga: Relokasi dermaga penyeberangan Sampit-Seranau masih pembahasan
Baca juga: Pemkab Kotim dukung penuh penguatan swasembada pangan nasional
Pewarta : Devita Maulina
Editor:
Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
