Logo Header Antaranews Kalteng

Jasa permak pakaian di Sampit diserbu warga jelang Lebaran

Selasa, 17 Maret 2026 16:37 WIB
Image Print
Penjahit di sampit kebanjiran orderan jelang Hari Raya Idul Fitri, Selasa (17/3/2026). ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Mendekati perayaan Hari Raya Idul Fitri, jasa permak pakaian di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah diserbu warga yang ingin tampil sempurna dengan busana Lebaran.

"Alhamdulillah, tahun ini kelihatannya meningkat dari tahun lalu. Sampai sekarang pesanan sudah naik sekitar tiga kali lipat dari hari biasanya," kata salah seorang penjahit Arif di Sampit, Selasa.

Arif yang bekerja sebagai penjahit di toko Al-Ghousti Komplek Pasar Berdikari Sampit ini menyebutkan, lonjakan permintaan ini membuat para penjahit harus bekerja ekstra keras guna memastikan pesanan selesai tepat waktu sebelum hari kemenangan tiba.

Bahkan menurutnya, sejak memasuki sepuluh hari pertama Ramadhan, volume pekerjaan di bengkel jahitnya meningkat tajam hingga tiga kali lipat dibandingkan hari-hari biasanya.

Guna mengejar target penyelesaian, Arif dan dua rekannya terpaksa menambah jam operasional secara drastis. Jika biasanya toko tutup pada pukul 21.00 WIB, kini mereka kerap terjaga hingga dini hari demi menuntaskan tumpukan pakaian pelanggan.

"Memang biasanya kami buka sampai malam, tapi karena orderan banyak, kadang kami lembur. Seperti malam tadi, kami kerjakan sampai subuh," ungkap Arif.

Menariknya, mayoritas pelanggan yang datang merupakan mereka yang baru saja membeli pakaian secara daring (online). Karena tidak bisa mencoba langsung saat membeli, banyak konsumen yang mendapati ukuran baju mereka tidak pas saat paket tiba di rumah.

Selain jasa permak, ia juga melayani pembuatan seragam keluarga atau baju sarimbit yang kini tengah menjadi tren.

Terkait biaya, Arif mematok harga yang cukup terjangkau bagi kantong masyarakat Sampit. Jasa permak celana dibanderol Rp15.000 hingga Rp20.000, sementara untuk pakaian yang lebih rumit seperti gamis dan dress dikenakan biaya antara Rp20.000 hingga Rp40.000.

Baca juga: ASN Kotim dilarang mudik pakai kendaraan dinas

"Sekitar 80 persen konsumen cerita, mereka beli baju secara online dari luar daerah. Karena tidak bisa dicoba, dan setelah sampai, ternyata ukurannya tidak pas, makanya dipermak," terangnya.

Hal serupa dirasakan penjahit lainnya bernama Diana. Meskipun keuntungan meningkat drastis, ia memilih membatasi penerimaan orderan baru untuk menjaga kualitas jahitan.

Walau kewalahan, Diana mensyukuri rezeki musiman yang selalu datang setiap tahun menjelang hari raya. Namun, ia menyadari bahwa kesehatan fisik tetap menjadi prioritas utama di tengah padatnya jadwal menjahit.

"Memang bulan Ramadhan ini membawa berkah bagi kami penjahit. Tapi tetap harus menyesuaikan dengan kemampuan fisik juga, tidak mungkin semua orderan diterima karena takutnya malah keteteran," demikian Diana.

Baca juga: Berdayakan UMKM, Hipmi Kotim bagikan 500 gelas kopi lokal saat Safari Ramadhan

Baca juga: Seorang motoris longboat di Kotim dilarang beroperasi karena terindikasi positif narkoba

Baca juga: DPRD Kotim minta Disdamkarmat siaga penuh saat momen libur Lebaran



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026