Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah terus berkomitmen meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) tingkat kabupaten yang digelar di atrium mal setempat.
“Gemarikan bertujuan mempercepat peningkatan konsumsi ikan nasional sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Karena ikan merupakan sumber nutrisi yang luar biasa yang secara langsung berkontribusi pada perkembangan fisik dan kognitif manusia,” kata Wakil Bupati Kotim Irawati di Sampit, Rabu.
Hal ini ia sampaikan saat membuka kegiatan Gemarikan yang mengusung tema Protein Ikan untuk Generasi Emas. Dalam pelaksanaannya, Dinas Perikanan Kotim menggandeng Bunda PAUD Kotim untuk menyasar anak-anak usia dini.
Irawati menyampaikan, bahwa Gemarikan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya strategis untuk mempercepat peningkatan konsumsi ikan nasional. Menurutnya, pemenuhan gizi melalui ikan adalah kunci dalam membangun masyarakat yang sehat dan cerdas.
“Konsumsi ikan berperan penting dalam meningkatkan kesehatan dan kecerdasan di semua kelompok usia. Dengan membudayakan makan ikan, kita secara otomatis melakukan pencegahan penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, stroke dan tekanan darah tinggi," ujarnya
Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan pengolahan serta mendorong peningkatan konsumsi ikan di masyarakat.
Peran serta masyarakat untuk sadar akan gemar makan ikan sehingga menjadi budaya akan mampu menciptakan pola hidup sehat yang dengan sendirinya telah melakukan pencegahan dan penanggulangan berbagai penyakit, karena ikan mengandung kadar lemak yang rendah non kolesterol.
Disamping itu, Bunda PAUD juga dinilai mempunyai peran yang sangat penting dalam menularkan pengetahuan dan keterampilan pengolahan ikan kepada lingkungan sekitar.
“Kami berharap melalui kerja sama ini, masyarakat Kotim yang sehat, tangguh, cerdas, dan berdaya saing dapat segera terwujud. Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat agar memulai hidup sehat dengan gemar makan ikan,” demikian Irawati.
Baca juga: Satgas Anti Premanisme datangi sejumlah SPBU di Sampit
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kotim Ahmad Sarwo Oboi menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan Dinas Perikanan yang telah dialokasikan anggarannya.
“Ini menjadi agenda rutin kami setiap tahun bersama dengan Bunda PAUD dengan menyasar sekolah-sekolah, khususnya TK. Harapan kami dengan adanya kegiatan ini menumbuhkan keinginan anak-anak untuk selalu konsumsi ikan yang sangat bermanfaat untuk tumbuh kembangnya,” tuturnya.
Ia melanjutkan, konsumsi ikan yang cukup juga dapat memenuhi kebutuhan gizi anak yang dapat mencegah terjadinya stunting, sehingga kegiatan Gemarikan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi dari Dinas Perikanan dalam pengentasan stunting di Kotim.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para orang tua, khususnya kaum ibu di Kotim, yang kini mulai sadar akan pentingnya nutrisi ikan. Berdasarkan pantauan di lapangan, kesadaran orang tua untuk menjadikan ikan sebagai menu utama sehari-hari semakin meningkat.
Selain fokus pada aspek kesehatan anak, gerakan ini juga berdampak positif pada sektor ekonomi kelautan dan budidaya ikan. Dengan semakin banyak permintaan terhadap ikan, maka akan memberikan gairah baru bagi para nelayan dan pembudidaya ikan lokal untuk meningkatkan hasil produksinya.
Kondisi ini diharapkan mampu memutar roda ekonomi kerakyatan, sehingga sektor perikanan tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi pilar kesejahteraan bagi para pelaku usahanya di Kotim.
“Ikan adalah komoditas dengan protein tinggi yang sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak. Dengan adanya gerakan ini, permintaan masyarakat terhadap ikan akan meningkat, yang secara otomatis akan mendongkrak produksi perikanan di Kotim,” demikian Oboi.
Baca juga: PDIP bertekad pertahankan elektabilitas di Kotim
Baca juga: Tujuh pos siap bantu kelancaran perayaan Nataru di Kotim
Baca juga: DAD Kotim siap terapkan hukum adat terkait perusakan lingkungan