Sampit (ANTARA) - Lomba menyumpit kembali digelar setelah dua tahun absen pada agenda Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang dilaksanakan pada 7-14 Januari 2026.

“Walau sempat absen dari ajang FBHH, tapi minat terhadap lomba menyumpit ini masih cukup tinggi. Total 29 peserta yang terdiri dari 20 putra dan 9 putri, kemungkinan bisa lebih banyak tapi karena lomba tahun ini tergolong mendadak jadi hanya itu, tapi itu juga lumayan,” kata Koordinator Lomba Menyumpit Apriyanto N. Sawung di Sampit, Sabtu.

Apriyanto yang juga aktif dalam komunitas menyumpit menjelaskan, kembalinya cabang lomba ini menjadi angin segar bagi pelestarian budaya suku Dayak. Meskipun persiapan tahun ini terbilang mendadak, antusiasme peserta tetap terjaga.

Pesertanya berasal dari berbagai kecamatan di Kotim, paling banyak dari Telaga Antang dan sekitaran Kota Sampit. Untuk saat ini kategori lomba masih bersifat umum, namun tahun depan kami berencana membaginya berdasarkan kelas usia.

“Untuk cara penilaiannya cukup sederhana, yani berdasarkan sistem poin dengan target lingkaran yang dibagi menjadi beberapa zona nilai, di mana anak sumpit yang mengenai zona merah atau tengah mendapatkan poin tertinggi,” ujarnya.

Apriyanto melanjutkan, menyumpit atau menggunakan sipet bukan sekadar olahraga bagi suku Dayak, tetapi memiliki makna yang cukup mendalam.

Baca juga: Bupati Kotim apresiasi PT BGA Group tampilkan produk binaan lokal di Sampit Expo

Secara historis, alat tradisional ini digunakan untuk bertahan hidup dengan berburu hewan di hutan. Sedangkan, dalam sisi yang lebih sakral, alat ini juga digunakan dalam upacara adat, seperti ritual tolak bala.

“Di daerah hulu, kawan-kawan kita masih aktif menggunakan sipet untuk berburu. Sementara di perkotaan, alat ini kini lebih banyak difungsikan sebagai sarana prestasi dan lomba,” tambahnya.

Melihat minat masyarakat yang cukup tinggi pada lomba menyumpit, Apriyanto berharap olahraga tradisional ini dapat dikembangkan sejak usia dini melalui jalur pendidikan. Dengan begitu pelestarian warisan leluhur bisa terus dilanjutkan dengan melibatkan generasi muda.

“Harapannya kegiatan seperti ini diperbanyak. Kalau bisa, menyumpit dijadikan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah mulai dari SD hingga SMA. Jadi pelestarian budaya kita bukan hanya lawang sakepeng, balogo, atau bagasing saja, tapi menyumpit juga harus kuat dari akar rumput,” pungkasnya.

Semangat pelestarian ini juga dirasakan oleh para peserta, salah satunya Lilis. Bagi Lilis, kerinduan akan lomba ini membuatnya kembali turun gelanggang meski sudah lama tidak berlatih akibat absennya lomba selama dua tahun terakhir.

“Motivasi saya adalah supaya kebudayaan kita tidak hilang. Karena dua tahun terakhir tidak ada lomba ini, saya jadi jarang latihan. Tapi begitu ada event, kami semua semangat untuk turun lagi,” ujar Lilis.

Baca juga: Bupati optimistis perputaran uang di Sampit Expo 2026 capai target

Baca juga: Lawang Sakepeng simbol tekad menjaga nilai adat Dayak di tengah modernisasi

Baca juga: Kapolres Kotim imbau masyarakat waspada penipuan berkedok E-Tilang