Logo Header Antaranews Kalteng

Tren hobi baru terrarium di Sampit punya peluang ekspor

Selasa, 28 April 2026 20:42 WIB
Image Print
Warga di Sampit antusias mengikuti workshop terrarium yang digelar Borneo Aquatic, Minggu (26/4/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Sampit (ANTARA) - Membuat terrarium menjadi tren hobi baru bagi masyarakat di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, yang tak hanya menjadi sarana melepas penat, tetapi juga membuka peluang ekonomi dari tumbuhan lokal yang berpotensi menembus pasar ekspor.

“Awalnya tahu ada kegiatan ini dari teman yang jadi panitia. Saya tertarik karena belum pernah coba membuat terrariumY dan memang suka lihat yang hijau-hijau seperti taman,” kata salah seorang peserta workshop terrarium, Ade Risma di Sampit, Selasa.

Terarium adalah seni menata tanaman, mikroorganisme dan mineral dalam wadah kaca atau plastik transparan yang mensimulasikan ekosistem alami mini seperti hutan hujan, gurun atau padang rumput.

Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan pekerjaan, masyarakat di Kota Sampit mulai mencari alternatif relaksasi yang sederhana namun bermakna.

Salah satunya melalui terrarium, yakni seni menata tanaman, mikroorganisme dan mineral di dalam wadah kaca atau plastik transparan yang mensimulasikan ekosistem alami mini, seperti hutan hujan atau padang rumput.

Ade pun menjadi satu di antaranya, yang belakangan menjadikan terrarium sebagai hobi barunya. Berawal dari ajakan teman dan tanpa ekspektasi besar ia mengikuti workshop terrarium yang kemudian memberinya sudut pandang baru terhadap tanaman di sekitarnya.

Selama workshop, peserta diajak memahami tahapan pembuatan terrarium secara detail, mulai dari penyusunan lapisan batu sebagai drainase, penggunaan kain penyaring, arang, hingga media tanam yang menciptakan lanskap hutan mini yang estetis.

Bagi Ade, aktivitas ini tidak hanya menambah keterampilan, tetapi juga memberikan efek menenangkan secara emosional. Ia mulai menyadari bahwa tanaman sederhana di lingkungan sekitar memiliki nilai lebih, baik dari sisi keindahan maupun ekonomi.

"Kegiatan ini sangat menyenangkan. Saya mendapat ilmu baru dan ternyata tanaman endemik di sekitar kita punya nilai jual tinggi," tuturnya.

Sementara itu dari pihak penyelenggara workshop terrarium, yakni Borneo Aquatic, Mutia Yuliza menjelaskan bahwa terrarium menjadi solusi praktis bagi masyarakat modern yang ingin menghadirkan nuansa alam tanpa perawatan yang rumit.

Baca juga: DPRD Kotim dorong pemkab berikan solusi terkait Jembatan Patah

Disamping itu, terrarium juga memiliki manfaat psikologis karena mampu membantu meredakan stres. Ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa salah satu stres rilis adalah dengan dekat dengan alam.

“Karena hutan itu penghasil oksigen terbesar. Dan bayangkan kalau tidak ada hutan, betapa polusinya. Lalu, salah satu stres rilis dalam tubuh itu ketika oksigen banyak terpapar masuk ke dalam tubuh kita. Jadi salah satu cara paling mudahnya dengan terrarium,” jelas Mutia.

Lebih jauh, workshop ini juga membuka wawasan bahwa hobi merangkai terrarium dapat berkembang menjadi peluang usaha. Tanaman seperti lumut dan pakis yang kerap dianggap biasa, ternyata memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional.

Mutia mengungkapkan, Borneo Aquatic telah berhasil menembus pasar global dengan mengekspor berbagai tanaman hias, termasuk jenis endemik Kalimantan seperti Bucephalandra. Produk mereka diminati hingga ke Asia Tenggara, Afrika, Amerika Serikat dan Eropa.

Usaha tersebut berawal dari hobi pendirinya, Erwin Syahputra, yang sejak 2003 menekuni dunia tanaman hias. Seiring waktu, kegemaran itu berkembang menjadi bisnis yang mampu membuka lapangan kerja dan menciptakan peluang ekonomi baru.

Untuk menjaga keberlanjutan, pengembangan tanaman tidak hanya mengandalkan alam liar, tetapi juga dilakukan melalui budidaya modern seperti propagasi kultur jaringan di farm yang berada di Sampit.

Meski memiliki potensi besar, minat masyarakat lokal terhadap terrarium masih tergolong rendah. Ironisnya, permintaan justru datang dari negara-negara yang tidak memiliki hutan tropis, sehingga terrarium menjadi cara menghadirkan suasana alam ke dalam kehidupan mereka.

“Orang-orang luar tidak tinggal seperti daerah kita yang punya hutan hujan luas. Jadi mereka ingin membawa apa yang mereka tidak bisa lihat berada di sekitar mereka,” tambah Mutia.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap masyarakat mulai melihat terrarium bukan hanya sebagai hobi, tetapi juga peluang ekonomi yang menjanjikan, khususnya dalam pengembangan dan ekspor tanaman lokal.

“Harapan kami dengan kegiatan ini warga lokal lebih mengenal potensi ekspor tanaman sekitar. Kita juga membuka peluang partnership, siapa tahu nanti bisa bekerja sama untuk supply dan lain-lain,” demikian Mutia.

Baca juga: Seorang pelajar di Parenggean Kotim tenggelam saat mandi

Baca juga: Pemkab dan DPRD Kotim sepakati Raperda PSU

Baca juga: Bupati Kotim jelaskan alasan Jembatan Patah belum diperbaiki total



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026