Logo Header Antaranews Kalteng

Pemkab Kotim berharap program konversi elpiji dituntaskan

Jumat, 27 Maret 2026 14:26 WIB
Image Print
Dokumentasi - Operasi pasar gas elpiji 3 kg di Taman Kota Sampit, beberapa waktu lalu. ANTARA/Norjani

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berharap konversi elpiji di daerah ini dituntaskan karena masih ada lima kecamatan yang belum masuk program konversi minyak tanah ke gas elpiji 3 kilogram.

"Faktanya kebutuhan kita itu memang tinggi. Masyarakat di lima kecamatan yang belum masuk konversi itu pun kini sudah banyak menggunakan kompor gas karena minyak tanah sulit didapat," kata Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati di Sampit, Jumat.

Dari 17 kecamatan yang ada di Kotawaringin Timur, saat ini masih ada enam kecamatan yang belum tersentuh program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Enam kecamatan itu adalah Kecamatan Kota Besi, Telawang, Mentaya Hulu, Bukit Santuai, Telaga Antang dan Antang Kalang.

Meski belum terjamah program konversi, namun sebagian besar warga di enam kecamatan yang meliputi 80 desa itu sudah beralih menggunakan gas elpiji. Selain dinilai lebih praktis dibanding menggunakan kompor minyak maupun kayu bakar, beralih menggunakan elpiji seakan sudah menjadi keharusan karena warga juga semakin sulit mendapatkan minyak tanah.

Untuk mendapatkan elpiji, warga di enam kecamatan tersebut otomatis membeli dari kecamatan lain yang sudah masuk program konversi. Kondisi ini tentu berdampak terhadap pemenuhan permintaan elpiji yang semakin meningkat, sementara kuota yang ada saja masih terbatas.

Baca juga: DPRD Kotim tekankan sinkronisasi pokir dalam Musrenbang RKPD 2027

Selain itu, elpiji 3 kg juga sangat diperlukan untuk membantu pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar bisa mengembangkan usaha mereka. Dampaknya sangat positif bagi upaya meningkatkan perekonomian masyarakat di daerah ini.

"Masalah ini juga sudah saya sampaikan kepada Kepala Depo Pertamina Sampit saat mereka berkunjung ke kantor. Selain BBM (bahan bakar minyak), kebutuhan elpiji kita juga tinggi. Mudah-mudahan bisa dipenuhi," harap Irawati.

Kondisi ini membuat harga elpiji di pelosok sangat tinggi, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Seperti di perdesaan di wilayah utara, kata Irawati, harga elpiji 3 kg berkisar Rp45.000 hingga Rp50.000.

Irawati bahkan menemukan, harga elpiji 3 kg di Desa Tumbang Gagu Kecamatan Antang Kalang bisa mencapai Rp110.000 per tabung. Itu pun warga membeli dari desa terdekat di Kabupaten Katingan yang sudah tembus jalur darat, sementara jika menuju pusat kecamatan sendiri, biaya sewa kelotok sangat tinggi yakni mencapai Rp6 juta.

"Itu pun asalkan barangnya ada, tetap dibeli warga. Yang jadi masalah ini kan barangnya kadang tidak ada, sementara warga kita memerlukannya," timpal Irawati.

Irawati berharap pemerintah pusat dan Pertamina bisa membantu masyarakat Kotawaringin Timur, terlebih di enam kecamatan yang belum masuk program konversi minyak tanah ke gas agar bisa dengan mudah mendapatkan gas elpiji 3 kg dan harganya terjangkau.

Baca juga: DPRD Kotim minta Dispora sampaikan hasil koordinasi pencairan hibah Porprov

Baca juga: Kebakaran lahan di Kotim mulai rambah kebun warga

Baca juga: Bupati Kotim tekankan program harus tepat sasaran di tengah menurunnya anggaran



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026