Logo Header Antaranews Kalteng

BMKG Kotim sebut ada pergeseran puncak musim kemarau

Kamis, 16 Juli 2026 18:06 WIB
Image Print
Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo. ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mengungkapkan puncak musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, bergeser dari yang semula diprakirakan terjadi pada Agustus menjadi September 2026.

“Pada rilis pertama kami, puncak musim kemarau itu diprakirakan Agustus, tetapi setelah kami review kembali dan kemarin kami rilis bahwa untuk Kotim puncak kemarau itu di September. Jadi ada pergeseran,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Rabu.

Ia menjelaskan, pada prakiraan awal BMKG menetapkan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus. Namun, setelah dilakukan evaluasi terhadap perkembangan cuaca dan iklim, prakiraan tersebut direvisi sehingga puncaknya diperkirakan berlangsung pada September.

Menurutnya, perubahan itu berkaitan dengan bergesernya awal musim kemarau. Semula awal musim diprakirakan terjadi pada awal Juni, tetapi kemudian bergeser menjadi Juni dasarian II atau sekitar pertengahan Juni.

“Awalnya diprakirakan awal musim kemarau itu awal Juni, tetapi bergeser ke Juni dasarian II. Pada awal Juni masih ada kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca sehingga sampai akhir Juni curah hujan masih lumayan banyak,” ujarnya.

Mulyono mengatakan durasi musim kemarau tahun ini tergolong lebih panjang dibandingkan beberapa tahun terakhir. Selain berlangsung sekitar lima bulan, kondisi kemarau juga dipengaruhi fenomena El Nino yang diprakirakan semakin menguat.

"Tahun ini fenomena El Nino menuju kuat. Jadi kita menghadapi musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," katanya.

Baca juga: Bandara Haji Asan Sampit perkuat keamanan demi tingkatkan rute penerbangan

Ia melanjutkan, suhu udara di Kotim belum menunjukkan peningkatan yang terlalu ekstrem. Hingga saat ini suhu maksimum harian masih berkisar 33 derajat celsius sehingga belum berbeda jauh dari kondisi normal.

Namun, kekeringan mulai terjadi sejalan dengan meningkatnya kemunculan hot spot atau titik panas. Bahkan, peta potensi kemudahan terjadinya kebakaran dalam beberapa hari terakhir menunjukkan indikator warna merah yang berarti sangat mudah terbakar.

Oleh sebab itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, terutama dengan tidak membuka lahan menggunakan cara dibakar yang berpotensi memicu karhutla.

Selain menjaga lingkungan, masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi kesehatan karena intensitas hujan mulai berkurang sementara cuaca panas lebih dominan dalam beberapa pekan terakhir.

“Kami mengimbau masyarakat menjaga lingkungan dengan tidak membakar lahan sembarangan serta menjaga kesehatan karena beberapa minggu terakhir hujan mulai sedikit, sedangkan cuaca panas cukup terasa,” demikian Mulyono.

Baca juga: Polres Kotim selidiki dugaan pembakaran lahan di lima lokasi

Baca juga: BPBD Kotim gelar simulasi karhutla untuk uji respon cepat petugas

Baca juga: DPRD Kotim tekankan kesiapsiagaan karhutla diwujudkan lewat aksi nyata



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026