
Teknologi digital hidupkan sejarah Prajurit Terakota di Xi'an

Xi'an (ANTARA) - Saat Arthur melepas perangkat jemala (headset) di sebuah bioskop berteknologi realitas yang diperluas (extended reality/XR) di kota kuno Xi'an, mahasiswa internasional asal Turkmenistan itu masih larut dalam dunia yang baru saja dia masuki.
"Ini benar-benar berbeda dari film konvensional," ungkapnya. "Gambar-gambarnya mengelilingi Anda dalam 360 derajat, dan Anda bisa memilih ke mana ingin melihat."
Arthur baru saja menyaksikan "Xuanzang and Kucha", sebuah film XR yang diputar di Boundless XR Cinema yang dioperasikan oleh XiYing Group, tak jauh dari objek wisata Pagoda Angsa Liar Besar.
Film tersebut, yang telah memperoleh izin tayang resmi dari Administrasi Perfilman China (China Film Administration/CFA), dibuka untuk publik pada 1 Mei. Lebih dari 1.000 tahun lalu, biksu Xuanzang kembali ke Chang'an pada masa Dinasti Tang setelah perjalanannya ke India, lalu memimpin pembangunan Pagoda Angsa Liar Besar untuk melestarikan kitab suci dan patung Buddha. Kini, perjalanan legendarisnya menuju barat dikisahkan kembali melalui teknologi XR.
Berbeda dengan bioskop konvensional di mana penonton duduk menghadap layar yang terpasang di posisi tertentu, produksi XR menciptakan ruang narasi 360 derajat dengan gambar imersif, suara spasial, dan adegan virtual. Penonton tidak sekadar menyaksikan perjalanan Xuanzang, tetapi juga merasa seolah-olah masuk ke dalam film dan ikut melakukan perjalanan bersamanya.
Bioskop tersebut juga berbeda dari konsep menonton film pada umumnya. Tidak ada layar raksasa. Sebagai gantinya, teater dilengkapi dengan lebih dari 40 kursi penonton yang masing-masing dipasangi headset dan dapat memutar film secara mandiri.
Seiring meningkatnya pariwisata inbound, semakin banyak pula produk berbasis teknologi yang dirancang dengan mempertimbangkan wisatawan mancanegara agar mereka dapat menikmati pengalaman budaya dengan lebih mudah.
"Teknologi XR menghadirkan lebih dari sekadar tontonan visual ke dunia perfilman," kata Wang Jixuan, direktur kantor manajemen Basis Industri Film XR Xi'an. "Teknologi ini memperluas penyampaian cerita melalui narasi ruang-waktu dan mendobrak 'dinding keempat' antara penonton dan gambar."
Bagi Xi'an, salah satu ibu kota kuno China untuk 13 dinasti dan rumah bagi Prajurit Terakota, eksperimen semacam itu menandai perubahan dalam cara budaya bersejarah diperkenalkan kepada pengunjung. Kota tersebut telah lama menarik wisatawan lewat Prajurit Terakota, Pagoda Angsa Liar Besar, dan tembok kota kunonya. Kini, Xi'an memanfaatkan teknologi digital untuk mengubah warisan budaya dari sesuatu yang hanya dipandang menjadi sesuatu yang dapat dimasuki, diajak berinteraksi, dan dialami langsung.
Dalam "The Great Qin", produksi teater populer bertema budaya Qin yang terinspirasi dari surat keluarga yang ditulis pada bilah kayu dan ditemukan di makam Shuihudi Qin di Yunmeng, kacamata penerjemahan pintar yang didukung oleh platform penjurubahasaan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai diuji coba pada 1 Mei.
Saat para aktor berbicara di atas panggung, takarir muncul di hadapan para penonton nyaris dalam sekejap, dengan jeda yang dijaga agar tidak terdeteksi oleh mata manusia. Perangkat yang diuji coba tersebut saat ini mendukung penerjemahan bahasa Inggris dan takarir bahasa Mandarin bagi penyandang gangguan pendengaran. Ke depannya, perangkat itu akan mendukung bahasa Inggris, Rusia, Prancis, Jepang, dan Korea.
Sejak pertunjukan perdananya pada September 2024, "The Great Qin" telah menggelar lebih dari 800 pertunjukan, dengan tingkat kehadiran penonton tetap tercatat di atas 95 persen. Lewat kisah Heifu, seorang prajurit Qin, pertunjukan itu menyuguhkan proses bersejarah unifikasi enam negara lainnya oleh Negara Qin.
Upaya Xi'an merupakan bagian dari tren yang lebih luas di seluruh China.
Pada 2024, China meluncurkan 42 ruang pengalaman imersif wisata pintar baru untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk baru produk pariwisata yang dibentuk oleh teknologi digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, China telah memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk mendukung penerapan teknologi digital di bidang kebudayaan dan pariwisata, mendorong pengembangan terpadu pertunjukan digital, seni digital, dan pengalaman imersif.
Deng Ning, peneliti senior di Universitas Studi Internasional Beijing, menyampaikan bahwa digitasi budaya serta integrasi budaya dan pariwisata telah memasuki tahap pengembangan yang dipercepat. Langkah selanjutnya, ujar Deng, adalah bergerak melampaui berbagai eksperimen yang terpisah-pisah dan terlokalisasi serta mengadopsi pendekatan yang lebih sistematis yang mengoordinasikan inovasi teknologi, tata kelola data, dan pasokan produk, sehingga menciptakan pola pengembangan rantai penuh yang lebih mulus.
Pewarta : -
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
