Sampit (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah memimpin tim terpadu mendatangi kawasan belakang bekas Gedung Bioskop Golden Theater atau eks Golden yang terkenal rawan aktivitas terkait narkoba.
“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan kami sebelumnya, pada 1 Desember 2025. Kami akan turun langsung ke lapangan di belakang eks Golden. Alhamdulillah, hari ini terlaksana dengan melibatkan seluruh unsur terkait,” kata Kepala BNNK Kotim AKBP Muhamad Fadli di Sampit, Senin.
Kegiatan dipusatkan Mushola Baitul Maghfiroh, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Selain sosialisasi, kegiatan juga disertai penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh peserta yang hadir.
Kegiatan ini melibatkan antara lain, DPRD Kotim, Bagian Hukum Setda Kotim, Satres Narkoba Polres Kotim, Kodim 1015/Sampit, Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN), Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim dan Kejari Kotim dan masyarakat setempat.
Fadli menjelaskan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi persiapan operasi pemulihan kawasan rawan narkoba di Kotim yang digelar di gedung DPRD Kotim pada awal Desember 2025.
Agenda utama dari kegiatan ini adalah sosialisasi terhadap masyarakat setempat mengenai rencana ke depannya pemerintah bersama aparat penegak hukum, untuk memulihkan kawasan belakang eks Golden yang terkenal rawan transaksi narkoba.
“Tujuan dari kegiatan ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pemerintah ada di mana-mana untuk membantu masyarakat, termasuk dalam penegakan hukum berkaitan dengan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba,” sebutnya.
Baca juga: Dekranasda Kotim gali potensi pelajar lewat lomba ecoprint
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menyerap aspirasi masyarakat setempat, melalui sesi tanya jawab mengenai tanggapan masyarakat tentang citra rawan narkoba yang disematkan di wilayah tersebut dan harapan dari masyarakat setempat.
Terungkap, walaupun masyarakat setempat terkesan cuek dengan adanya aktivitas jual beli narkoba di kawasan tersebut, tetapi sebenarnya mereka merasa sudah sangat diresahkan.
Tidak hanya mengganggu ketertiban dan ketentraman masyarakat, tetapi aktivitas jual beli narkoba di kawasan itu juga membuat citra negatif.
Warga bersikap cuek lantaran tidak ingin mengambil risiko, apalagi jika menyangkut keselamatan anggota keluarga masing-masing. Namun, sejatinya warga setempat mendambakan agar lingkungannya bersih dari narkoba.
“Dari dialog dengan warga juga kami baru tau, yang melakukan transaksi narkoba itu, baik sebagai pembeli maupun penjual itu mayoritasnya orang luar dari kawasan ini. Oknum-oknum tersebut sengaja memilih tempat ini karena banyak ruko yang kosong,” bebernya.
Baca juga: Lomba menyumpit kembali ramaikan Festival Budaya Habaring Hurung
Fadli juga menceritakan kejadian menarik saat tim terpadu tiba di lokasi untuk melakukan sosialisasi. Pasalnya, ada sekelompok warga yang tampak terkejut dan panik saat melihat rombongan petugas tersebut dan kemudian melarikan diri.
Saat itu personel kepolisian sempat berupaya menghentikan warga yang hendak melarikan diri, namun tidak berhasil. Gelagat mencurigakan ini memunculkan dugaan sekelompok warga tersebut terlibat dalam peredaran narkoba.
Dengan melihat langsung fakta di lapangan ini semakin memperkuat komitmen BNNK Kotim serta unsur terkait dalam melaksanakan Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di wilayah tersebut.
“Ini baru awal, ke depannya kami akan melaksanakan juga kegiatan yang sama dan rencana kami sesuai dengan aspirasi masyarakat, kami akan membangun pos terpadu yang diisi aparat kepolisian, TNI, tokoh adat, tokoh masyarakat dan lainnya, termasuk BNNK,” tandasnya.
Sementara itu, salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, mengaku memang kerap diresahkan dengan adanya transaksi narkoba di wilayah tersebut.
Apalagi, menurutnya oknum tersebut seringkali beraktivitas di malam hari di sekitar rumahnya dan membuat kebisingan yang tentunya sangat mengganggu.
Namun, di sisi lain warga juga tidak berani bertindak atau menegur secara langsung, karena khawatir mendapat intimidasi dan mengancam keselamatan anggota keluarganya.
Kasat Narkoba Polres Kotim AKP Suherman mengungkap, kawasan eks Golden telah lama menjadi pusat perhatian karena seringnya pengungkapan kasus di lokasi tersebut.
“Kami sudah beberapa kali melakukan pengungkapan kasus narkoba yang TKP nya berada di belakang eks Golden ini, ada juga yang TKP nya di luar tapi asal barangnya dari belakang eks Golden,” ungkapnya.
Menurut Suherman, lokasi eks Golden menjadi magnet transaksi narkoba karena letaknya yang sangat strategis di tengah Kota Sampit dan dekat dengan area pasar.
Berdasarkan hasil tangkapan selama ini, para pelaku yang terlibat berasal dari latar belakang beragam, baik warga asli setempat maupun pendatang dari luar daerah.
Baca juga: Diskan Kotim bentuk tim terpadu penanganan buaya
Baca juga: DPKP Kotim: Drone pertanian dari Kementan bantu efisiensi kerja di lapangan
Baca juga: Riuh suara penonton warnai kemeriahan mangaruhi dalam FBHH Kotim 2026