
Bayang-bayang cuaca ekstrem hantui persiapan Pasar Ramadhan Sampit

Sampit (ANTARA) - Menjelang pembukaan Pasar Ramadhan 2026, para pedagang takjil di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, diliputi kecemasan terkait kondisi cuaca yang tak menentu, meski persiapan teknis telah dilakukan sejak sepekan terakhir.
"Beberapa hari ini kan hampir setiap sore hujan. Harapan kami semoga pas pembukaan nanti tidak hujan, karena biasanya seminggu pertama itu ramai sekali. Pertengahan agak turun, lalu tiga atau empat hari terakhir ramai lagi," kata salah seorang pedagang, Jubainah di Sampit, Rabu.
Kekhawatiran ini muncul di tengah semangat para pelaku usaha kuliner untuk menyambut lonjakan pembeli pada minggu pertama pembukaan pasar yang menjadi pusat takjil tahunan tersebut.
Bagi Jubainah, pedagang menu masakan rumahan, persiapan menyambut bulan suci bukanlah perkara instan. Ia bahkan sudah mulai mencicil stok bahan baku dan pengolahan bumbu dasar sejak tujuh hari sebelum pasar resmi dibuka.
"Persiapan itu memang harus jauh-jauh hari. Beli ikan asin dan bikin bumbu itu sekitar seminggu sebelum Ramadhan sudah harus siap agar tidak keteteran," ujarnya.
Adapun menu-menu andalan seperti ikan bakar dan aneka sayur matang telah ia siapkan untuk memanjakan lidah pengunjung. Selain bahan pangan, pengaturan lapak pun telah dirampungkan agar fokus berjualan tidak terganggu saat hari pertama dimulai.
Meski optimis dengan tren pendapatan yang stabil setiap tahunnya, Jubainah tak menampik bahwa faktor alam menjadi satu-satunya variabel yang tidak bisa ia kendalikan dan sangat berisiko bagi kelangsungan usahanya.
"Kalau saya pribadi, pendapatan tiap tahun hampir sama. Cuma yang dikhawatirkan itu cuaca. Kadang pas pengunjung lagi ramai-ramainya, malah turun hujan lebat," keluh Jubainah.
Fenomena hujan sore hari yang mengguyur Sampit belakangan ini memang menjadi ancaman serius, mengingat waktu tersebut merupakan ‘jam emas’ bagi pedagang takjil untuk meraup keuntungan dari para pemburu buka puasa.
Keresahan serupa juga dirasakan oleh Eka, seorang pedagang kue tradisional. Ia telah menyiapkan tenda berukuran tiga meter lengkap dengan penataan lampu dan meja tambahan demi memberikan kenyamanan ekstra bagi para calon pembeli.
"Persiapan lapak dan tenda sudah mulai sejak kemarin. Jualannya mungkin mulai besok malam atau Kamis, yang penting perlengkapan kebersihan dan lampu sudah siap," tutur Eka menjelaskan detail kesiapannya.
Bagi Eka, kenyamanan tempat berjualan adalah kunci, namun ia tetap merasa sedih melihat intensitas hujan yang tinggi belakangan ini. Ia berharap cuaca akan lebih bersahabat demi kelancaran ekonomi para pedagang kecil.
"Sedih juga beberapa hari terakhir hujan terus. Harapannya semoga cuaca bersahabat selama Pasar Ramadhan berlangsung, agar dagangan laris manis," pungkas Eka.
Baca juga: CFD di Taman Kota Sampit dihentikan selama Ramadhan
Sementara itu, dikutip dari laman resmi BMKG Kalteng melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut terkait prakiraan cuaca yang berlaku pada 18-24 Februari 2026, masyarakat diimbau waspada potensi hujan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir, kilat dan angin kencang di wilayah Kalimantan Tengah.
Waspada potensi hujan lokal intensitas sedang hingga lebat dengan durasi singkat yang dapat disertai petir, kilat dan angin kencang ataupun angin puting beliung di wilayah Kalimantan Tengah.
Kemudian, adanya pertumbuhan awan konvektif (awan Cumulonimbus) yang dapat berpotensi hujan sedang hingga lebat, dan menimbulkan angin kencang, serta menambah tinggi gelombang di wilayah Pesisir dan Perairan Selatan Kalimantan Tengah.
Sebelumnya Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kotim Johny Tangkere menyampaikan bahwa Pasar Ramadhan tahun ini pihaknya menyiapkan sekitar 120 tenda bagi para pedagang kuliner, dengan bekerjasama dengan UMKM Harati selaku Event Organizer (EO).
"Lokasinya sama seperti tahun lalu, sebagian di depan Pasar Eks Mentaya samping Taman Kota Sampit dan untuk tenda yang dikelola UMKM Harati itu di jalan Yos Sudarso depan Swalayan UMKM Sampit," sebutnya.
Melalui kolaborasi ini, Johny berharap Pasar Ramadhan tahun ini tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga sebagai ajang pelestarian kuliner lokal yang mungkin sudah mulai jarang ditemukan di hari biasa.
"Harapannya lebih meriah. Saya ingin makanan dan kue tradisional yang sudah jarang muncul, bisa dimunculkan kembali di momen ini agar tidak hilang," demikian Johny.
Baca juga: Dinsos Kotim antisipasi marak gepeng dan modus terlantar saat Ramadhan
Baca juga: Pengambilalihan Pasar Mangkikit masih berproses di meja hijau
Baca juga: Sambut Ramadhan, Diskominfo Kotim ajak masyarakat perbanyak konten positif
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
