Logo Header Antaranews Kalteng

Rumor medsos picu keengganan vaksinasi

Jumat, 13 Maret 2026 11:43 WIB
Image Print
Seorang anak menangis saat disuntikan vaksin campak dan rubella (MR) di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama Rumah Vaksinasi Pusat menggelar vaksinasi MR gratis bagi anak usia sembilan hingga 59 bulan sebagai upaya meningkatkan perlindungan kesehatan anak di tengah meningkatnya kasus campak serta tingginya mobilitas masyarakat menjelang libur panjang Hari Raya Idul Fitri. ANTARA FOTO/Fauzan/wsj. (ANTARA FOTO/FAUZAN)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso Sp.A Subsp.Kardio (K) mengatakan rumor negatif yang beredar di media sosial mengenai imunisasi cukup berpengaruh terhadap keputusan masyarakat yang enggan memberikan vaksinasi kepada anaknya untuk menangkal penyakit menular.

“Selain pengaruh pandemi, tapi hembusan kegalauan yang dihembus-hembuskan terus, apalagi sekarang media sosial kan banyak ya ada macem-macem,IG, ada threads, ada twitter, TikTok Itu semuanya bersama-sama menggalaukan masyarakat,” kata Piprim.

Ia mengatakan mewabahnya kasus campak di Indonesia sampai menimbulkan kasus kematian pada anak karena cakupan vaksinasi yang sangat kurang di beberapa daerah, sehingga tidak menciptakan kekebalan di lingkungan anak (herd immunity).

Piprim mengatakan sebelumnya kasus campak sudah mulai mereda di Indonesia karena cakupan imunisasi yang mencukupi untuk melindungi anak balita. Namun adanya rumor di media sosial yang menimbulkan ketakutan terhadap vaksin membuat cakupan kembali turun dan menyebabkan wabah kembali merebak.

“Karena campak itu paling menular, begitu cakupan imunisasinya terganggu, turun 20 persen saja, itu KLB-nya sudah heboh. Apalagi ada kantong-kantong yang memang sama sekali nggak mau vaksinasi. Dan itu sumber dari berkembangbiaknya virus di situ. Kemudian menyebar ke mana-mana,” kata Piprim.

Piprim mengatakan masyarakat diharapkan memprioritaskan ketakutan pada efek penyakit campak bukan pada vaksinnya, karena dampaknya sangat jelas dan bisa menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan nyawa anak.

Ia juga mengimbau menjelang libur Lebaran anak perlu dijaga dari kerumunan dan dilindungi terutama dari orang tidak dikenal yang menyentuh atau mencium di tengah situasi KLB campak ini.

Untuk proteksi, Piprim menyarankan jika sudah masuk waktu vaksinasi pada bayi dan balita segera lengkapi sebelum lebaran dan bertemu orang banyak sebagai salah satu upaya mencegah penyakit menular.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026