BI perkirakan inflasi Kalteng selama 2024 di rentang 2,5 plus minus 1 persen
Kamis, 15 Agustus 2024 16:55 WIB
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Tengah Yuliansah Andrias (tengah) saat diseminasi perekonomian Kalteng tahun 2024 di Palangka Raya, Kamis (15/8/2024). ANTARA/Jaya WM.
Palangka Raya (ANTARA) - Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Tengah memperkirakan inflasi di provinsi setempat secara keseluruhan pada tahun 2024, berada di rentang 2,5 persen plus minus 1 persen atau terkendali.
Perkiraan itu disampaikan Kepala BI Perwakilan Kalteng Yuliansah Andrias saat diseminasi perekonomian provinsi setempat dengan tema "Central Borneo Economic's Revival: Mendorong hilirisasi berbasis sumber daya alam melalui kebijakan pembiayaan', di Palangka Raya, Kamis.
"Kami memperkirakan itu karena peran optimalisasi peran TPID melalui berbagai kegiatan pengendalian inflasi," ucapnya.
Adapun kegiatan TPID yang dimaksud, yakni rapat koordinasi, inspeksi mendadak (sidak) terhadap sejumlah pusat perbelanjaan tradisional maupun modern, rutin mengadakan pasar murah, kebijakan impor bahan pangan serta perluasan kerjasama antar daerah.
"Sinergi program GNPIP (gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan) untuk penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan komoditas ungggulan seperti IR42 dan program digital farmin, pun semakin menguat," beber Yuliansah.
Meski begitu, Kepala BI Perwakilan Kalteng itu mengakui, risiko peningkatan harga komoditas energi karena ketidakpastian global akibat berlanjutnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, tetap perlu menjadi perhatian lebih lebih lanjut.
Baca juga: Gernas BBI-BBWI pacu UMKM dan pariwisata Kalteng makin berkembang
Ditambah lagi, adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis non subsidi pada 2 Agustus 2024 yang meliputi pertamax turbo, pertamax green 95, dexlite dan pertamina dex. Transmisi kenaikan harga BBM lebih lanjut, akan berdampak pada kenaikan biaya angkut komoditas terkait.
"Kondisi itu tentunya menjadi perhatian kami bersama seluruh pihak yang tergabung di dalam Tim Penanggulangan Inflasi Daerah (TPID) Kalteng," kata Yuliansah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi y-on-y di Provinsi Kalimantan Tengah hingga Juli 2024 sebesar 1,28 persen. Sedangkan month-to-month (m-to-m) di Provinsi Kalimantan Tengah pada Juli 2024 terjadi deflasi sebesar 0,68 persen, dan tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) Juli 2024 sebesar 0,37 persen.
Baca juga: BI Kalteng terus perkuat kebersamaan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui Pesona Tambun Bungai
Baca juga: Ratusan guru di Kotim mendapat edukasi cinta bangga paham rupiah
Baca juga: BI sebut inflasi 2024 Kalteng masih sesuai target nasional
Perkiraan itu disampaikan Kepala BI Perwakilan Kalteng Yuliansah Andrias saat diseminasi perekonomian provinsi setempat dengan tema "Central Borneo Economic's Revival: Mendorong hilirisasi berbasis sumber daya alam melalui kebijakan pembiayaan', di Palangka Raya, Kamis.
"Kami memperkirakan itu karena peran optimalisasi peran TPID melalui berbagai kegiatan pengendalian inflasi," ucapnya.
Adapun kegiatan TPID yang dimaksud, yakni rapat koordinasi, inspeksi mendadak (sidak) terhadap sejumlah pusat perbelanjaan tradisional maupun modern, rutin mengadakan pasar murah, kebijakan impor bahan pangan serta perluasan kerjasama antar daerah.
"Sinergi program GNPIP (gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan) untuk penguatan ketahanan pangan melalui pengembangan komoditas ungggulan seperti IR42 dan program digital farmin, pun semakin menguat," beber Yuliansah.
Meski begitu, Kepala BI Perwakilan Kalteng itu mengakui, risiko peningkatan harga komoditas energi karena ketidakpastian global akibat berlanjutnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, tetap perlu menjadi perhatian lebih lebih lanjut.
Baca juga: Gernas BBI-BBWI pacu UMKM dan pariwisata Kalteng makin berkembang
Ditambah lagi, adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis non subsidi pada 2 Agustus 2024 yang meliputi pertamax turbo, pertamax green 95, dexlite dan pertamina dex. Transmisi kenaikan harga BBM lebih lanjut, akan berdampak pada kenaikan biaya angkut komoditas terkait.
"Kondisi itu tentunya menjadi perhatian kami bersama seluruh pihak yang tergabung di dalam Tim Penanggulangan Inflasi Daerah (TPID) Kalteng," kata Yuliansah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi y-on-y di Provinsi Kalimantan Tengah hingga Juli 2024 sebesar 1,28 persen. Sedangkan month-to-month (m-to-m) di Provinsi Kalimantan Tengah pada Juli 2024 terjadi deflasi sebesar 0,68 persen, dan tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) Juli 2024 sebesar 0,37 persen.
Baca juga: BI Kalteng terus perkuat kebersamaan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui Pesona Tambun Bungai
Baca juga: Ratusan guru di Kotim mendapat edukasi cinta bangga paham rupiah
Baca juga: BI sebut inflasi 2024 Kalteng masih sesuai target nasional
Pewarta : Jaya Wirawana Manurung
Editor : Muhammad Arif Hidayat
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Nusantara Halid dan Grand Seleron Investama investasi pabrik truk tistrik di Indonesia
17 April 2026 19:08 WIB
Aksi cepat mahasiswa FH UI diapresiasi Komisi III DPR terkait dugaan kekerasan seksual
15 April 2026 15:46 WIB
100 mahasiswa UMPR perkuat literasi keuangan lewat kuliah umum Bank Indonesia
14 April 2026 17:56 WIB
Terpopuler - Prov. Kalimantan Tengah
Lihat Juga
Ketua Komisi III DPRD Kalteng dorong penguatan RS daerah tekan rujukan ke provinsi
17 April 2026 17:14 WIB
Gubernur Kalteng dan Kalsel bertemu di Palangka Raya, sinergi pacu pembangunan
16 April 2026 17:20 WIB
Polda Kalteng ringkus dua tersangka pengedar dengan 3 kg sabu dan 400 ekstasi
16 April 2026 6:30 WIB